Sabtu, 30 Januari 2010 07.41
Transfigurasi Kelas 4
Transfigurasi, jam pertama setelah sarapan.
Ia menyeka saus terakhir yang mampir di bawah bibirnya sembari berjalan menuju lantai lima, menghabiskan waktunya melewati kodidor-koridor dengan melakukan hal-hal remeh macam mengeratkan dasi dan menepuk-nepuk jubah. Dua potong sandwich daging asap dan sepiala penuh jus jeruk telah mengisi perutnya yang sedikit keroncongan, membuat gadis yang sudah bangun sejak pukul lima tadi subuh itu sedikit mengantuk. Ia menelengkan kepalanya ke arah lukisan-lukisan hanya agar punya kerjaan, mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke baju-baju zirah agar tidak bosan. Langkahnya bercampur dengan banyak kaki lain ketika ia melewati koridor demi koridor, berbelok ke tikungan demi tikungan. Matanya sedikit bermain ketika ia menemukan beberapa yang dikenalnya; tersenyum tipis formalitas pada sebagian, namun selewat saja ke lebih banyak.
Pelajaran pertama hari ini Transfigurasi dengan Hufflepuff, Gryffindor, dan Ravenclaw, dan Charlotte benar-benar berharap dua jam pertamanya bersama Profesor McGonagall bisa mulus dan lancar tanpa ada nanah atau apapun yang harus dipencetinya dan membuatnya mual. Inilah alasan mengapa ia lebih suka Transfigurasi—dan Mantra juga Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—menghafal mantra seribu kali lebih menguntungkan baginya daripada harus ikut campur mengaduk kuali dan mengurus tanaman. Meski melambaikan tongkat tak semudah kelihatannya, setidaknya kau takkan mual-mual bahkan sampai muntah jika mantramu gagal atau apa.
Paling-paling bulumu terbakar hangus alih-alih terbang, dan bulu baru akan menyelesaikan segalanya. Mudah kan? Charlotte tipe-tipe orang yang praktis, Tuan. Untuk itulah ia masih bertahan di sekolah ini untuk mempelajari mantra-mantra sihir.
Charlotte meletakkan buku-buku yang didekapnya begitu ia sampai. Belum banyak murid yang ia tangkap sudah sampai di ruangan. Profesor McGonagall datang dengan terburu dan melambaikan tongkat ke papan tulis tepat ketika ia duduk, memindahkan beban tubuhnya di sandaran kursi, bola matanya yang cokelat terang tanpa jeda memerhatikan penjelasan sang pengajar tentang apa yang harus mereka lakukan: mengubah Guinea Fow menjadi Guinea Pig—Switching Spell untuk materi kelas lima. Katanya, Switching Spell digunakan untuk mengubah suatu benda menjadi benda lain yang biasanya terdapat kemiripan, membuat Charlotte mengangkat alis sembari menatap bayi Guinea Fow di kandang di hadapannya yang tak lebih besar dari tangkupan orang dewasa.
Si ayam berciap-ciap heboh mengelilingi kandang yang sempit, membuat keributan—namun bukan itu yang menjadi masalah. Pertanyaannya, sejak kapan ada kemiripan antara Guinea Fowl dan Guinea Pig selain nama mereka yang diawali dengan 'Guinea'? Unggas dan pengerat tentu tak bisa disamakan, dan sekedar nama setahu gadis itu tak termasuk dalam syarat-syarat Transfigurasi.
Tapi okelah, Profesor McGonagall kan lebih tahu. Jadi ia menarik tongkatnya, menegakkan tubuhnya. Tatapannya sedikit prihatin pada si unggas yang sebentar lagi akan berubah spesies, namun tak menemukan sedikit pun celah untuk mengambil pilihan lain, ia mengetuk pelan si sangkar yang langsung terbuka. Ada ciap-ciap ramai yang menyeruak bersamaan dengan si ayam, bola mata Charlotte sedikit melebar ketika ia dengan tergesa mengarahkan tongkatnya, berkonsentrasi membayangkan perubahan-perubahan yang
mungkin akan terjadi sebelum Guinea Fowl di depannya berubah menjadi Guinea Pig sepenuhnya.
Lalu langkah si ayam terhenti, dan dalam gerakan lambat bulu-bulu kipas yang menutupi tubuh sang unggas berganti menjadi bulu-bulu pendek yang langsung menempel pada kulit. Tubuhnya perlahan menyusut, mengganti sepasang kaki kurus panjang menjadi dua pasang berukuran mungil. Paruh ayam itu perlahan menghilang, digantikan sebuah hidung yang mengendus. Lalu ada mata, ekor, dan lain-lain—kemudian
plop! ciapan berisik tadi digantikan oleh cicit kecil ketakutan.
Charlotte mengernyit, mendekatkan wajahnya untuk melihat si Guinea Pig lebih dekat. Masih heran, sama sekali tak menemukan kesamaan antara
ayam dengan
tikus. Masa bodohlah, yang penting Transfigurasinya berhasil ini. Ia mengelus-ngelus kepala si hewan pengerat, kecil.
Guinea FowlGuinea Pig