Sabtu, 30 Januari 2010 07.41
Kelas 4 - Semua Asrama (Herbologi) / III
Bukannya Charlotte lemah, atau manja seperti gadis-gadis yang makannya saja minta disuapi, tapi berurusan dengan cairan bernama nanah bukan hal mudah yang harus dilakukan bahkan untuk gadis yang hidupnya tak jauh-jauh dari senjata. Ia sudah pernah lihat darah—sering malah—mengucur dari hampir semua bagian tubuh orang-orang yang berkeliaran sepanjang waktu di rumahnya di Palermo, dari yang lukanya hanya perlu diperban sampai lubang-lubang berisi peluru. Gadis itu sudah tak asing; Gabriele pernah bocor di kepala dan lengan Giuseppe tak lagi semulus dulu—penuh bekas luka di mana-mana. Tapi darah tak sama dengan nanah. Nanah itu kotor, virus yang membengkak dan kotoran yang menjadi penyakit. Bagaimana ia, sebagai seorang gadis dengan hidup serba bersih bisa diharapkan memencet-mencet bisul berisi nanah?
Membayangkannya saja sudah membuatnya mual apalagi harus menyentuhnya (meski tak langsung) dengan jari-jarinya yang teramat peka. Bisa-bisa Charlotte muntah, nafsu makannya sudah meruap entah ke mana dan ia tak yakin warna wajahnya masih sama seperti dua puluh menit lalu atau tidak.
“Nanahnya—kalau kena tangan tak apa-apa tidak sih?”(sigh)Jemarinya yang mencengkram erat sebuah baskom plastik merah jambu untuk menadah tanpa sadar melonggar, menolehkan kepalanya ke arah Czechkinsky, sebuah tautan di kedua alisnya yang melengkung sempurna menandakan ia sedang berpikir. Sedikit menimbang-nimbang, masih tak yakin dengan apa yang ia baca, bahunya naik sedikit seiring bola matanya yang bergulir ke arah buku. Seingatnya nanah Bubotuber yang belum diolah memang tak aman untuk kulit telanjang, namun tepatnya bagaimana ia sendiri belum baca lebih lanjut. Tapi Charlotte tentu takkan membiarkan sang partner memiliki luka, jadi ia tersenyum kecil tanpa maksud, mengedik ke arah (kira-kira) lengan kemeja Czechkinsky yang tergulung.
"Sebaiknya kau buka gulungannya sampai pergelangan, nanah Bubotuber katanya merusak kulit," ujarnya masih tak yakin. Kembali mencengkram erat pinggiran nampan ketika si pemuda Gryffindor mengambil ancang-ancang siap menusuk.
“—usahakan kamu jangan sampai ketinggalan lah pokoknya.”"Uh-kay," satu desahan pelan, menelengkan wajah tak suka. Charlotte Demelza Ryan mengernyit hebat ketika satu 'SROOT' keras menandakan nanah mereka mengucur deras ke arah nampan. Ia segera saja menahan nafas tanda tak tahan, satu helaan panjang memenuhi paru-parunya dengan bau bensin yang menyengat.
Baru satu... gerutunya dalam hati. Tak yakin bisa bertahan sampai akhir.