Selasa, 13 Juli 2010 00.55
Because I Said No / III
Bagi orang lewat yang memerhatikan mereka sekilas saja, mungkin posisi mereka sekarang ini kelihatannya lucu.
Dua orang Prefek Slytherin berdiri berhadapan di koridor, serakan buku-buku di antara mereka. Dengan ego masing-masing setinggi langit saling ngotot tentang siapa yang harus memungut buku-buku milik Zeelweger yang dijatuhkan oleh Charlotte. Tak ada yang mau mengalah. Bagi orang-orang itu mungkin kelihatannya Charlotte lah yang seharusnya memungut buku-buku yang telah sengaja dijatuhkannya.
Hei, kau harus tanggung jawab! Tapi meski kenyataannya seorang Charlotte Demelza Ryan tak pernah berlepas tangan akan apa yang telah dikerjakannya, dan ia selalu dengan penuh kesadaran mempertanggungjawabkan resiko-resiko yang pernah diakibatkannya, kasus yang ini lain dari yang lain.
Zeelweger telah berbuat seenaknya pada gadis itu, jadi
jangan pernah harapkan Charlotte bersikap pantas.
Bola mata cokelat terangnya balas menantang ketika sahutan Zeelweger semakin membuatnya kesal. Tak suka dengan kelakuan sok-santai pemuda itu yang membuatnya merasa diremehkan. Kemarahannya bukan untuk disikapi seperti itu, mengerti? Ia menghabiskan sekian kalori untuk menegangkan urat-urat kemarahannya, dan Zeelweger dengan enteng menenggak coke?! Lidahnya berdecak kecil, berdesis ketika Zeelweger mengucapkan kata 'lucu' dengan muka minta ditonjok. Dahinya berkerut.
"Aku bilang, ambil."Tatapannya perlahan membesar tak percaya akan keberanian 'Si Partner' memerintahnya. Membuatnya tak habis pikir... apa yang dipikirkan Zeelweger hingga berani memperlakukannya seperti ini. Apa anggapan pemuda itu pada Charlotte—dipikirnya dia Christabel yang baik hati, hm? Atau Callula Gazelle yang penurut?—hingga membuat raut wajahnya begitu tenang menghadapi kemarahan sang gadis. Apapun yang ternyata
salah besar.
"Aku bilang,
tidak." ia menukas tajam, menarik keluar tongkat sihirnya dalam satu gerakan lugas. Menghela nafas jengkel; satu mantra verbal teriring ketika Oak miliknya menyentak kasar. Menerbangkan buku-buku milik Zeelweger meluncur tepat ke arah sang pemilik dengan kecepatan yang tak terkirakan. "Kecuali kau mau aku memungut buku-bukumu dengan cara yang tak kau inginkan." sebelum melanjutkan dengan nada masa bodoh. Tatapan matanya tajam, menunggu si buku-buku menghantam apapun bagian tubuh Arvid Zeelweger.
"Kau tahu, Zeelweger? Aku tak suka diperlakukan seperti ini."
(menjentikkan tongkat)
BRUK BRUK BRUK.Satu kesalahannya: bermain mantra di koridor. Padahal dia—mereka—Prefek dan tak seharusnya melanggar aturan yang mereka tahu dengan pasti. Tapi ah...
...
...siapa peduli?
(Charlotte menjentikkan tongkat buat berentiin buku yang terbang. I enabled the Dice Roll. Kalo 1-10 berarti harus kena badan Arvid ya, 11-20 Charlotte jatuhin bukunya sebelum kena Arvid =)) *plakk* Btw, Charlotte lagi PMS *shot*)You rolled a:
5!