Sabtu, 30 Januari 2010 07.44
Nightmare Control Panel / II
Dan ia benar-benar tak ada kerjaan ketika memutuskan untuk memulai percakapan dengan bocah berambut gelap di hadapannya. Pelajaran selanjutnya, Kelas Mantra, masih akan mulai satu jam lagi.
Punggungnya yang bersandar pada siku-siku lubang jendela semakin mantap ketika kedua lengannya bersidekap di depan dada; jenjang kakinya dengan dinding membentuk sudut yang sempurna hingga posisinya begitu cocok untuk bertahan cukup lama—karena memang itu yang ia maksudkan. Charlotte membuat dirinya begitu rileks dengan mengalihkan toples di tangannya ke jendela, diam saja ketika rambutnya diacak-acak angin, meski sesekali menggerakkan jemari untuk menghalaunya dari wajah. Ia memerhatikan ketika si bocah mendadak bergerak sedikit kaku. Ada senyum kecil yang terulas mendengar kata pertama yang keluar dari bibir bocah itu, tapi kata-kata selanjutnya membuatnya mendengus kecil—hampir tertawa.
"Aku tidak punya roti, tapi aku kenal kau.""Mengenalku takkan membuatmu punya roti, bocah. Aku bukan tukang roti," ujarnya, sedikit keheranan menyadari begitu banyak bocah yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini. Membuatnya berpikir mungkin sebentar lagi ia bisa jadi aktivis yang menyuarakan hak-hak anak kecil—bercanda. Kau tahu Charlotte tak sepengasih itu. "Tapi kau kenal aku, ya... Dan aku akan sangat terkesan untuk mendengar langsung pendapatmu tentangku."
"Bagaimana?"
Tapi ia serius, ngomong-ngomong. Pertanyaannya yang terakhir. Penasaran.