Selasa, 13 Juli 2010 01.15
Pesta Akhir Tahun
Meja SlytherinRasanya seperti
deja vu...
Entah kali ke berapa gadis Italia berambut cokelat gelap itu duduk di Meja Panjang Slytherin pada Pesta Akhir Tahun, yang pastim bagi gadis itu, semua nampak sama. Tak ada yang berubah sejak awal Musim Panas 1983, ketiga gadis itu masih sebelas tahun dan ikut Pesta Akhir Tahun untuk pertama kali. Esensi yang ia tangkap di pesta ini hanyalah 'melepas yang pergi', dan selain Tequilla Sirius yang tahun lalu dilepasnya dengan
sangat sukacita, rasanya tak ada makhluk lain yang bisa membuat Charlotte menganggap Pesta Awal Tahun sebagai sebuah perhelatan yang menarik. Membosankan. Berisik. Membuang-buang waktu—ia jelas bukan makhluk sosial yang bisa dengan mudahnya memperbincangkan rencana liburan. Tersenyum hangat sambil berkata, 'Kirimi aku surat ya...' di sela-sela gerakan rahangnya mengunyah pie, Bercanda dan menggosipkan banyak hal pada seorang teman yang cukup dekat...
...yang biasanya orang sebut 'sahabat'. Charlotte tak bisa, karena bahkan dia tak punya seorang sahabat.
Seperti tahun-tahun lalu yang dilakukannya hanya duduk menjauh dari kerumunan, menggerakkan kaki-kakinya di bawah meja sambil menopang dagunya dengan dua tangan—tak memulai tapi tak juga menunggu interaksi. Ia sendiri, dengan sepiring pie apel di hadapannya yang tak tersentuh oleh minat. Charlotte Demelza Ryan terlalu terbiasa untuk mengedarkan pandangannya ke segala arah sampai bosan, mengamati interaksi orang-orang yang kadang membuat kedua alisnya bersatu karena hanya dengan cara itulah dia mempelajari seseorang. Dibanding berpesta dan makan sampai buncit Charlotte lebih suka jadi pengamat, ia suka mengetahui orang-orang mana saja yang mungkin bisa dipercayanya. Siapa-siapa saja yang bisa ia perlakukan dengan baik dan tidak hingga ada orang-orang yang membencinya karena perlakuannya yang sedikit keterlaluan.
Yang dinikmatinya dibanding harus menyapa banyak orang dan membiarkan orang-orang itu masuk ke kehidupannya terlalu dalam.... yang menjadi bahan lamunannya di waktu-waktu senggang.
Waktu-waktu seperti sekarang ketika tak ada seorang pun yang ingin diajaknya bicara. Dia, Charlotte, lagi-lagi melamun dengan tatapan setengah tertutup. Padahal sebagai Prefek kewajibannyalah mengawasi murid-murid agar tak membuat keonaran di acara (yang mungkin) penting macam Pesta Awal Tahun; tapi—tolong ingatkan dia—sejak kapan Charlotte peduli akan jabatannya sebagai Prefek? Ada Zeelweger yang lebih bisa mengurus anak-anak nakal, partnernya itu...
...
mana Zeelweger?