Sabtu, 30 Januari 2010 07.42
Meja Ravenclaw / II
...anjingnya milikku—omong kosong. Padahal tak pernah sedetik pun sejak kotak itu sampai, Charlotte pernah mengakui meski dalam hati bahwa anjing itu milik
nya. Hanya demi kemanusiaan dan kelangsungan hidup si anjing yang tak tahu apa-apa dan mabuk udara itulah, Charlotte akhirnya (dengan sedikit terpaksa karena masih kesal) mengakui anjing itu sebagai miliknya. Selain karena Gabriele pasti akan menggorok leher gadis itu sampai putus kalau ternyata si anjing nanti hilang (atau malah mati), anjing itu mungkin bisa jadi temannya. Tak ada manusia, peliharaan pun jadi—rite? Kenyataannya mereka lebih setia; dengan sedikit latihan, tak ada yang takkan mereka lakukan untukmu sebagai majikan. Setengah tahun masih akan berlalu, dan mungkin dalam jangka waktu sepanjang itu ia bisa melatih si Hushky untuk menggigit kepala Gabriele kalau nanti mereka bertemu.
Ia tersenyum masam sambil masih melirik si bocah Ravenclaw, manik cokelat terangnya hanya sekali beralih pada Pavarell yang sedang mengobrol dengan entah siapa jauh di ujung lain Meja Ravenclaw—mengingatkannya pada perbincangan singkat mereka di dekat danau. Kedua lengannya bersidekap di depan dada, ada jemari yang mengetuk-ngetuk dengan tak sabar. Bergerak ritmis seirama ujung pantofelnya yang menderap kecil di lantai. Charlotte sangat-sangat paham kalau ternyata si anjing masih gemetar (ia mengutuk Gabriele yang memaketkannya lewat udara, si sinting itu!), perjalanan selama berjam-jam tak ayal lagi membuatnya mabuk udara.
"Majikanmu galak ya? Ckck. Kasihan." Tapi bocah Ravenclaw itu... begitu kalemnya... seolah sosok Charlotte Demelza Ryan yang menjulang di belakangnya tak lebih dari sosok transparan hantu Hogwarts. Tak dipedulikan, lalu dibilang galak padahal jelas-jelas tak ada yang dilakukannya selain membebaskan makhluk malang itu dari kardus. Ada dengus kecil yang tercipta ketika si bocah Ravenclaw selesai berbincang dengan si anjing, bulu-bulu matanya yang lentik hampir bersatu ketika gadis itu menyipitkan mata. Kesal, hampir marah malah—mana pernah sebelumnya Charlotte dipermainkan seorang bocah dan seekor anjing kalau bukan saat ini?! Eksistensinya seolah diragukan, dan asal kau tahu, diabaikan termasuk satu dari sekian hal yang membuatnya bisa membenci orang lain.
Na ah,
that boy choosed—keputusan tepat untuk tak memalingkan wajah sama sekali pada orang yang mengajakmu bicara, Tuan, bahkan kalimatnya diawali dengan 'maaf'! Ingin sekali ia ucapkan 'maaf' kedua, satu pukulan medium pada kepala si bocah dengan sendok takkan membuat kepalanya bocor. Boleh dicoba?
"EHEM," ia berdeham pelan, lekuk bibirnya kini tinggal segaris. "Aku akan sangat menghargai kalau kau mau membujuk anjing itu untuk lepas darimu, bocah kecil. Dan mengembalikannya padaku, maka aku akan melupakan kalimatmu barusan yang telah mengataiku galak." satu lambaian lugas, tanpa cacat, menusuk jika si bocah masih termasuk tipe yang tahu diri. Kalimatnya seolah berteriak, 'HEI AKU DI SINI DAN ANJING ITU MILIKKU DAN AKU TIDAK GALAK!' Tipe 'halus'-nya, boleh dikata, mengingat sama sekali tak mungkin bagi Charlotte berlaku barbar di meja orang. Tapi sepasang sendok-garpu di atas piring begitu menggoda pandangannya untuk mencuri lirik; persiapan, jika ternyata bocah ini memang harus dijejali sendok agar bisa 'melirik'-nya—
—
hey, she's here. Dan
jangan pernah acuhkan dia. Dia tak suka.