Selasa, 13 Juli 2010 01.15
No Kiddycut / II
Tapi tak pernah sedikit pun ia berharap dari
apapun yang dirasakannya. Suara-suara yang menghantui kepala gadis itu tiap ia merasa kacau selalu bilang bahwa Charlotte gila, jadi mungkin perasaan aneh yang ia rasakan pada Czechkinsky hanya wujud kegilaannya saja—dan kegilaan tentu bukan hal yang patut dipenuhi. Apa yang harus ia fokuskan kini adalah kenyataan bahwa kepala Czechkinsky harus tetap utuh setelah rambut-rambut kepanjangan lelaki itu ia pangkas. Seperti Blake Guillory tahun lalu, diperlukan konsentrasi penuh untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya mudah ini. Yang jadinya terlalu riskan di tangan kurang pengalaman macam Charlotte. Apalagi dengan resiko munculnya gangguan-gangguan tak terduga macam Rexsilva Zaelfiques—kemungkinan gagalnya cukup besar.
Kini dapat ia dengar Czechkinsky datang. Lelaki Gryffindor itu sedang membasahi rambutnya dengan air danau ketika Charlotte sedikit tersentak dan dengan refleks menyembunyikan guntingnya di belakang tubuh—entah apa maksudnya. Ada senyum tipis-datar yang tersungging di bibir sang gadis Italia muda ketika bola mata beriris cokelat terangnya menangkap sosok si-teman-seangkatan. Lama tak melihat Czechkinsky dari dekat masih membuatnya pangling, meskipun kemarin malam mereka berdua mengobrol sedikit. Rambut panjang pemuda itu membuat penampilannya tampak lain.
Hm...
Charlotte berjalan sedikit cepat menjauhi pesisir danau ke dekat sebuah batu yang dinaungi rerimbunan jarang daun-daun muda. Awal musim semi membuat pepohonan baru memunculkan pucuk-pucuk daun. Rumput-rumput basah dari embun dan sisa-sisa salju yang baru menguap, matahari bersinar lumayan terik. Di akhir pekan pagi seperti ini selalu indah untuk dinikmati, bermalas-malasan apalagi melakukan hal-hal santai macam mencukur rambut. Setidaknya tak ada pelajaran yang harus memenuhi otaknya maupun Czechkinsky—mungkin—dan ia harap di antara mereka ada obrolan yang enak untuk dibicarakan sementara Charlotte merapihkan 'kepala' lelaki itu. Semenjak tak ada Dylan Klebold ia jadi sedikit kesepian, tak ada lagi yang bisa dibicarakannya. Satu-satunya orang yang mau mendengarkan gadis itu bicara kini hanya Bradley... tapi bocah itu pun sama sibuknya.
"Sudah punya banyak pengalaman dalam urusan ini, hng?""...lumayan," (berdiri di belakang Czechkinsky, mulai menggunting-gunting)
Ngomong-ngomong tentang Bradley, Charlotte jadi sedikit bersalah jika ingat adiknya yang satu itu. Si bocah yang mulai beranjak dewasa dengar-dengar sedang jatuh cinta. Ketika beberapa hari sebelum kepulangannya ke rumah di pertengahan musim dingin ia menanyakan kabar bocah itu dan Bradley malah merengut sambil mengatainya 'Kakak macam apa!', ternyata ia memang kurang memerhatikan bocah Bradley Crook. Gadis pujaan Bradley menolaknya mentah-mentah—kira-kira seperti itu—dan malah menjadikannya anak buah... sesuatu yang membuat perasaan adiknya terpukul.
Dan membuatnya merasa bersalah.
Charlotte masih terus menggunting sedikit demi sedikit rambut Czechkinsky sementara—tanpa diinginkan—benaknya malah melayang ke mana-mana. Ia mengingkari janjinya pada diri sendiri untuk tetap fokus karena kegagalan berarti kerusakan penampilan pemuda Gryffindor itu dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi pikiran-pikirannya tak dapat dihentikan juga tangannya yang masih menggunting. Ia memikirkan Bradley, rambut Czechkinsky, Bradley lagi, Rambut Czechkinsky, apa-apa yang dilakukannya sebelum pulang ke Liverpool...
...janjinya untuk memberitahu Black Cevalier begitu ia kembali, yang belum dilakukannya padahal ini hari kedua...
...lalu sesuatu tentang rambut Czechkinsky melintasi benaknya lagi meski samar-samar, berbaur bersama lamunannya tentang perkiraan keberadaan bocah berambut hitam yang dianggapnya 'adik' itu...
"Hola prefek Ryan cantik,"Sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya dan membuat gadis itu tersentak. Kelopak mata Charlotte melebar sebentar, sebelum dengan sedikit gelagapan ia menoleh pada seorang bocah kecil yang entah sejak kapan lumayan sering dilihatnya itu. Gavde, tingkat satu Slytherin, yang tiba-tiba saja berdiri di dekat
mereka—setidaknya menurut Charlotte. Ada jeda beberapa waktu sebelum akhirnya gadis itu sadar dia di mana, melakukan apa dan dengan siapa.
Memang ada rambut Czechkinsky—yang kini sedang dipotongnya—tapi tak ada Bradley maupun Black Cevalier.
...
Charlotte melamun; dan itu berarti...
Ia menolehkan kepala tepat ketika seorang anak berambut merah mendekat dan membisikkan sesuatu pada Gavde. Sherman.
"Czechkinsky... kenapa kau diam saja..." Suaranya mengecil dan merendah secara tiba-tiba, seperti bisikan putus asa—padahal kini ia sedang ketakutan setengah mati. Wajahnya memias. Sesuatu yang baru saja gadis itu lihat benar-benar hal yang tak diinginkannya
saat ini, apalagi Czechkinsky inginkan. Apa yang sebenarnya telah ia lakukan?! Bola matanya membesar sedetik, lalu perlahan tangannya naik. Ekspresinya seperti orang yang dipaksa memegang sebidang mata jarum ketika ia menyentuh hati-hati bagian kiri kepala Czechkinsky yang baru saja dicukurnya.
Tuhan...
...CHARLOTTE SALAH POTONG! KENAPA BAGIAN INI HAMPIR BOTAK?!
"A... Czechkinsky, akumintamaaf." tukasnya cepat, mundur selangkah dan menunduk dalam. Siap menerima kemarahan si lelaki Gryffindor.
Ukh. Akumintamaaf.