Selasa, 13 Juli 2010 00.54
Because I Said No / II
Because she said so, dan sebagai
seorang partner Prefek yang baik, Zeelweger harusnya menuruti Charlotte dan dengan patuh memunguti buku-bukunya sendiri sebelum minta maaf pada gadis itu.
Karena derajat mereka kini sama dan tak ada yang lebih superior di antara keduanya, jadi Zeelweger tak bisa memperlakukan Charlotte seperti ini. Gadis itu tentu masih cukup pintar dan ingatannya belum terlalu lapuk untuk dengan jelas mengingat betapa tak ada kata-kata 'membawakan buku' di perjanjian mereka beberapa minggu lalu, dan bukan hak Zeelweger lah untuk berlaku semena-mena padanya seperti sekarang. Ia tak kalah taruhan dengan telak dan Zeelweger tak punya tiga belas permintaan yang harus dipenuhinya. Mereka pun tak bernah sepakat untuk 'harus berlaku manis' sebelum permintaan-permintaan itu dipenuhi, jadi kenapa Charlotte harus mau?
Arvid Zeelweger bahkan bukan Tequilla Sirius, yang bisa mengintimidasi Charlotte sedemikian rupa hanya dengan tatapan matanya yang menyebalkan. Dan perjanjian mereka bahkan dibuat untuk menyelamatkan mukanya dari perbudakan setan pirang sialan itu di depan semua orang. Jadi kalau kini ia harus merelakan harga dirinya diinjak-injak dengan menjadi babu secara sukarela; tolong, beritahu Zeelweger untuk bangun. Karena Charlotte tak mungkin ingin.
"Ambil."Satu sudut bibirnya tertarik kecut mendengar kata-kata Zeelweger selanjutnya, ingat bahwa kata itulah yang diucapkannya pada Sirius bertahun-tahun lalu di tempat ini.
Ambil. Bola matanya bergulir kecil, dari punggung pemuda itu ke buku-buku di lantai dan seraut wajah menyebalkan setelah Zeelweger resmi berbalik. Ia tetap ajeg di tempatnya, tak melangkah maupun bergeming sedikit pun—dan dengan kedua tangan tetap terlipat di depan dada, Zeelweger harusnya paham kalau Charlotte takkan mungkin memungut barang-barang yang sudah dibuangnya. Ia tak mungkin menjilat ludah sendiri, kan? Lelaki itulah yang seharusnya memungut serakan buku-buku di lantai dan minta maaf pada Charlotte atas perlakuan semena-menanya.
Harus. Atau jangan harap Charlotte mau bahkan untuk sekedar bertatap muka dengan lelaki pirang di hadapannya. Apalagi membangunkannya setiap pagi.
"Tidak."
Jangan harap.