Selasa, 13 Juli 2010 01.14
Defense Against the Dark Arts OWL
Danau Hitam, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.
"Tugas kalian cukup sederhana, carilah seekor Grindylow, terserah bagaimana caranya. Kalau sudah ketemu, tangkap, lalu bawa kemari dan selesailah OWL Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kalian,"Untunglah Charlotte sudah terlatih untuk tak cepat percaya dan mudah merasa aman; karena meski OWL Mantra yang kemarin diikutinya ternyata begitu mudah, ujian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitamnya kali ini membuatnya tertegun tak percaya.
Ia memang sudah mendengar dari Agrippina Proust perihal ujian PTIH tahun lalu, ketika mereka ditugaskan menangkap masing-masing satu Grindylow dari Danau Hitam, tapi tak ia sangka bahwa tahun ini juga akan sama... Untungnya ia sudah bersiap dengan mengenakan sehelai baju renang di balik jubah dan seragamnya. Meski ia tahu hal itu takkan membantu dan sama sekali tak menjamin keselamatannya di bawah sana—setidaknya takkan ada jubah dan rok yang mengganggunya. Ia berdiri di tepi danau bersama sekumpulan anak kelas lima lain, menatap permukaan danau cemas sambil mencengkram erat jubah sekolahnya. Terkutuklah Hogwarts yang selama lima tahun ini hanya menjejalkan buku teks pada murid-muridnya untuk dipelajari. Bukan Grindylow asli, atau Merpeople yang mungkin saja membunuhnya di bawah sana...
...
Ketakutannya tak bisa ia sembunyikan. Kegugupan yang menyelubungi tubuhnya membuat ia terus menerus menatap danau dengan wajah tegang, sementara ucapan pengawas ujian berdengung di telinganya bagai sekumpulan lebah. Seperti ketika ujian Mantra benaknya meliarkan hal-hal yang mungkin saja terjadi, dan untuk kali ini diseret tenggelam terlalu dalam membuatnya cemas setengah mati. Bagaimana kalau Gillyweednya habis sebelum ia naik ke permukaan? Bagaimana kalau Grindylow-Grindylow itu tak mau melepaskannya... atau yang paling buruk tak ada yang bisa ia lakukan?
"Kau, Nak. Ayo, coba maju sini!"Tapi yang paling buruk ternyata ketika pengawas ujian menunjuknya sebagai giliran pertama, Charlotte tersentak hebat sekali. Ia megerjapkan matanya sekali, menghela nafas berlipat-lipat kali agar ia tak kelihatan terlalu takut kemudian dengan langkah-langkah lambat berjalan maju ke bibir danau. Dengan (sangat) berat hati diterimanya gumpalan Gillyweed dari pengawas ujian berkeriput, dijejalkannya ke mulutnya tepat setelah ia membelakangi anak-anak kelas lima sepenuhnya. Rasanya berlendir dan alot ketika ia mengunyahnya dengan terpaksa. Mulutnya seperti dipenuhi segenggam spagetti setengah matang.
Gillyweed yang ia telan sedikit demi sedikit mulai bekerja. Sementara gadis itu membuka jubah dan seragamnya kemudian meletakkan pakaiannya di atas rumput, rasa nyeri melanda sisi-sisi lehernya yang mulai ditumbuhi insang.
Seribu Satu Tanaman Gaib memberitahunya bahwa setelah ini ia hanya bisa bernafas di dalam air, jadi cepat-cepat ia mengikat rambut dan melepas sepasang sepatu. Baru setelah beberapa menit ketika paru-parunya terasa tercekat, gadis itu masuk perlahan ke dalam air. Jantungnya tak berhenti berpacu kencang. Merasakan air danau di kulitnya membuatnya benar-benar bebas seolah memang di tempat inilah ia tinggal. Di tangan dan kakinya mulai tumbuh selaput.
Sadar bahwa waktu yang dimilikinya hanya satu jam, Charlotte mulai berenang terus ke dalam dengan menggerakkan kedua kakinya memukul-mukul air. Telinganya seolah ditulikan, dan apa yang dilihatnya hanyalan sekumpulan ganggang yang meliuk-liuk dan batang-batang pohon yang menghitam. Kesunyian memenuhi indra gadis itu di dalam air... semakin dalam ia masuk cahaya matahari mulai tak tampak. Semuanya jadi abu-abu, dan hal itu membuatnya panik. Ia terus berenang dengan tongkat di tangannya, mencari-cari dengan tak sabar. Sampai kemudian sesuatu menyentak kakinya dan membuat ia dengan cepat berbalik.
Rambutnya berkibar di dalam air. Tubuhnya berbalik dalam satu liukan seperti pemain balet. Bola mata Charlotte membesar ketika ia sadar sesuatu yang dicarinya malah balik menyerangnya. Perasaannya campur aduk, antara senang ternyata ia tak harus berenang lebih lama dan kaget karena tiba-tiba saja ia lupa semua mantra. Kakinya dicengkram dengan kuat oleh serangkaian jari-jari panjang dan kurus dari dua tangan Grindylow di depannya—makhluk itu jelek, keriput, dengan kepala seperti batu yang dipahat seadanya dan perut membuncit seperti melon, makhluk mengerikan itu nyengir lebar memamerkan gigi-giginya yang cukup tajam. Menarik-narik kakinya agar ia tenggelam semakin dalam.
Oak miliknya kini teracung ke arah si Grindylow. Dengan susah payah diteriakkannya mantra perintang. Namun ternyata yang keluar dari mulunya hanya gelembung besar dan yang dihasilkan tongkatnya hanya sedikit sentilan kecil. Grindylow yang mencengkram kakinya sempat melepas satu tangan dan menutupi wajahnya untuk menghindari mantra Charlotte. Gadis itu memanfaatkan kesempatan mengendurnya cengkraman si makhluk dengan menendang-nendang dengan kuat. Ia memutar kakinya sedemikian rupa dan memukul-mukul dengan sangat kuat agar tangan si Grindylow patah...
...yang akhirnya berbuah setelah beberapa menit ia berkutat mempertahankan tangkapannya agar tak kabur tapi juga tak melukainya sedemikian rupa. Jari-jari si Grindylow seolah pecah. Makhluk itu dengan cepat langsung berbalik berniat kabur, namun Charlotte mengarahkan kembali tongkatnya dengan cukup sigap.
"Stupefy!" teriaknya meski yang keluar lagi-lagi hanya gelembung besar, namun cukup untuk membuat si Grindylow melayang di air setengah sadar. Pergerakannya seolah dipause begitu saja.
Tanpa pikir panjang disambarnya tangan kisut namun keras makhluk air itu dan ditariknya ke permukaan tanpa ikatan sedikit pun. Waktunya hampir habis. Charlotte terus berenang meski kini satu pergelangan kakinya perih dan memerah, tapi permukaan sebentar lagi. Ia sudah berenang ke bagian yang bisa ditembus sinar matahari. Sebentar lagi... waktunya hampir habis. Gerakannya berat sebagai tanda efek Gillyweed yang dimakannya sudah hampir habis. Charlotte tak begitu bisa berenang. Tapi sebentar lagi ia sampai kan? Sebentar lagi...
"Pffftt..." hidungnya dipenuhi air. "Dapat!" teriaknya, sebelum mengisi penuh paru-parunya dengan udara. Diangkatnya si Grindylow setengah pingsan ke atas tanah, sebelum ia sendiri naik dan mengeringkan diri dengan handuk yang entah bagaimana sudah ada di dekat tumpukan pakaiannya di atas tanah. Tubuhnya dingin, berkilau pucat tertimpa cahaya matahari yang sedikit menghangatkan gadis itu yang menggigil.
Sumpahnya, untuk tak lagi masuk ke Danau Hitam. Ujian sialan.