Selasa, 13 Juli 2010 01.09
Gerbong 6: Koridor / III
Hanya demi kesopanan... kau tahu. Selain karena sebagai sesama orang yang sudah terikat dengan candu macam rokok Charlotte mengerti bahwa hanya rokok itu sendirilah, yang mampu meluruskan kembali garis-garis wajah Lazarov yang mengusut entah karena apa. Bola mata cokelat terangnya sempat melirik jemari pemuda itu di samping tubuhnya, tersenyum kecil mendapati sebungkus rokok tanpa isi teremas dengan kasar. Konklusi yang bisa ia ambil kemudian adalah Milan Lazarov membutuhkan benda itu—si ramping berkulit putih—yang ia realisasikan dengan uluran tangannya dan penawaran.
Kemudian bincang-bincang mereka terjalin santai. Tentang liburan, yang dibalasnya dengan sedikit statemen sarkas yang tak wajar, sedikit tak adil karena Lazarov tak tahu apapun dan harus menerima mentah-mentah apa-apa yang gadis itu muntahkan. Untungnya pemuda itu polos saja, tak terpengaruh oleh kekesalan Charlotte yang terefleksi dengan jelas lewat gestur dan kata-katanya. Charlotte hanya memerhatikan ketika Lazarov dengan cekatan menyalakan rokok, tak berniat sedikit pun untuk ikut mengepulkan asap. Menyusupkan kembali kotak rokoknya ke dalam saku. Senyum masamnya lagi-lagi terulas ketika Lazarov melanjutkan ucapannya... kedua alis gadis itu bersatu seiring dahinya yang mengernyit, tak suka, tapi sebatas itu tanpa niat membalas lebih jauh.
Karena selain tubuhnya yang terlalu lemah untuk melawan, cara bercanda Lazarov memang seperti
itu, dan rasanya lebih baik bagi Charlotte untuk sekedar menimpali saat ini.
"Penyakit tidur yang dibawa sekumpulan serangga musim semi lalu, seharusnya aku masih di St. Mungo saat ini," ujarnya sedikit jengkel, mencibir kecil ketika seorang anak Ravenclaw bernama Samsung Corby disebut-sebut. Charlotte tak pernah punya catatan baik dengan anak-anak asrama elang. "Dan mereka memang lebih licik dari sekumpulan ular... kusarankan sebaiknya kau jangan beli lagi, eh. Siapa tahu isi rokok yang dijualnya ternyata daun jelatang?" kemudian tertawa kecil.
Kedua lengkung alisnya terangkat ketika tiba-tiba sesuatu dijejalkan ke tangannya, sebuah tongkat sihir (?) yang sama sekali tak bisa ia tebak maksudnya apa.
"Jangan bilang aku tak tahu terima kasih." "Dan kau mau aku memantraimu?" ia menimang si tongkat sihir di tangannya.
...tanpa tahu bahwa sebenarnya itu hanya permen.