Selasa, 13 Juli 2010 01.09
The Cure / II
13
Lalu suara yang dikenalnya itu datang di tengah kebingungannya akan segala hal, mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia-apapun yang kini sedang dipijaknya; membuat tubuhnya merasakan sensasi yang aneh sekali... rasa sakitnya kini terasa lebih nyata dan ada alas empuk di tubuhnya yang bergerak-gerak gelisah dalam lemah. Seolah berat badannya dijatuhkan begitu saja ke satu titik, suhu panas tiba-tiba merayapi kulitnya yang berkeringat. Ruang di sekitar Charlotte terdistorsi. Rasanya seperti beberapa saat sebelum ia jatuh tak sadarkan diri, baru saja. Ada hembusan angin semilir yang kemudian menyadarkan gadis itu bahwa kini ia sedang berbaring di atas sebuah ranjang yang tak terlalu kokoh, dapat ia rasakan selimut tipis menutupi sebagian besar tubuhnya yang berbaju katun.
"Charlotta, dengarkan aku..."Tapi tak sanggup membuka mata karena kelopaknya yang berat sekali... Charlotte menghela nafas kecil ketika jemari di satu tangannya dimainkan si pemilik-suara-yang-ia-kenal—Gabriele Bontade, sepupunya. Masih terlalu sulit untuk membuka mata dan menatap sang sepupu yang (menurut perkiraannya) duduk manis di samping ranjang, yang gadis itu lakukan tak lebih dari menajamkan pendengarannya yang mulai memeka sedikit demi sedikit. Seperti yang Gabriele minta dalam desah (sedikit) putus asa. Seperti yang lelaki itu harapkan dari seorang sakit yang tak bisa melakukan apapun selain mendengar... kedua alisnya mencoba bersatu ketika ada nada cemas dalam lantunan kalimat Gabriele, nafasnya sedikit tertahan ketika menunggu.
Na ah, now, I can hear you clearly... Apa yang ingin kau sampaikan padaku, Gabriele?"Aku penyihir,"...asal bukan sesuatu yang tak pernah gadis itu inginkan untuk ia dengar. Termasuk segala kenyataan yang selama ini ia telan bulat-bulat tentang keluarganya yang murni non-penyihir, dan ternyata selama ini ia telah dibohongi mentah-mentah. Setelah musim dingin lalu Charlotte tahu bahwa ternyata ibunya Squib, musim panas ini Gabriele mengatakan dengan jujur bahwa ia bagian dari komunitas pengayun tongkat dan pengaduk kuali—hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, sama sekali. Kenyataan tentang betapa ia begitu mudah dibohongi entah mengapa membuat kepalanya mulai sakit. Sekuat tenaga didorongnya kelopak mata agar membuka, namun hasilnya tak seperti yang ia inginkan: matanya tetap terpejam.
Gerakan-gerakannya yang semakin gelisahlah yang membuat Gabriele menatap keheranan dan menghentikan kalimatnya yang menggantung. Tapi sepertinya karena dia sudah terlanjur memulai, merasakan kemarahan sepupunya yang tak sadarkan diri, pucuk-pucuk rambut kehitaman Gabriele Bontade turun ketika kepalanya menunduk dan dia menelan ludah.
"Maafkan aku, Charlotte. Tapi kau tahu sendiri kuputuskan untuk mengerjakan bisnis keluarga setelah Ayahku terbunuh, lalu ayahmu, dan kemudian surat dari Hogwarts itu datang. Kuyakinkan diriku ini kesempatan bagus bagimu terbebas dari segala hal buruk yang mungkin saja akan menimpa keluarga kita—kau tahu sendiri..." ada jeda sedetik, sebelum sang sepupu melanjutkan
"Dunia penyihir tak serawan kelihatannya...kusembunyikan semuanya hanya agar kau bisa tenang sekolah di sana. Tapi lihat! Kini bahkan kau hampir mati karena lalat..."Dan mengangkat wajah lagi. Secara ajaib bisa Charlotte rasakan tatapan pemuda itu menelisik permukaan wajahnya yang memucat. Keheningan menyusup di antara mereka ketika Gabriele menghela nafasnya berat. Lalu bisik kecil mampir di telinganya... membuatnya benar-benar ingin tertawa meski kini kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Menggerakkan tangannya sedikit, ia mengusap lengan Gabriele pelan, membuat lelaki itu tersentak sedikit sebelum kikuk.
"Lalat, Charlotte. Lalat... Aku lebih rela melihatmu bersimbah darah daripada kurus kering seperti ini... Kau tampak sangat menyedihkan,""I am..." bisiknya pelan, menggeliat kecil, masih mencoba membuka mata.