Selasa, 13 Juli 2010 00.55
Transfigurasi Kelas 5
Baru ia tahu kalau Arvid Zeelweger itu benar-benar brengsek.
...
Tolong—
tolong—jangan salahkan Charlotte akan resiko yang mungkin nanti akan gadis itu timbulkan pada apapun objek yang akan dihadapinya di kelas transfigurasi, karena semua yang akan terjadi murni kesalahan pemuda pirang sebelah sana yang telah dengan sukses menghancurkan moodnya yang bahkan tak diawali dengan baik sejak pagi—nampaknya ia sedang
PMS. Meski mungkin kesalahannya jugalah yang telah memulai kekeruhan dengan membuang buku Zeelweger begitu saja, tapi ia kira lelaki itu akan tahu diri. Nyatanya urat malu Arvid Zeelweger sudah putus; dengan muka tebalnya Charlotte ditinggalkan begitu saja seolah tak ada yang terjadi. Mempertahankan egoisme dengan melenggang tanpa memungut serakan bukunya
sendiri, mungkin dia kira Charlotte yang akhirnya akan menyerah dan memungut juga membawakan buku-buku pemuda itu meskipun tanpa 'maaf', tapi kau tahu ia sama egoisnya.
Gadis lima belas tahun berambut cokelat sepunggung itu masuk kelas hanya dengan buku-bukunya sendiri dalam dekapan. Duduk begitu saja di kursi terdekat yang bisa dicapainya karena ternyata Profesor McGonagall sudah menjelaskan tentang apa yang harus mereka transfigurasi hari ini, yang ternyata seekor siput yang kini sedang menjadikan mejanya lahan bermain. Yang membuat kedua alis Charlotte bertaut karena meski ia sedikit tak masalah dengan hewan bertubuh lunak ini, tapi lendirnya yang memenuhi meja mau tak mau membuatnya sedikit mual. Ia mengernyit sembari meletakkan tumpukan bukunya di kursi samping, tatapannya tak lepas dari si makhluk Gastropoda yang sedang dengan santainya bertamasya-meja.
Tak mengerti mengapa kedua manik cokelat terangnya tak mau lepas. Mungkin sedikit takjub, meski pergerakan demi pergerakan si hewan kecil membuat kerutan di dahinya semakin banyak, Charlotte akui baru kali ini ia melihat siput dari jarak dekat dan ternyata makhluk itu menjijikkan juga. Kini lupakan anggapan bahwa dia 'sedikit' tak masalah dengan makhluk berlendir di hadapannya, karena perut kosongnya mulai bergolak mual. Akan lebih baik kalau makhluk ini disingkirkan secepat mungkin seperti apa yang sang Profesor titahkan pada mereka, dan Charlotte selalu dengan senang hati melenyapkan apa-apa yang tak disukainya. Jadi ia mulai menarik Oak ini bulu Phoenixnya keluar, dengan ekspresi jelas tak nyaman mengarahkan ujung tongkatnya tepat ke arah cangkang si siput.
Tapi untuk sejenak yang dilakukannya hanya memejamkan mata dan menghela nafas berkali-kali—berusaha meredakan kemarahannya untuk mengantisipasi kalau-kalau mantranya nyasar, Charlotte tak mau melenyapkan siapapun-orang-di-depannya alih-alih siput di atas meja. Berusaha membayangkan wajah si siput sebagai wajah Arvid Zeelweger, sedikit mempermudah mengingat rasa benci selalu jadi faktor pelicin dalam hal 'melenyapkan'. Dan taktiknya tentu berhasil; senyumnya tersungging manis ketika di'lihat'nya Zeelweger bertanduk melata di atas meja. Si Pirang itu kelihatan lebih 'lucu'.
Konsentrasinya mati-matian ia fokuskan, membayangkan Arvid Zeelweger lenyap alih-alih siput secara menakjubkan ternyata begitu mudah.
"Evanesco!" tukasnya dengan sepenuh hati, menyentak tongkat sihirnya yang kemudian menghamburkan percik sinar kemerahan. Bola mata Charlotte membesar, singkat, lalu senyumnya tersungging puas. Kemarahannya jadi reda sebagian karena lenyapnya si siput meski tidak dengan lendir-lendir yang masih mengotori mejanya. Tapi kemudian bibirnya melisankan "Scourgify," pelan sebagai
finishing, dan semuanya kembali bersih. Sedikit sumringah dialihkannya buku-buku untuk beberapa pelajaran hari ini ke atas meja, jemarinya mengetuk ritmis, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi pada buku-buku Zeelweger di lantai koridor.
Dan itu menyenangkan, kau tahu? Mengetahui bahwa untuk beberapa minggu ke depan si Pirang Sialan itu takkan punya beberapa buku untuk dipakai di jam pelajaran. Merasakan Zeelweger suatu hari akan sadar, bahwa kesalahannyalah memperlakukan Charlotte seperti budak.
Because she isn't. Dan takkan pernah, sampai kapanpun, jadi budak siapapun.
(setelah thread
ini)