Selasa, 13 Juli 2010 01.08
Gerbong 6: Koridor / I
Ingatkan Charlotte bahwa setelah ini ia harus mengiris seluruh bagian tubuh Gabriele Bontade tipis-tipis. Meski salahnyalah telah begitu egois memaksa kembali ke Hogwarts di waktu-waktu terakhir hanya untuk memastikan Tequilla Sirius lulus dengan mata kepalanya sendiri, tapi bukan berarti ia bisa dicampakkan begitu saja. Surat dari sang sepupu sampai tadi pagi di kaki burung hantu, membawakan pesan-pesan merajuk yang benar-benar tak sesuai umur tentang kemarahan pria berambut gelap itu dan penolakan mentah-mentah atas permintaan Charlotte untuk menjemputnya menggunakan sesuatu yang lebih 'layak' dari Hogwarts Express untuk seorang sakit yang bisa pingsan kapan saja. Memaksa gadis Italia berambut cokelat itu mengepak barangnya ke dalam koper dan melempar tubuhnya masuk di kompartemen, meski setelahnya ia sangat-sangat tak betah dan lebih memilih keluar karena sekumpulan anak perempuan kelas satu bergosip di kompartemen
nya seperti ayam. Memenuhi telinga Charlotte dengan dengung-dengung aneh yang membuat kepalanya pusing.
Alih-alih marah, keluar dan mencari udara segar tentu penyelesaian yang lebih masuk akal untuk kondisinya yang seperti sekarang. Dalam kondisi bugar mungkin Charlotte bisa mengusir bocah-bocah-berciap itu dengan satu lambaian tongkat, tapi kini bahkan mengingat di mana tongkatnya tersimpan pun ia sudah tak sanggup. Kepalanya pusing, tahu, dan tubuhnya lemas seolah kekurangan ion tubuh. Tak yakin mereka takkan mengeroyok dan meninju wajahnya sampai lebam, maka kini langkah-langkah terseret Charlotte membawanya menjauh dari kompartemen. Menyusuri koridor demi koridor hanya untuk melihat kumpulan orang yang semakin ramai. Mengernyit tiap kali matanya mengintip celah jendela.
Kemudian langkahnya sampai di ujung gerbong, di satu ruangan kosong kecil tanpa dinding dan pembatas. Ada sebuah pintu kecil terbuka yang mengarah ke bagian belakang gerbong, dan karena ini gerbong paling akhir berarti dengan '
nangkring' di terasnya ia bisa melihat rel kereta yang merayap semakin menjauh. Setidaknya itu lebih baik dibanding harus berjejalan di sebuah ruangan sempit. Lagipula, bukankah di sini ia bisa merokok bebas?
"Wah, Lazarov. Cari angin juga?" sapanya sedikit kaget, menghentikan langkah tepat di samping seorang pemuda yang lebih dulu di dalam gerbong. Ikut menyandarkan tubuhnya yang sedikit lemas. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sekotak rokok yang langsung disodorkannya ke arah si pemuda, menawarkan, hanya karena ia
belum ingin sementara muka Lazarov seperti ingin mencekik orang.
Hey, calm down. Kau butuh angin segar, Man.