Selasa, 13 Juli 2010 01.16
No Kiddycut / III
"Mintamaafuntukapa?""Untuk..."
Charlotte tak tahu apa Czechkinsky itu sebenarnya polos atau
naive, atau dia hanya ingin membuat Charlotte semakin merasa bersalah, yang pasti pertanyaan pemuda itu berhasil membuat rasa bersalah si gadis Italia semakin besar. Ia tentu masih tahu diri dengan merasakan secuil penyesalan, karena Charlotte bukannya tak punya hati. Dua kali sejak ia mengenal seorang Miloslav Czechkinsky... dua kali ia memaksa pemuda itu menjalani sesuatu yang jelas tak diinginkannya. Dua kali Czechkinsky berkesempatan membenci seorang Charlotte Demelza Ryan, yang ketika tak dilakukannya malah membuat rasa bersalah sang gadis semakin berkepanjangan. Dua kali... bisa kau bayangkan itu? Di tiga tahun kehidupannya ia tak sering menyesali perlakuannya pada seseorang, dan sekalinya ia melakukan itu, si korban—katakanlah yang paling sering memang Czechkinsky—malah membuat perasaannya semakin parah.
Kini kepala pemuda itu seperti kentang salah kupas—bagian kiri hampir botak sementara tengah dan kanan dipenuhi rambut—dan dia masih bisa bertanya untuk apa permohonan maafnya ditujukan.
...
Tolong, seseorang, tampar Charlotte sekarang juga. Atau bolehkah dia mengguncang bahu Czechkinsky agar pemuda itu sadar betapa keadaannya tak tepat untuk bertanya maafmu-untuk-apa?
...
"...untuk segala kesalahanku, tentu saja."
Meskipun kau belum tahu kesalahan apa yang baru saja kulakukan.Ia menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan lagak seperti seorang ibu yang kesal anaknya mengotori rumah, mengangkat wajahnya dan menatap Czechkinsky sedikit prihatin. Bola mata cokelat terang gadis itu sempat mengerling kedua bocah di samping sekedar ingin mengetahui reaksi mereka seperti apa, sebelum kepalanya kembali mengarahkan si pandangan ke pemuda berambut hitam yang tadi ditanganinya. Mengulum senyum—agak brengsek, memang—merogoh saku untuk mengeluarkan benda yang Czechkinsky minta, kemudian dengan (sedikit) berat hati mengangsurkan benda di tangannya untuk diambil sang pemuda.
Cermin, katanya. Berdoalah semoga Czechkinsky tak mencekik Charlotte segera setelah dia melihat bayangan kepalanya dari dalam cermin, karena kalau iya, maka matilah dia.
"Ini. Tapi berjanjilah untuk tak marah padaku apapun yang terjadi, 'kay? Aku berjanji akan membereskan semuanya. Sumpah, Czechkinsky, aku janji." ujarnya, dengan wajah sedikit merengut. Siap menarik kembali cerminnya kalau-kalau Czechkinsky bilang 'tidak', karena tentu saja Charlotte tak mau mati dicekik di pinggir danau. Tidak, apalagi oleh orang ini.