Sabtu, 30 Januari 2010 07.43
Meja Ravenclaw / III
Charlotte Demelza Ryan terlahir dan dibesarkan sebagai seorang gadis berperilaku dingin, dengan penampilan yang mendukung, wajah lancip dan mata almondnya tak pernah mengguratkan keramahan. Meski terlahir dari dua bibit orang-orang selatan—Sisilia—yang terkenal ramah pada keluarga sendiri dan berpikiran primitif, lahir dan dibesarkan di pinggir pantai di Waterloo tak membuatnya mewarisi sikap murah senyum kedua orang tuanya. Garis-garis wajahnya hampir tegas meski jauh dari kesan maskulin, sorot matanya teduh namun tanpa kehangatan, dan ulasan bibirnya tak jauh-jauh dari tersenyum tipis sekedar formalitas.
Namun empat tahun di Hogwarts sekiranya membuat beberapa perubahan. Charlotte jadi lebih toleran pada beberapa orang. Otot-otot pipinya jadi sedikit lebih kendur dan ia jadi begitu sering tersenyum dibanding waktu-waktu lain di hidupnya. Sedikit lebih banyak bicara; mengabaikan beberapa fakta; usil hanya untuk melepas penat; dan yang lebih mengejutkan, tanpa malu-malu menunjukkan kalau ia mengasihi beberapa orang—bagai gadis bodoh dengan keran air mata yang hati lembutnya seperti sutra. Charlotte tak memungkiri bahwa setiap manusia memiliki perasaan, dan ia sebagai manusia tentu bukannya tak punya hati. Tapi biasanya ia pandai menyembunyikan itu, topengnya terpasang sempurna dan perannya dimainkan dengan lihai.
Sebut saja Dylan Klebold, Bradley Crook, Agrippina Proust, Blake Guillory, Christabel Vittore, Miloslav Czechkinsky—dan segelintir orang di mana di depan mereka sebagian topengnya lumer bagai mencair; orang-orang yang cukup ia
percaya. Meski tak pernah sedikit pun celah menuju kehidupannya tersingkap untuk dimasuki. Ia mengerti betul apa itu hukum
Omerta, dan karenanya ia menjaga jarak.
Kini di depannya seorang bocah sedang mencoba bermain-main, dan bocah itu membuat hampir seluruh perhatiannya tersita.
"Hmm, sebenarnya hargaku sangat mahal. Sanggup bayar?" Lengkung alisnya yang menukik terangkat sempurna ketika ia mendengar kata-kata si bocah, bibirnya mengeluarkan dengusan. Ada ekspresi tak percaya yang bisa diterjemahkan dari raut wajahnya yang terpeta dengan jelas. Harganya sangat mahal, katanya, bocah itu. Lalu dia bertanya pada seorang Charlotte Demelza Ryan apa
dia sanggup bayar meski hanya untuk mengembalikan seekor anjing yang bahkan milik
nya.
Pffftt...Ada nada main-main yang jelas terdengar, dikemas dengan cantik oleh kepribadian bocah itu menjadi sesuatu yang angkuh dan berharga diri tinggi. Tapi begitu juga Charlotte, ia takkan membalas si lelucon dengan sesuatu yang mengundang gelak tawa. Kau mengenalnya, kau tahu kepribadiannya. Maka jangan heran ketika ia kemudian tersenyum timpang, menurunkan lengannya yang bersidekap untuk berjalan mengitari meja—Puji Tuhan mereka ada di barisan paling ujung—dan duduk tepat di hadapan bocah itu. Mereka terhalang lebar meja sekarang, tapi kelopak matanya yang menyipit-nyipit masih bisa dengan jelas melihat ekor si anjing yang mengibas. Mempertahankan raut wajahnya tetap keras, kedua tangan gadis itu bertumpu pada meja untuk kemudian jadi penyangga wajahnya yang berpura-pura.
Ia tak bisa memungkiri kalau bocah ini membuatnya tertarik, hampir mirip hubungannya dengan Bradley—ada toleransi kecil yang membuatnya tak menarik-pakai-mantra si anjing dan menatap bocah itu dengan tajam. Charlotte jadi seperti punya mainan. Menyadari Bradley Crook terlalu tua untuk dipakaikan baju-baju wanita dan 'adik'-nya itu kini sibuk dengan urusan-urusan pra-puber, bukan salahnya kalau kini ia mencari 'mainan baru'.
"Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan membayarmu dengan hargamu yang
katanya begitu mahal?" tanyanya, tatapannya seperti menaksir kuda belian. Charlotte mendengus, "Kau lelaki bayaran rupanya." kemudian melanjutkan. Nada menyindir begitu kentara di setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya yang merah muda. Benar-benar terkesan dengan cara bocah ini membuat dirinya merasa 'di atas'—meski bukan dalam konteks positif.
"Berapa harga yang harus kubayar, hm? Apa kau bisa sekalian dibeli?"
Itu... ada nada geli di kalimatnya yang terakhir.