Selasa, 13 Juli 2010 01.11
Dreaming
Satu hal yang Charlotte sadari semenjak pertama kalinya kedua kaki gadis itu menjejak lantai berbatu Sekolah Sihir Hogwarts tempat di mana segala kehidupannya dimulai adalah:
life do it’s cycle. Seperti bianglala yang sering ia naiki tiap kali pergi ke Prater, mereka…
berputar. Kau tahu, selalu ada waktu ketika gondola yang kau naiki sampai di bawah dan tak ada hal lain yang bisa kau lihat selain barisan orang yang menunggu atau wajah penjaga wahana di balik bilik, hal yang tak pernah Charlotte sukai; tapi ketika putarannya naik ke atas, pemandangan yang menakjubkan selalu membuatmu lupa diri. Selalu ada dua sisi dari setiap hal dalam hidup. Atas dan bawah dalam bianglala, dan meski kelihatannya banyak, namun pilihan yang bisa kau ambil dalam hidup hanya berkisar antara ‘ya’ atau ‘tidak’. Tengah-tengah tak pernah memberimu kepastian, dan mana ada orang yang mau hidup digantung-gantung? Pengambilan keputusan yang tegas itu selalu penting, sayang. Charlotte telah belajar… bahwa apa-apa yang kita putuskan selalu berpengaruh akan jadi apa nasibmu selanjutnya.
Itu berlaku ketika tahun lalu dia memutuskan untuk sedikit lebih bersosialisasi dan setuju ikut acara ramah-tamah yang disiapkan murid-murid kelas empat untuk ‘pendatang baru’—dan bisa kalian lihat apa nasib Charlotte selanjutnya: harus berkencan dengan dua anak kelas satu yang bahkan TAK ia kenal, menghadapi Ilia Kishlef yang seperti monyet ngamuk dan hampir sekarat digigit lalat. Hal kecil yang tak pernah ia sangka akan berimbas begitu hebat pada kehidupannya yang (menurutnya) sudah
amat sangat melelahkan. Terutama pada tubuh gadis itu yang kehilangan berat badan beberapa kilo liburan musim panas lalu. Masih lemas seperti kekurangan cairan dan lebih sering tertidur daripada biasanya. Bahkan ketika hari begitu lenggang dan tak ada yang harus Charlotte lakukan selain santai-santai di kursi mengerjakan essay, tubuhnya seperti tanpa tulang.
Adalah minggu pagi ketika Ruang Rekreasi Slytherin belum ramai oleh celotehan dan desis orang-orang yang bergosip, Charlotte Demelza Ryan bersandar lemas pada sebuah sandaran kursi empuk yang sejatinya untuk empat sampai enam orang, tapi dihabiskannya sendiri karena kakinya yang menjulur. Posisinya seperti orang tidur, hanya saja kepalanya sedikit naik dan di pangkuannya ada buku tebal bertajuk Pengantar Transfigurasi yang terbuka di halaman tiga ratus sekian. Yang dijadikannya referensi untuk mengerjakan essay Transfigurasi yang harus dikumpulkan beberapa hari lagi, tentang MENGAPA TEPATNYA Guinea Fowl bisa berubah menjadi Guinea Pig, alasan-alasan dan kemiripan-kemiripan yang menjadi syarat transfigurasi, yang sebenarnya ia sendiri tak tahu mengapa karena Charlotte
tak pernah setuju seekor ayam bisa berubah menjadi marmut.
Tapi buktinya hewan itu berubah juga—tahun lalu, gadis itu dibuat takjub setakjub-takjubnya ketika si hewan bisa berubah hanya karena kesamaan nama depan mereka—Guinea—tanpa ada kedekatan sedikitpun bahkan dalam tingkatan kelas (unggas dan mamalia, Demi Tuhan!). Hal yang tentu saja menyulitkan Charlotte karena penelitiannya tak bisa didasarkan dari segi biologi. Jemarinya membolak-balik lembaran-lembaran buku sedikit kasar, berhenti sebentar untuk melirik perkamen dan tintanya yang masih bersih di atas meja, kemudian ke sekeliling Ruang Rekreasi di mana tak seorang pun terlihat batang hidungnya.
Tertegun sebentar… kemudian mendesah ketika ‘serangan sisa’ penyakitnya kembali membuat kelopak matanya berat. Charlotte menutup bukunya dengan sedikit berat, meletakkannya di meja kecil di samping sofa. Tubuhnya bergerak-gerak agar mendapatkan posisi yang nyaman, sebelum kemudian satu tarikan nafas yang panjang dan lembut menghantarkan gadis itu ke sebuah dimensi tak terhingga, yang gelap, yang tanpa pijakan. Yang sudah ia kenal dengan baik karena ini kali ke-sekian juta ia mampir ke sini. Yang kemudian memunculkan setitik cahaya kecil yang perlahan membesar, seolah mendekat…
…dan Charlotte Demelza Ryan, Slytherin, menjelma menjadi sebuah sosok kecil sepertiga umurnya, di tempat yang sangat-sangat jauh dari Hogwarts: Bath.
Yang ia sebut sebagai mimpi. Yang meskipun kedengarannya tidak mungkin, tapi di dunia mimpi apapun bisa terjadi. Lumrah adanya ketika entah mengapa Charlotte menyadari suasana tempat kini ia sedang duduk di ayunan, tersenyum memandang punggung Ayahnya yang sedang berjalan di kejauhan, sebelum mengalihkan pandangan ke sekumpulan anak lelaki yang sedang bermain bola di lapangan di sebrangnya. Gaun gadis itu bunga-bunga, hijau-kuning, dengan rambut pirang memanjang sampai ke bahu.
Di matanya permainan bola dari sekumpulan anak lelaki (yang sepertinya anak kampong) di depan tampak asyik. Bola matanya bergulir seiring kaki-kaki para pemain membawa bola. Seorang anak lelaki yang tampak sedikit lebih besar memonopoli bola untuknya sendiri, dapat ia dengar dari teriakan teman setimnya agar si anak lelaki itu mengoper bola… tapi tak digubris dengan terus menggiring sampai ke depan gawang dan satu tembakan langsung merobek gawang tim lawan. Membuat Charlotte mengernyit, karena kemudian si anak lelaki yang mencetak gol itu dikelilingi teman-temannya dan entah apa yang mereka bicarakan, sejurus kemudian si anak laki-laki pencetak gol meninggalkan lapangan dan pergi. Mendekat ke ayunan di sebelah Charlotte dan duduk, merengut, mengalihkan perhatian si bocah Italia dari depan ke samping. Meneliti anak itu dari atas sampai bawah, sebelum mengangkat alis sedikit meremehkan.
“Kau diusir ya?”
“Hanya karena aku terlalu hebat,”
“Pfft, kalau jebat mana diusir! Pasti kau sangat payah, berlari mirip bebek. Berlari mengepakkan tangan berharap bisa menendang, padahal kakimu sangat pendek."
"Aku dari tadi golin 20 bola sendirian. Mereka pasti kesal karena aku sendirian bisa hadapin 11 orang tim lawan."
Lalu mereka berbincang dengan sengit, dua orang yang bahkan tak pernah bertemu sebelumnya. Tapi halnya dua bocah, apalagi Charlotte yang egonya setinggi langit, tak ada yang mau mengalah. Matahari bersinar semakin terik dan sengatnya yang menyilaukan membuat gadis itu mengangkat wajah sedikit untuk melirik. Matanya bertemu dengan bulatan samar matahari yang langsung mengarah ke wajahnya, membuat keadaan sekitar menjadi buram—
"Apa hebatnya kotak musik banci begitu?"
“…banci…”
“…ban…”
—lalu seolah terdistorsi menjadi padat, tiba-tiba saja tubuhnya berguncang. Charlotte mengerjapkan matanya dan mendapati semua telah kembali seperti semula: ruang rekreasi, tubuh lima belas tahunnya, perkamen dan tinta yang masih utuh. Samar-samar, sebelum kemudian sebuah suara membuatnya terbangun dalam tubuh yang luar biasa pegal.
“…bangun, Charlotte. Pelajaran selanjutnya akan dimulai sebentar lagi,”
Christabel Vittore, yang dengan baik hatinya mengingatkan Charlotte bahwa sebentar lagi pelajaran Profesor Snape akan dimulai. Bagaimana bisa, sementara ia tahu dengan jelas ketaksukaan guru ramuannya itu akan murid-murid terlambat. Dengan cepat dibereskannya buku-buku dan perkamen yang tergelar di atas meja, memasukkan semuanya ke dalam tas secepat kilat sebelum kemudian menyambarnya, membereskan jubah dan rambut sekenanya dengan jari sembari berlari. Untung... untuk kelas ramuan hanya beberapa langkah dari Ruang Rekreasi Slytherin; kalau tidak, matilah dia!