Selasa, 13 Juli 2010 00.52
when your letter is being answered
"Ryan, mereka berdua ingin berkencan denganmu,"
"Apa?"
"Tillens... dan uhm, Cevalier. Mereka yang menang award kemarin, jadi siapkan dirimu besok malam ya?"
"Apa?"
"Til-lens-dan-Ce-va-li-er-me-na—"
"...cukup. Aku belum tuli."
Tapi setelah itu kepalanya jadi sakit sekali... mendengar pemberitahuan itu seolah terserang PMS secara mendadak, membuat seluruh mood Charlotte berubah buruk dalam sekejap.
Membayangkan harus berkencan (atau apapun yang mereka bungkus dengan satu kata itu:
kencan—blah!) dengan dua bocah yang bahkan tak pernah ia ingat wajahnya membuat perutnya mual seperti kuali yang diaduk. Nafsu makannya jadi hilang malam itu, dan ia jadi semakin malas untuk mengedarkan pandangan tiap-tiap kali merasa bosan—tak mau melihat siapapun itu yang bernama Tillens dan Cevalier—takut bocah-bocah itu ternyata lelaki berleleran ingus atau mukanya ladang jerawat. Charlotte mungkin berlebihan, tapi tak pernah melakukan kegiatan bertajuk 'kencan' dengan siapapun sebelumnya menjadi alasan utama gadis itu berubah sewot. Setelah ciuman pertamanya terjadi secara tak sengaja di depan banyak orang, masa kini kencan pertamanya harus dengan dua bocah tak dikenal?
Salahmu sendiri... Kau telah menyetujui semua ini sebelumnya dan bukan hakmu untuk menolak.'Tapi kukira bukan aku
yang harus berkencan...'
Ia terus-menerus mengeluh dalam hati ketika kaki-kaki jenjangnya melangkah meninggalkan Ruang Rekreasi Slyherin yang cukup ramai, senyum masamnya terkembang muram setiap kali tatapan keheranan orang-orang tertuju ke arahnya. Merapatkan jubah hitam-Slytherinnya rapat-rapat, mencoba mengabaikan tatapan dan pertanyaan tiap-tiap yang berpapasan, gadis empat belas tahun berambut gelap sepunggung itu menunduk kecil hingga akhirnya langkahnya sampai di undakan menara yang melingkar ke atas. Ia tahu mengapa banyak pasang mata menoleh ke arahnya malam ini; mungkin mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya malam-malam dengan sebuah
gaun putih yang (meskipun sangat-sangat sederhana) bukan merupakan kostum yang tepat untuk pergi tidur.
Tapi moodnya begitu buruk sampai rasa-rasanya senyumnya hambar seperti hantu. Bahkan ketika ia bertemu dengan Czechkinsky yang sama-sama hendak ke atas, yang dilakukannya tak lebih dari diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya yang terkatup dengan sempurna. Tangannya menelusup ke dalam jubah, memelintir kecil tongkat sihir yang secara kebetulan tersimpan di dalamnya. Ia baru mengangkat wajah ketika angin malam musim semi menerpa wajahnya yang langsung kaku. Mengerjap pelan untuk mencerna... kelopak matanya melebar begitu retinanya menangkap Ilia Kishlef dan seonggok sampah di atas meja.
"Akan jadi kencan yang indah bukan?"Berhenti tak jauh dari pintu, Charlotte dengan kedua alisnya yang tertaut menolehkan kepalanya menatap Czechkinsky sekilas minta penjelasan. Tapi tahu tak ada yang pemuda itu bisa sampaikan... mereka sama-sama baru datang. Jadi ia kembali menatap Kishlef, juga sebuah bom kotoran dengan sumbu di atas meja—bertanya-tanya dalam hati bukankah seharusnya pemuda itu menyiapkan makanan dan semuanya. Ia paham Ilia Kishlef tak semudah itu menurut ketika disuruh jadi pelayan... egoisme tingkat tinggi—ciri khas Slytherin. Tapi mencoba mengacau di saat perasaannya amat sangat buruk seperti ini juga bukan tindakan yang dihalalkan. Dan ia tak yakin Kishlef tak bisa diperingatkan baik-baik, meminta maaf dan menyiapkan makanan, lalu membiarkan semuanya berjalan lancar seperti biasanya, jadi jangan salahkan gadis itu jika semua berjalan tak sesuai seperti yang diinginkan si pemuda Yahudi di hadapan.
"Aku tak tahu apa yang kau inginkan, Kishlef. Tapi aku tak bisa membiarkanmu mengacaukan segalanya. Kau tahu, aku lelah-selelah-lelahnya, dan kehadiranmu hanya membuat semuanya makin kacau," Charlotte berkata dengan sedikit jengkel, melepas jubahnya dan menyampirkannya di sandaran kursi terdekat. Ia tentu harus sedikit berjalan untuk melakukan itu. Lalu menarik sesuatu dari saku jubahnya yang terkulai lemas. Satu Stupefy verbal, tongkatnya teracung tepat ke arah Kishlef. Entah kena atau Kishlef terlalu gesit untuk menghindar. Yang pasti, Charlotte ingin semua berjalan lancar dan malam ini selesai secepat mungkin.
Sehingga ia bisa tidur... perkara apakah Kishlef akan marah atau tidak, akan ia urus keesokan harinya.