Selasa, 13 Juli 2010 01.10
Someone to Talk / II
Yang jadi masalah bukan tentang Gabriele yang ternyata penyihir, namun tentang kenyataan bahwa ternyata selama ini gadis itu begitu mudah ditipu mentah-mentah. Ia terbiasa mendapatkan segala yang diinginkannya lima belas tahun ke belakang, setidaknya dari
semua anggota keluarganya, dan secuil pengkhianatan bukan hal yang mudah untuk diterima―apalagi diikhlaskan. Apalagi ketika segala hal berubah menjadi rumit... membentuk bola-bola kusut yang menjerat Charlotte sedemikian rupa. Ia masih bertanya-tanya dari mana Tequilla Sirius bisa tahu nama belakangnya (dan itu juga berarti keluarganya) dan kini Gabriele Bontade seorang penyihir.
Membingungkan... Begitu tiba-tiba dan tanpa peringatan.
Charlotte menghela nafas, menggoyang gelas Butterbeernya tanpa minat ketika seorang bocah kecil tiba-tiba menanyakan namanya begitu saja. Ada lengkung tinggi yang tercipta dari kedua alisnya yang terukir sempurna, manik cokelat terang itu beralih pada gelas Butterbeer di tangannya ketika si bocah perempuan melanjutkan dengan memberitahunya bahwa Butterbeernya sudah dingin―hal yang ia tahu dengan jelas dan pasti karena ia tak pernah memesan Butterbeer panas maupun hangat. Tapi bukan itu perkaranya, bukan tentang Butterbeer yang dingin atau kursi-kursi kosong yang sebentar lagi akan berpenghuni. Ini masalah keberanian. Gadis kecil itu... kira-kira apa yang menjadi motivasinya melakukan semua ini pada Charlotte? Menanyakan nama dan berbasa-basi seperti itu.
Gadis Italia itu begitu yakin bahwa selama ini wajahnya bukan tipe-tipe orang minta disapa, apalagi diajak ngobrol tentang cuaca yang sedang cerah. Ia telah dengan sengaja membangun tembok tak kasat mata di sekeliling tubuhnya yang hanya bisa ditembus orang-orang dengan 'kunci', membuat dirinya tak terjamah; hanya agar identitasnya tak ketahuan dan semua hal berjalan lancar. Seperti sihir pada kastil Hogwarts yang sebenarnya sangat megah, namun hanya terlihat seperti bangunan tua yang rusak dan berbahaya oleh para Muggle yang melihat. Selama ini Charlotte telah berusaha menanggapi semua hal dengan wajar, tak pernah jatuh ke satu tempat (apalagi ke satu orang), dan kini Tequilla Sirius mengacaukan semuanya...
...juga pikirannya.
Selengkung senyum masam terulas di bibirnya ketika si bocah mohon diri untuk duduk. Charlotte hanya mengangguk. "Duduklah dan silahkan pergi jika urusanmu sudah selesai," Lalu tersentak ketika merasakan sesuatu 'jatuh' di pangkuannya yang terhalang meja. Gadis itu memundurkan kursinya dengan cepat sebelum berdesis jengkel ketika mendapati seekor kucing bergelung kecil di pangkuannya begitu saja. Inginnya marah karena sudah jelas pangkuannya bukan tempat kucing bergelung sembarangan, tapi lalu ia sadar bahwa kucing itu takkan mampu mencerna kata-katanya, jadi matanya menyisir mencari sang pemilik.
Tepat ketika seorang bocah perempuan lagi datang dan berkata dengan sopan yang memuakkan bahwa itu―yang di pangkuan gadis itu―adalah kucingnya. Membuat Charlotte sedikit kesal karena ia jelas tak suka basa-basi, apalagi dengan keadaannya yang seperti ini... mau mereka apa sih? Tidak bisakah ia dibiarkan tenang barang sebentar? Barang sehari?
"Ambil kucingmu sebelum aku menyingkirkannya dengan tongkatku,"
Dan seharusnya setelah kata-katanya yang terakhir orang-orang itu mengerti... bahwa yang Charlotte butuhkan hanyalah...
...
...
siapa?