Selasa, 13 Juli 2010 00.45
Nightmare Control Panel / III
Ia hanya penasaran... kau tahu, selentingan-selentingan buruk tentang dirinya membuat ia begitu ingin tahu tentang kemungkinan seseorang yang masih menganggapnya 'baik'. Semua dimulai ketika Tequilla Sirius mengatainya keturunan jalang di tahun kedua, lalu telinganya mulai kebal; berdengung-dengung aneh setiap kali persepsi buruk orang-orang hinggap ke telinganya bagai burung hering memangsa bangkai. Charlotte masih waras untuk berpendapat bahwa bocah kurus di depannya belum terkontaminasi oleh gosip. Selain karena dia Hufflepuff, mukanya bebas dosa. Meski ia tak pernah menyangka ternyata konsep 'polos tak jauh-jauh dari tolol' itu ternyata benar adanya (bukankah sudah ia bilang ia tak punya roti? Kenapa masih minta?
Swt), tak masalah, asal telinganya bisa beristirahat sedikit dari penat. Dari kata-kata yang begitu memuakkannya sampai membuat gadis itu hampir sakit.
Ia tak butuh pujian, Tuan. Hanya pengakuan, bahwa apa yang selama ini orang katakan tentangnya salah besar. Charlotte bahkan tak pernah bermain-main, dan ladang gosip bilang dia sundal tak laku.
"Kau cantik." Tapi ternyata bocah ini bijaksana juga. Charlotte tersenyum kecil mendengar kalimat si bocah yang tampak polos—dia jadi sedikit mirip Ayahnya. Selalu bilang Charlotte cantik minus ekspresi ketakutan yang jelas terpancar. Gadis itu begitu menghargainya... meski lumayan tersinggung menerima tatapan si bocah seolah ia makan orang, dan obrolan mereka hanya selingan kecil sebelum makan malam dan bocah itu pindah
basecamp ke perutnya—
"Tapi Max lebih cantik." —apalagi ketika
nampaknya ia dibandingkan dengan seorang lelaki. Kalau Charlotte tidak salah... nama Max begitu jarang dipakai wanita.
Kedua alis gadis itu lagi-lagi bertaut. Matanya yang seperti almond menyipit kecil, mencari petunjuk mungkin saja bocah itu kelainan—tapi tidak, dia benar-benar seperti baru dilahirkan ke dunia dan tak ada yang bisa ditelisik dari tatapan matanya... atau mungkin Charlotte yang kurang peka, ia sendiri tak mengerti. Tersenyum singkat tanda tak suka, ia mengedik ke arah si-toples-leci. Mengulum senyumnya masam.
"Aku tak punya roti, tapi manisan leci punya. Siapa tahu burung hantu suka?" Mengangkat bahu. "Siapa itu Max? Pacarmu?"
Laki-laki?