Selasa, 13 Juli 2010 01.10
Someone to Talk / I
Satu yang tak pernah Charlotte pelajari dari kehidupannya yang sedemikian rumit adalah, bahwa roda itu ada dan berputar. Ia sudah mengalami banyak hal di hidupnya yang baru genap lima belas tahun; tawa, tangis, kesal, sedih, bosan, kecewa, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya ketika ayahnya mati dan dibuat senang di beberapa kesempatan oleh hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, yang tak perlu ia jabarkan. Dua atau tiga tahun lalu kesepian menghimpit dadanya sampai sesak dan keinginan menginginkan Hogwarts begitu kuat tertanam di dadanya yang sedemikian rapuh, namun tahun lalu dijalaninya dengan sukacita... Hogwarts ternyata tak sebobrok kelihatannya. Ada 'mainan-mainan' bagus yang membuat suasana hatinya sedikit membaik. Bradley masuk urutan nomor satu... adiknya yang betul-betul manis itu, lalu si bocah Compton selalu membuatnya ingin tersenyum. Petrushka, si bocah bebal mata duitan nyatanya membuat Charlotte benar-benar senang mengerjai orang.
Tapi ternyata rodanya begitu cepat berputar lagi. Tak memberikan Charlotte kesempatan lebih banyak untuk menikmati hal-hal yang menurutnya ia senangi. Menghempasnya begitu keras hingga kedua tangannya tak sempat berpegangan maupun menggapai...
Kata-kata Gabriele di St. Mungo beberapa hari lalu tak bisa ia lupakan begitu saja, melakat di dendrit-dendrit otaknya bagai parasit. Aku penyihir, Charlotte. Cairan kuning di gelas Butterbeernya menciprat sejenak ketika jemarinya yang kurus pucat memutari pegangan gelas yang tak bergerak. Membuatnya tersadar sejenak dari lamunan panjang yang membawanya ke dunia tanpa fokus... membuat kepala dengan surai cokelat gelapnya terangkat dan menoleh. Membawanya kembali ke realita, ke Leaky Cauldron, dan kenyataan bahwa yang dilakukannya sejak setengah atau satu jam lalu hanyalah melamun tanpa sedikit pun menyentuhkan bibir gelas ke bibirnya. Gadis itu masih sendiri, menunggu entah apa, punggungnya bersandar lekat di sandaran kursi, mulai pegal-pegal.
Dirasakannya tatapan beberapa orang yang keheranan menghujam tepat ke kursi-kursi kosong di sekeliling meja yang ia tempati. Seolah berkata 'hei-gadis-kecil-kau-hanya-membuang-buang-tempat-saja' yang ia balas dengan tatapan tak kalah sengit. Karena ia masih ingin di tempat ini, masih ingin punya waktu untuk mencerna semua hal dengan kepalanya yang panas berasap dan hatinya yang mulai terkikis... karena ia begitu tak bisa menerima kenyataan.
"Aku penyihir, Charlotte."Karena ia begitu mempercayai mereka yang ia tahu adalah keluarganya. Karena ia, gadis itu, menyayangi mereka para Bontade. Dan setelah semua 'kareba-karena' yang telah dengan tulus ia rasakan, mengapa nasibnyalah untuk dikecewakan?
Yang ia butuhkan (mungkin) hanya teman, seseorang yang mengerti meskipun yang ia katakan hanya tersirat saja. Sayangnya Dylan Klebold sudah mati. Seperti semua orang yang perlahan mulai melebur dengan gelap.