Sabtu, 30 Januari 2010 07.43
Dua / I
Meski kekalahan ini bukan yang pertama sejak ia menyetujui untuk jadi Seeker Tim Quidditch Slytherin, Charlotte tak bisa mungkir kalau
sekali lagi kehilangan kesempatan menggenggam Snitch di pertandingan membuatnya amat sangat terpukul. Dapat ia lihat dengan jelas tatapan menyalahkan Tequilla Sirius ketika mereka turun dari sapu beberapa hari lalu, penyesalannya yang kentara dan kemarahannya yang terpendam—sama sekali tak bisa ia abaikan hingga terus membayangi pandangannya bahkan saat tidur. Charlotte tahu ini tahun terakhir Ketua Murid Pirang itu, tapi ia cukup egois untuk tidak merasa bersalah karena meloloskan satu-satunya kesempatan Sirius mendapat piala. Penegasan akan ketidakberdayaannya lah yang membuatnya menyesal tak henti-henti.
Annika Diaconu cukup tangguh untuk jadi seorang Seeker, dan Charlotte telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk mencari celah di udara, berusaha memanfaatkan sebaik mungkin kelemahan si gadis; tapi tak pernah ia duga Light Thanatos yang akan jadi lawannya pertandingan kemarin melawan Ravenclaw. Kegesitan pemuda itu sebagai Chaser telah memecundanginya habis-habisan. Charlotte dengan kemarahan yang tak terkontrol memacu sapunya bagai kesetanan. Tapi satu yang tak pernah bisa ia pelajari dari mendiang Ayahnya terkait pengendalian emosi adalah, kemarahan takkan membuatmu mendapatkan segalanya.
Vendetta tak bisa dilakukan dengan membabi-buta.
Jadi ia harus terima ketika Thanatos memenangkan pertandingan untuk Ravenclaw. Diiringi perasaan menyesal yang terus berdenyut selama beberapa hari, gadis berambut cokelat gelap itu, sekali lagi, melempar jauh pandangannya ke batas Danau Hitam yang tak terlihat hanya untuk menghilangkan bayangan Tequilla Sirius dari benaknya. Ia menghela nafas beberapa kali, menekankan belakang kepalanya yang bersandar ke batang pohon. Jubah hitam berliskan hijau-Slytherinnya berdesir menyapu rerumputan setiap kali angin berhembus, yang juga menggoyangkan anak-anak rambut ikalnya menutupi wajah.
Sekoloni burung hantu yang bolak-balik keluar-masuk Kandang Burung Hantu di Menara masih tak mampu membuat pandangannya terfokus. Menganggap semua masalah yang membebani benaknya akan menguap sedikit semi sedikit, Charlotte tak mencoba apapun untuk menghilangkan mimpi-mimpi buruknya. Tak ada lagi sisa pertandingan yang harus diikutinya tahun ini, dan apakah tahun depan ia masih akan terbang, semua masih dipertimbangkan. Jemarinya menimang selinting kertas putih berisi tembakau yang akan dihisapnya kalau perlu.
Setengah melamun, Charlotte sedikit bersumpah dalam hati akan mengikuti apapun bahkan hal paling konyol yang mungkin akan menimpanya hari ini. Ia benar-benar 'kosong', hampir hancur, bosan, dan muak akan diri sendiri. Tapi kalaupun ia ingkar...
...takkan ada yang tahu.
Smirks