Selasa, 13 Juli 2010 00.50
Nightmare Control Panel / IV
Maksudnya... Charlotte tak terima kalau ternyata ia dibandingkan dengan seorang...
lelaki. Ayahnya selalu mengagungkan gadis itu sebagai yang tercantik di Keluarga, dan kini seorang bocah bilang ia tak lebih baik dari seorang makhluk berjakun. Harga dirinya lumayan tersentil, penilaiannya di depan cermin selama bertahun-tahun tak pernah mengecewakannya dengan hasil yang negatif: wajahnya tampak baik-baik saja bahkan ketika kantung-kantung mata melingkari bawah matanya akibat insomnia—tak bisa ia bayangkan lelaki macam apa yang memikat seorang bocah seperti anak lelaki polos di depannya sampai dia menitikkan air mata begitu seolah akan tumpah ketika si 'Max' ini disinggung-singgung.
"Ibuku."Tapi lalu ada rona samar di pipinya ketika tahu ternyata 'Max' itu ibu si bocah. Dari rentetan nama yang disebutkan kemudian, dapat Charlotte simpulkan bahwa nama si anak ini berakhiran Compton. Ia nampak salah tingkah sekilas, berdeham-deham kecil sambil tersenyum simpul. Tangannya bergerak meraih toples dan menyodorkannya ke arah si bocah setelah cukup bisa mengendalikan diri. Paham bahwa seorang bocah (apalagi yang polos seperti si Compton ini) pasti mengidolakan ibunya jauh melebihi siapapun.
My Mother is my hero! Moto hidup mereka begitu mulia dan penuh kasih sayang. Ia sendiri menyayangi Mama-nya. Meski kenyataan bahwa wanita itu membuangnya tiga tahun terakhir begitu membuatnya kesal. Tapi yah... wajar kan? Justru kasih sayangnya yang memancing kemarahan itu, kalau tidak, mana ia peduli?
"Tiga atau lima, terserah kau mau berapa. Aku punya banyak," ujarnya, menunggu uluran toplesnya disambut. Jemarinya sudah mulai kesemutan.
"Bisa kutebak surat yang akan kau kirim untuk Ibumu, eh? Kau bisa pinjam burung hantuku kalau mau. Aku khawatir burung hantu sekolah tak lagi baik setelah diberi makan leci—tak ada burung hantu yang makan leci, Compton." Terdiam.
Menyadari betapa cerewet dan 'normal'nya gadis itu hari ini. Ia bertanya-tanya dalam hati.