Sabtu, 30 Januari 2010 07.43
Kelas 4 - Semua Asrama (Herbologi) / IV
Kenyataannya ia sedang berusaha mati-matian menahan nafasnya sekuat yang ia bisa sesering mungkin, memalingkan wajah terus menerus hanya agar ia bisa menatap gerumbulan pohon jauh di luar alih-alih nanah yang kini sedang mengucur ke baskom yang sedang dipegangnya. Bau bensin yang memenuhi udara jadi begitu pekat, menyebar dari banyak nanah membentuk koloni yang membuat siapapun yang menciumnya menahan nafas—dengan tak adanya sirkulasi angin ke luar karena rumah kaca (yang meskipun semuanya dari kaca) tak berjendela, aroma memusingkan yang terakumulasi membuat perutnya bergolak-golak aneh sejak tadi.
"Mmhm..." gumamnya sambil tersenyum tipis yang sangat samar, mengangguk kecil menanggapi pertanyaan Czechkinsky tentang nanah yang tak baik bagi kulit sebelum diolah. Apa-apa yang keluar dari mulut mereka tak lagi enak untuk dijadikan bahan pembicaraan, setelah semua topik berbicara tentang nanah—dan Bubotuber—kalimat-kalimat mereka jadi sedikit hambar dan nafsu mengobrol seolah lenyap tanpa tersisa. Padahal di kelas pertama mereka setelah Pesta Awal Tahun ini ada banyak yang ingin ia tanyakan pada sang partner. Jose Dawne berhasil menggagalkan usahanya untuk bertanya perihal pasca 'liburan' mereka ke Prater, dan apakah orang tua atau siapapun yang menunggu pemuda itu musim panas lalu berhasil menggantungnya atau tidak.
Charlotte masih sedikit bersalah, ngomong-ngomong. Dosanyalah Czechkinsky harus dengan terpaksa membatalkan apapun itu yang akan dilakukannya waktu itu dan harus menelan kenyataan pahit dengan pulang keesokan harinya setelah 'diculik' jauh ke luar Inggris.
Tapi tentu, kelas Herbologi yang seperti
ini bukan tempat yang kondusif untuk berbincang. Selain karena Charlotte memang sudah tak niat, partnernya sedang berkonsentrasi pada bisul bernanah si Bubotuber. Mereka berada di perahu yang sama sekarang, dan mendayung ke tujuan yang sama: selesai secepat mungkin dan bebas dari semua nanah—dan yang harus dilakukannya hanya diam memegang nampan. Pandangan matanya teralih sejenak ketika sebuah sapu tangan disodorkan di depan matanya. Mengalihkan lagi ke wajah Czechkinsky kemudian menautkan alis, satu tangannya yang terulur mengambil alih sapu tangan dari pemuda di depannya.
"Trims," ia berbisik kecil kemudian tersenyum simpul, membekapkan sapu tangan menutupi hidung dan mulutnya, dapat ia rasakan bau khas Miloslav Czechkinsky memenuhi udara yang ia hirup. Sebagai bentuk bahwa ia menghargai kebaikan hati si pemuda Gryffindor, padahal selembar sapu tangan sewarna salem dengan sulaman 'CDR' di pojoknya tersimpan rapih di saku jubah.
Ada jeda sesaat ketika tiba-tiba saja otaknya
blank. Mengernyit hebat, satu bunyi 'SROOT' lain membuat Charlotte refleks menekankan sapu tangannya lebih kuat. Mendesah untuk entah ke berapa kali, mengerjapkan matanya yang mulai berair, lengkung alis matanya melandai ketika manik cokelat terang gadis itu mengerling Czechkinsky. Menyipit kecil, raut wajahnya sudah seperti orang ingin menangis.
"Ada lagi?" tanyanya, sedikit putus asa.