Selasa, 13 Juli 2010 01.07
Pesta Akhir Tahun Ajaran
"Charlotta Bontade! Kau seharusnya istirahat!"
"Gabriele Bontade! Hakku untuk kembali ke sekolah. Kau siapa? Kepala sekolah, heh?"
"Aku sepupumu—Demi Tuhan, kau masih sakit! Ngapain kau ke sana di saat-saat terakhir? Kau tidak menang award atau apa kan?"
"Aku hanya tak ingin melewatkan sesuatu yang menarik, Gabriele. Tenang saja, aku takkan mati."
"Apa itu?"
"Rahasia..."
Meja SlytherinDan Charlotte benar-benar yakin ketika berkata pada Gabriele bahwa ia 'takkan-mati', karena meski kelihatannya wajah gadis itu kini sepias mayat, tak ada yang dirasakan tubuhnya kecuali lemas yang begitu hebat dan keinginan tidur melebihi kebutuhannya untuk bernafas. Nafasnya yang tersengal kecil nyatanya masih bisa membuat gadis itu bangun dan berjalan, membereskan barang-barangnya di Hogwarts dan merapikan jubah dalam perjalanan ke Aula Besar untuk mengikuti Pesta Awal Tahun. Gabriele melarangnya begitu keras bahkan untuk kembali ke Hogwarts di akhir tahun (yang menurutnya amat sangat tak berguna karena sisa waktu murid-murid tinggal sehari), dan Charlotte tak yakin sepupunya itu akan setuju apalagi mengizinkannya ikut pesta dengan banyak orang dan makanan berlemak yang menurut Healer bukan makanan yang sehat untuk orang sakit. Dan meski kenyataannya dalam beberapa aspek larangan-larangan Gabriele masuk akal dan
memang benar, izinkan sifat keras kepala Charlotte yang mendominasi khusus malam ini.
Karena Charlotte tak ingin melewatkan detik-detik terbebasnya ia dari tirani kejam dan tak beprikemanusiaan naungan Tequilla Sirius. Dengan kelulusannya, berarti tak ada lagi yang bisa memperlakukan gadis itu semena-mena. Ucapan selamat tinggal tentu terlalu sayang untuk dilewatkan, Tuan. Mengabaikan penampilannya yang begitu mengenaskan dengan kantung-kantung mata menggelap seperti panda, Charlotte dengan sedikit tak acuh mendudukkan diri di celah kosong murid-murid Slytherin.
Satu tangan gadis itu bergerak membereskan rambutnya yang sedikit kusut sementara bola matanya melirik Tequilla Sirius memangku dagu di sudut lain Meja Slytherin. Ada dengus kecil yang tercipta ketika satu piala diangkat tinggi-tinggi. Membuat Charlotte meraih satu piala emas berisi jus labu dan ikut mengangkatnya, menyesapnya sedikit untuk membasahi kerongkongan, ia kembali meletakkan sang piala hingga kaki emasnya yang berdenting beradu dengan permukaan meja. Kembali melirik Sirius, tatapan senangnya begitu kentara.
"Cheers for Slytherin. Cheers for you, Sirius. Aku
sangat senang akhirnya kau lulus," ujarnya, meski sedikit lemah, begitu tulus dari lubuk hati yang terdalam.
Tentu saja bukan karena Charlotte bahagia Tequilla Sirius akhirnya meraih sukses dengan menamatkan pendidikannya di tempat ini. Tapi senang, bahwa akhirnya satu penganggu di hidupnya lenyap tanpa harus ia temui di kemudian hari.
Semoga