Selasa, 13 Juli 2010 01.13
Charms OWL
Ordinary Wizarding Level Charlotte yang
pertama, membuat bola mata cokelat terangnya menatap rincian jadwal ujian yang tertulis di atas secarik kertas dengan gugup. Berdiri menyandar dinding koridor lantai tiga di mana di ujung lorong yang disandarinya kelas tempat ujian terhalang sebuah pintu, gadis lima belas tahun berabut cokelat gelap itu merasakan perasaan yang tak pernah ia alami sebelumnya. Rasanya seperti jantungmu coba direnggut dengan satu genggaman, orgam pendetak kehidupannya itu berdentum-dentum mengalirkan perasaan tak enak ke sekujur tubuhnya. Ini
memang kali pertama ia dihadapkan pada sebuah ujian—Charlotte tak pernah
benar-benar bersekolah sewaktu kecil. Dari ibunyalah ia belajar segala hal; membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain—jadi ketika orang yang melahirkannya itu secara tak langsung menuntut deret Outstanding dari daftar nilai yang nanti akan diterimanya, ia betul-betul bingung.
Dua minggu terakhir yang ia habiskan tanpa sedikit pun membuka buku membuatnya tak yakin akan kemampuan tangan dan tongkatnya nanti. Selama musim dingin otaknya beku; dan ia tak punya ide sama sekali tentang apa
tepatnya yang harus ia lakukan di detik-detik menjelang namanya dipanggil pengawas seperti ini. Sorot mata cokelat terangnya hanya menatap kosong lantai marmer sementara banyak mantra berkelebatan di benaknya. Bercampur dengan praduga-praduga liar tentang apa saja yang mungkin menjadi tugas mereka di dalam sana.
Membuat nanas menari? Menerbangkan benda-benda? Melakukan banyak pekerjaan tanpa tongkat?
"Ryan, Chartotte!"...berjalan di atas angin...
Kau ngaco, Charlotte.Benaknya sampai pada yang terliar ketika sebuah suara menyentak lamunannya dan membuat gadis itu menoleh. Ia menarik dan menggenggam erat batang Oaknya dengan tangannya yang berkeringat. Kesan pertama yang muncul di benaknya begitu memasuki ruang ujian adalah ia tak menyukai si pengawas. Lelaki tak cukup tua dengan wajah dingin yang tak ramah, tapi memaksa Charlotte tersenyum demi kesan baik saat ujian. Meskipun sebenarnya biasanya ia sama sekali tak peduli dengan tetek-bengek sopan santun macam tersenyum dan mengucapkan salam. Hal-hal yang tak disukainya karena tak semua orang memberi respon senada, ini dibuktikan ketika tarikan di kedua sudut bibir gadis itu melebar menjadi seringai timpang yang aneh ketika bola mata cokelat terangnya menangkap ekspresi lelaki berambut cokelat kacang itu yang seolah mengusirnya.
Lakukan cepat sehingga lebih cepat kau keluar—heh, dia kira Charlotte memohon-mohon untuk ikut ujian?
"Okay, then. Di permukaan kotak ada tulisan tak terlihat. Munculkan tulisan itu sehingga kau bisa membaca dengan jelas kalimat yang mengelilingi kotak. Kemudian, lakukan perintah sesuai tulisan yang muncul pada kotak. Jika berhasil, kotak tersebut akan mengikik dan terbuka. Jika tidak--"Ia mengangkat wajahnya dan memfokuskan pandangan ketika si pengawas mulai melisankan instruksi. Di samping impresi pertamanya yang tak menyenangkan, ujian Mantra kali ini tak sesulit perkiraannya. Membuat anggukan-anggukan kecil muncul alih-alih kerutan-kerutan di dahi, yang diselingi oleh guliran bola mata dari satu benda ke benda lain di atas meja—benda-benda yang disebutkan si pengawas untuk ditanganinya; yang harus dimunculkan tulisannya dan dilakukan sesuatu agar terbuka, yang di dalamnya terdapat telur yang harus ia warnai. Yang menurutnya mudah saja karena sebelum pengawas itu menyelesaikan kata-katanya, beberapa mantra melayang-layang di benar gadis itu dengan amat jelas.
Charlotte mundur sekali, memusatkan pikirannya sementara tongkatnya teracung ke arah sebuah kotak berwarna biru—warna yang ia pilih secara random karena tak boleh pilih yang hijau—lalu menggertakan gigi-giginya. Ia melisankan "Aparecium," pelan dan sebagai hasilnya muncul tulisan di permukaan si kotak. Aku akan terbuka dengan tiga kali gelitik, katanya. Tangannya hampir-hampir terulur kalau saja ia tak ingat ini ujian mantra, jadi diketuknya si kotak dengan ujung tongkat sebagai pengganti.
Satu, dua, tiga."Rictusempra! Rictusempra! Rictusempra!"
Hihi! Hihi! Hihi!...dan sepertinya itu langkah yang tepat karena si kotak langsung terbuka. Menyingkap sebutir telur ayam biasa yang tersembunyi di dalamnya, yang harus mereka warnai tanpa apapun diberikan sebagai pewarna. Dan tanpa beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri. Charlotte meraba-raba jubahnya mencari sesuatu untuk mewarnai, tapi tak ditemukan secuil pun. Satu-satunya benda yang ia temukan dalam sakunya hanyalah jepit rambut plastik yanng biasa dipakainya untuk menggelung rambut. Gadis itu menatap si jepit lama sebelum menghela nafasnya dengan sedikit berat. Meletakkan benda itu di dalam kotak alumunium sebelum kemudian mengarahkan tongkatnya sekali lagi.
"
Sorry Gabriele, i need this for my OWL. Lacarnum Inflamarae!"
Mengeluarkan api biru dari tongkatnya, ia membakar benda hijau tua itu sampai meleleh sepenuhnya, meletakkan si telur di dalam lelehan dan menggoyang-goyang kotaknya agar semua telur terlumuri—yang membuatnya jadi merasa sangat bodoh. Astaga... ia seperti orang tanpa kerjaan lain yang lebih berguna! Tell her, people. Apa setelah semua ini dia akan dapat niai bulat? O for Outstanding?
"Glacius!" sedikit kesal dirapalkannya mantra terakhir yang membuat semua cairan lengket di sekitar si telur membeku, membuat telur itu jadi jelek sekali dengan warna hijau tak rata di sekelilingnya. Ia mengernyit sebentar, mengelap tangannya yang sedikit lengket; sebelum berbalik, mengangkat wajahnya ke udara.
"FLAGRATE!"
"Me, Charlotte Ryan, say 'hello' to everyone. Hello :|"Done.