Selasa, 13 Juli 2010 01.08
Gerbong 6: Koridor / II
Karena bagi Charlotte semua orang tak ada bedanya...
Maka jangan tanyakan gadis kecil bersurai gelap itu perihal mengapa ia akhirnya memutuskan untuk mendekati Lazarov dan memulai secuil kecil interaksi, karena ia tahu interaksi itu takkan berarti apa-apa. Menawarkan sebatang atau dua batang rokok pada 'teman' satu asrama bukan hal yang perlu dipermasalahkan di kemudian hari, membayangkan meskipun Lazarov (mungkin saja) terkena serangan jantung atau impotensi karena rokok-rokok yang diberikannya semasa sekolah, Charlotte tentu bukan pihak yang patut disalahkan karena yang dilakukannya hanya
menawarkan, bukan menjejalkan batang putih itu di bibir Lazarov dan membakarnya sampai habis.
Takkan ada yang menuntutnya apapun, setidaknya, dari pemikiran-pemikiran gadis itu akan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Juga takkan ada sesuatu apapun yang menjadi alasan seorang lain memperbudaknya seperti sampah. Meski selentingan mengatakan Lazarov lelaki kasar yang tak ada baik-baiknya pada wanita, lelaki itu jinak juga setelah dijejali rokok. Pengalamannya mengajarkan bahwa lelaki kasar tak terlalu memakai otak, jadi Charlotte tak perlu terlalu khawatir. Ia sudah belajar banyak cara dan otaknya sama dingin dengan hatinya, beberapa hal yang ia pelajari dengan baik dari cara mendiang Ayahnya menjalankan bisnis keluarga.
"Kau bisa jadi pemasok rokok gratis buatku mulai semester depan,"Ia hanya tersenyum kecil sembari mendengus ketika Lazarov menawarkannya untuk jadi pemasok rokok, satu hal yang ia tahu dengan pasti takkan memberinya keuntungan apapun kecuali kebangkrutan finansial. Surai-surai cokelat gelapnya terangkat sedikit ketika Charlotte mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk memperhatikan sepatu... untuk kemudian menatap Lazarov sedikit tak percaya. Yang bisa kau terjemahkan sebagai 'Apa-kau-bodoh-dan-siapa-kau-seenaknya-bilang-begitu' yang ia harap bisa dimengerti pemuda berambut pirang gelap di hadapannya. Yang rasanya begitu menggelikan...
"Bagaimana?"...dan tak bisa Charlotte percaya ada nada serius pada kata terakhir penawaran Lazarov.
"Pulang ke mana musim panas ini?""St. Mungo. Menyenangkan sekali tidur di sana. Mau ikut?" tersenyum kecil, mengalihkan pandangan malas ke arah koridor. Kenyataan miris membuat kalimat sarkas harus keluar dari bibirnya yang memucat. Harus kembali ke St. Mungo... Ia kembali memusatkan pandangan pada ujung-ujung sepatunya yang membulat polos—betul-betul tak ada kerjaan untuk dilakukan. "Dan memangnya kau tidak mampu beli rokok sendiri, heh?" kemudian bertanya jujur, sekedar ingin tahu apa Lazarov betul-betul serius dengan penawarannya atau tidak—meski bukan maksud Charlotte untuk memenuhi. Tak bermaksud menyinggung...