Selasa, 13 Juli 2010 01.16
Transfiguration OWL
“Bentz, Allen,” Puji Merlin bukan namanya yang dipanggil pertama! Seperti pelajaran-pelajaran lalu, kau tahu, giliran pertama selalu membuatnya gugup. Untunglah surnamenya diawali dengan huruf 'R'―Ryan―bukan 'B'―Bontade'―yang berarti gilirannya masih lama, dan ia tak harus berjalan-jalan gugup menuju ruang ujian dengan langkah seperti robot, muka ditekuk dan raut wajah seperti kanibal pemakan orang, yang belakangan ini sukses membuat beberapa orang bertanya padanya apa dia digigit zombie atau apa, karena penampilannya benar-benar berantakkan.
Ujian diakuinya membuat gadis itu stress. Lingkaran-lingkaran hitam membuat pelupuk matanya mirip panda, dan rambut gadis itu tak sehalus dulu; berantakkan dengan ikatan seadanya. Beberapa waktu ke belakang ia menghabiskan waktunya dengan (EHEM) belajar dan memusingkan apa-apa saja yang mungkin jadi bahan ujiannya... waktu itu sampai stress rasanya membayangkan mungkin saja seekor naga yang harus dihadapinya di ujian Pemeliharaan Satwa Gaib, tapi baru ia sadar beberapa waktu setelahnya bahwa tak ada satupun kelas pilihan yang dia ambil. Dan itu berarti pelajaran bermain satwa itu juga―yang membuatnya sedikit yakin kalau ujian telah membuatnya gila. Pikiran jadi kacau yang diikuti dengan segelintir siklus hidupnya.
Ia mengeluarkan cermin kecil dari saku jubahnya di sela-sela menunggu namanya dipanggil ujian Transfigurasi. Menghela nafas ketika dilihatnya warna kulitnya sedikit pucat.
"Ryan, Charlotte."Sebuah suara yang muncul tiba-tiba mengejutkan gadis itu. Charlotte tersentak sedikit, sebelum dengan buru-buru menyelipkan cerminnya ke saku jubah. Ia mengikuti seorang pengawas berwajah Asia yang rambutnya cokelat gelap―sama sepertinya―tak cukup tua untuk pernah bersekolah di Hogwarts beberapa tahun sebelum gadis Italia itu masuk. Ujian kali ini dijalaninya dengan setengah hati, karena selain ia sudah amat sangat lelah, tak ada hal cukup berbahaya macam Grindylow yang harus dihadapinya. Charlotte menyibakkan rambutnya dengan lesu begitu ia berada di hadapan si pengawas yang sedang mendiktekan instruksi. Kepalanya sedikit tertunduk, rautnya tanpa arti dan satu tumitnya mengetuk lantai dengan ritmis.
“Well, seperti yang kau lihat, hanya ada sebuah balok di sini. Yang harus kau lakukan adalah mengubahnya menjadi sesuatu yang bergerak dan hidup. Lalu ubah kembali menjadi benda mati yang tidak bernyawa. Dan yang terakhir, aku ingin tidak ada apapun di atas meja ini. Benar-benar bersih. Bagaimana, apa kau sudah mengerti apa yang harus kau lakukan? Jangan khawatir, yang kau perlukan di sini hanya konsentrasi.”Yang harus dilakukannya adalah Transfigurasi Inanimate-to-Animate-to-Inanimate lagi lalu sedikit Vanishing Spell, maka ia akan bisa istirahat. Tak terlalu berat untuk kondisi tubuhnya yang tak berstamina seperti ini.
Mengangguk pelan, ditariknya keluar Oak 31 senti-nya dari dalam jubah. Pandangannya lurus ke sebuah kotak kayu di hadapan karena itulah intinya Transfigurasi. Gadis itu mati-matian mengosongkan otaknya dan berkonsentrasi pada ujiannya kali ini. Sambil mengarahkan tongkat perlahan dibentuknya sebuah bayangan makhluk hidup dalam benak. Seekor anjing... kecil dengan bulu cokelat yang halus, mengingatkannya pada Marylin Monroe si Siberian Hushky jadi-jadian. Anjing pemberian Gabriele yang dititipkannya pada Hagrid, karena jelas mengurus diri sendiri saja Charlotte masih kewalahan, apalagi dengan adisi seekor anjing.
Bola mata cokelat terang gadis itu tak beralih sedikit pun ketika wujud si kotak perlahan berubah ke dalam sosok seekor hewan. Diperhatikannya ketika benda itu perlahan memunculkan dua pasang kaki, sebuah hidung dan dua telinga yang mulai bergerak-gerak. Begitu mudahnya menciptakan makhluk hidup seperti ini, dan tak menjadi kesulitan ketika kau memang harus melenyapkannya. Yang namanya sihir memang ajaib, kan? Si anjing kecil perlahan berubah sempurna, meski tak jelas berjenis apa. Berherak-gerak terisi nyawa seolah dia baru bangun dari tidurnya yang lumayan panjang, dan Charlotte sebagai majikan baru saja mengajak main.
Tapi kenyataannya ia hanya siswa yang harus mengubah anjing itu lagi jadi sebuah benda.
'WOOF!'
...yang dipersulit ketika anjing itu melompat turun dari atas meja dan berlari dengan kecepatan tak terkira mengelilingi ruang ujian. Charlotte yang tersentak kecil mendapati objeknya menghilang dengan cepat berbalik dan mengejar, tongkat sihirnya masih teracung.
"Hei, tunggu!"
Bagaimanapun ini ujiannya dan ia tak punya hak untuk minta bantuan. Meski kini larinya sedikit pincang karena pergelangan kakinya masih nyeri pasca Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, ia harus menyelesaikan semuanya sendiri. Moodnya berubah kesal ketika lari si anjing semakin cepat. Berkali-kali ia memanggil... tapi tak ada yang terjadi.
"Tunggu! Jangan mempersulit ujianku hei kau anjing nakal! Tung―"
BRUK!"―Stupefy!"
Sebuah undakan menjegalnya. Charlotte terjatuh menelungkup lantai. Tapi tongkatnya tepat mengarah dan kini si anjing pingsan. Itu lebih baik baginya daripada harus mentransfigurasi makhluk itu dalam keadaan sadar―begini-begini ia masih sayang binatang. Mengerling pengawas ujian sebentar, bangun dengan sedikit susah payah dan berjalan menyeret langkah ke dekat si anjing pingsan, gadis itu kemudian berjongkok. Nafasnya terengah, dengan sisa tenaganya ia mefokuskan pandangan dan merubah anjing menjadi bantal―benda empuk kecil bebentuk tulang warna cokelat, yang harus ia lenyapkan kemudian dengan sebuah mantra.
"Evanesco!" tukasnya cepat, menyelesaikan ujiannya dengan tak sabar.
Karena kalau boleh jujur, semua sendinya seolah retak. Dan yang ia butuhkan kini hanya kasur. Tidur.