Selasa, 13 Juli 2010 01.10
None is Rose Without the Pric(k)e
Sepertinya sekarang Charlotte tahu mengapa orang-orang menjudgenya sebagai gadis buruk yang pemarah: karena ia tak pernah bisa menangis hingga kata-kata sinis yang menyindir selalu meluncur dari bibirnya sebagai pengganti. Begitu sering gadis itu dipusingkan dan dibuat lelah oleh segala hal, hingga rasanya kelenjar air matanya robek dan isinya tumpah, namun bendungan itu telah kering sejak lama hingga tak setetespun air yang keluar. Sejak kematian ayahnya hampir tujuh tahun lalu, Charlotte bahkan tak ingat pernah meneteskan air mata. Kejadian itu memukulnya begitu telak hingga mengubah kepribadian gadis itu menjadi tertutup dan sinis seperti sekarang, ditambah semua orang entah mengapa bertingkah laku menyebalkan yang membuatnya kesal, jadilah Charlotte nenek sihir yang pemarah.
Padahal ia tak pernah mengusik siapapun jika mereka membiarkannya seperti apa yang ia inginkan. Charlotte tak pernah takut sendiri karena ia memang selalu begitu...
Gadis itu tak bisa untuk tak marah ketika sekumpulan bocah wanita mengusiknya di Leaky Cauldron. Jalang-jalang kecil itu telah membuat kesabarannya habis. Tahu dalam keadaan marah emosinya selalu tak terkontrol, Charlotte akhirnya memutuskan untuk pergi. Langkah-langkah gadis itu membawanya cepat menerobos dinding belakang Leaky Cauldron yang bata-batanya sudah melebar. Berbaur bersama kerumunan dua arus... tapi tak mengerti mengapa pikirannya yang tak terkontrol mengarahkannya ke sebuah toko yang bahkan berada di ujung—ujuuung sekali—Diagon Alley. Mengabaikan toko-toko lain yang penuh oleh pengunjung penghuni baru Sekolah Sihir Hogwarts.
Nafasnya tersengal begitu kedua kakinya secara mendadak mengerem. Menepuk-nepuk pipinya yang sedikit kebas, membetulkan mantel dan rambutnya yang sedikit berantakkan; Charlotte—akhirnya—dengan langkah tenang yang sedikit dibuat-buat masuk dan menyadari bahwa tema kali ini adalah mawar. Ujung jemarinya menyentuh-nyentuh mahkota-mahkota bunga dalam ember ketika ia melintas menuju ujung lain toko, berpikir mengapa tak dua tahun lalu saja om-om itu menjual mawar—ketika pertama kali Charlotte ke sini dan toko ini dibuka. Kemudian berhenti... mengalihkan pandangan pada tiga objek berbeda dalam tiga detik pertama:
Dimi Pikook, Dimitrov Eamnnon, dan seorang tante berambut pirang bukan Lorraine Ziegmowit.
Ah... banyak perubahan rupanya?
"Halo... Eamnnon, lama tak bertemu eh? Bunga apa yang paling bagus hari ini?" tersenyum (di)manis(-maniskan), mencari hiburan untuk meredakan kekesalannya yang menggunung; pikirnya, tak ada salahnya juga sedikit menggoda Eamnnon.
Siapa tahu Charlotte bisa dapat potongan harga lagi, kan? Smirks.
(
Penampilan Charlotte)