Selasa, 13 Juli 2010 01.07
Dua / II
Salah satu alasan yang membuat seorang Charlotte Demelza Ryan memilih danau sebagai tempat favoritnya adalah, selain karena permukaannya yang memantulkan cahaya matahari dan bulan, tempat ini begitu umum hingga kau bisa melakukan apa saja di pinggirnya, di pesisirnya yang membentang sepanjang halaman kastil Hogwarts. Ia pernah melakukan banyak—banyak sekali—hal di tempat ini... merokok masuk hitungan paling pertama; mendapati arti namanya yang ternyata begitu 'macho'; merumpi dengan para gadis; sampai menikmati sendiri pemandangan kunang-kunang ketika menyusup keluar kastil malam hari di kali pertama...
...yang kemudian menjadi alasan gadis itu begitu sering mengunjungi tempat ini ketika sepi: tak ada yang akan menjaringmu dalam patroli malam hari.
Tak terhitung sudah berapa kali ia menyusup keluar kastil dan menghabiskan malamnya di balik rerimbunan pohon sampai pagi; mendapati gaun tidurnya basah oleh embun dan kaki sewarna susunya lecet tergores rumput. Merelakan dirinya masuk angin hanya agar mendapat beberapa waktu untuk sendiri... berpikir tentang apa-apa yang tak boleh dibaginya dengan orang lain: keluarganya, ayahnya, kehidupannya di balik nama Charlotte Demelza Ryan yang sebetulnya begitu rumit. Charlotte selalu menikmati waktunya merekonstruksi ulang apa-apa yang pernah ia alami, membuatnya—secara menyedihkan—merasakan kehadiran orang-orang yang paling berharga di hidupnya. Tentang orang lain, tentang siapa-siapa yang tak bisa ia raih.
Mengejutkan menyadari bahwa pagi ini, yang dilakukan gadis bersurai cokelat gelap itu adalah menyesali betapa dirinya begitu tak berguna.
Dirinya. Charlotte Demelza Ryan. Yang biasanya sangat jarang-jarang ia lakukan mengingat menyesali diri sendiri tak pernah membuatnya merasa baik. Percaya dirinya begitu tinggi, dan Charlotte yakin semua yang dilakukannya adalah benar—untuk alasan-alasan yang orang lain tidak mengerti.
"Oi, bagi rokok dong!"Charlotte mengangkat kepalanya begitu terdengar seseorang meminta rokok, lamunannya dibuyarkan oleh suara berat seorang lelaki. Ia menoleh, mendapati Lazarov dengan setumpuk kayu yang fungsinya sendiri tak ia mengerti, kemeja lelaki itu basah oleh keringat. Kedua alisnya terangkat, bangun dan menepuk-nepuk jubahnya yang tercemar oleh debu, Charlotte kemudian mendekati Lazarov. Menaruh perhatian sangat banyak pada tumpukan kayu... satu tangan yang memegang rokoknya terulur hingga ke depan batang hidung si pemuda. Menggoyang kecil sebatang linting kertas putih yang masih utuh, bola mata cokelat terangnya bergulir kecil.
"Untukmu,"
Davidoff.