Selasa, 13 Juli 2010 01.12
Pesta Awal Tahun
Meja Slytherin"Ryan, where are you going?"
"Asrama... mmh, why?"
"Kau tidak ke Pesta Awal Tahun? Kau kan Prefek."
"...oh iya"
Salahkan Gabriele Bontade karena dia penyihir. Salahkan Tequilla Sirius karena dia secara ajaib tahu tentang keluarga Charlotte. Salahkan Lalat Tsetse yang telah menggigitnya hingga hampir sekarat. Yang pasti, jangan salahkan Charlotte kalau baru beberapa menit lalu dia sadar jabatannya sebagai Prefek setelah diingatkan seorang anak yang bahkan tak dikenalnya. Salahkan pikirannya yang menggunung dan kondisi-tak-sehatnya yang sama sekali tak mendukung. Jangan salahkan Charlotte, sekali lagi, karena dia tak pernah suka disalahkan. Bahkan meski perkara kali ini cukup serius karena bisa-bisanya gadis Italia itu lupa jabatan barunya sebagai Prefek, juga di mana ia menaruh lencananya. Tapi ada faktor-faktor eksternal yang menurut Charlotte memaksanya melakukan semua itu. Terlepas dari apakah ia
memang menginginkan hal-hal itu terjadi di hidupnya atau tidak, dan terlepas apa pernyataannya barusan merupakan pembelaan diri atau bukan, satu hal yang selalu diyakininya:
Charlotte selalu benar untuk alasan-alasan yang
hanya ia mengerti.
Jadi air mukanya tanpa dosa... ketika kedua kaki jenjang Charlotte Demelza Ryan membawa gadis itu memasuki Aula Besar yang sudah ramai. Dia terlambat karena sebuah alasan. Barisan anak-anak kelas satu sudah menghilang berbaur bersama siswa-siswi senior di Meja Asrama, makanan-makanan sudah tersaji dan celotehan mengudara. Charlotte berhenti sejenak di ambang pintu, satu tangannya menggenggam lencana. Manik cokelat terang gadis itu memindai kilat tiga meja asrama lain sebelum pandangannya tertumbuk ke meja asramanya sendiri. Dari pengamatan-sekilasnya dapat ia tangkap kalau seorang lelaki-tak-cukup-tua baru mengisi kursi yang tahun lalu ditempati Bloomberg—Profesor Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam edisi tahun ini—dan Profesor Flitwick turun untuk entah melakukan apa pada murid asramanya.
Beberapa interaksi di Meja Slytherin ia perhatikan sambil berjalan mendekat. Meski sedikit enggan, karena Pesta Awal Tahun tak pernah memberikan kesan positif untuk Charlotte. Tapi demi eksistensinyalah, dia merelakan diri untuk datang dan setor muka di hadapan banyak orang. Kau salah kalau mengira Charlotte tak suka hingga melupakan jabatannya sebagai Prefek. Kekuasaan itu baunya harum, dan dengan memiliki itu dia dapat hak-hak istimewa yang tak dimiliki murid biasa kebanyakan. Lencana salah satunya, simbolisasi otoritasnya akan anak-anak asramanya. Kamar mandi khusus, kompartemen khusus, otoritas detensi dan potong-potong poin—dibandingkan dengan kewajiban patroli tiap malam, ganjarannya mungkin sepadan.
Pihak sekolah telah memanfaatkan tenaganya sejak dulu—mc dan lain-lain itu—dan ia anggap itu 'bayaran' ketika mereka memberikannya lencana Prefek. Ia hanya ingin dirinya 'dilihat' dan 'dipertimbangkan', bukan untuk dijadikan pilihan terakhir. Ia bayangkan dirinya seperti Tzu Hsi, yang duduk di singgasana dari zaman Hsien Feng sampai Puyi mempertahankan Kerajaan China dari revolusioner. Dan meski semuanya takkan sama, kenyataannya dalam diri seorang wanita ada kekuatan yang jika diberi jalan yang sepantasnya, akan jadi sesuatu yang tak terduga. Dalam diri Charlotte, dengan titian awal menjadi seorang Prefek...
...
she'll make everyone an offer they can't refuse.“aku harap, kalian tidak melakukan kebodohan selama kalian bersekolah di sini. Terutama melakukan sesuatu yang melanggar peraturan secara terang-terangan.”"...atau aku akan
sangat senang bisa mendetensi kalian mengepel
seluruh lantai kastil."
Sekarang mari kita mulai peran barunya dengan melakukan 'tugas-tugas awal sebagai Prefek'. Charlotte tersenyum tipis ketika langkahnya sampai di Meja Slytherin, tepat di sebrang Zeelweger yang sepertinya baru datang. Tak langsung duduk melainkan mengangguk singkat menanggapi kata-kata Zeelweger tentang sesuatu yang mungkin akan dilakukannya—berusaha tak peduli. Fokusnya kini pada beberapa anak kelas satu yang sedang coba ia hapal wajahnya—anak-anak manis ini... lucu sekali saling mengambilkan makanan. Padahal setahu Charlotte setiap jenis makanan tersedia di sepanjang meja, dan tangan mereka tak pendek-pendek amat untuk mengambil sendiri semua makanan itu. Dan seharusnya
itulah yang mereka lakukan—mengambil semua makanan itu sendiri—ini Pesta Awal Tahun kan, bukan piknik keluarga?
"Kuyakin kalian bisa ambil sendiri makanan-makanan itu kalau maksud kalian
memang mau makan, anak manis," dan bukan menggoda gadis-gadis. "Kurasa teman-teman kalian juga butuh makan. Nah, habiskan makanan kalian yang cepat karena aku tak ingin ada yang merengek-rengek kelaparan karena kalian harus kembali ke asrama sebelum makanan kalian habis." ia menarik keluar tongkat sihirnya, mengayunkannya disertai mantra verbal. Beberapa piring dan piala melayang-layang menuju hadapan beberapa anak kelas satu, sedikit jatuh dan membuat isi mereka menciprat keluar.
"Selamat datang di Slytherin, ngomong-ngomong. Kuyakin kalian akan betah di sini. Aku Charlotte Ryan, Prefek kelas 5; bersama partnerku Arvid Zeelweger—" (menunjuk Arvid dengan tongkat) "—siap membantu kalian kapanpun kalian mengalami kesusahan." kemudian mengambil sepiala jus labu, mengangkatnya tinggi-tinggi sementara bola mata cokelat terangnya sekali lagi menyisir sekitar.
"For Slytherin,
may we all bask in glory..." mendekatkan bibir piala ke bibirnya, tak lama sebelum ia merasakan cairan dingin kekuningan membasahi tenggorokannya yang sedikit kering. Salam terakhir sebelum kemudian Charlotte duduk, menarik sepiring pie dan menatapnya tanpa minat. Khas Slytherin, turun-temurun yang ia sendiri tak tahu...
sejak kapan?
All Slyth perhatikan post saya ya.