Sabtu, 30 Januari 2010 07.41
They Perched on Their Stilts, Pointing and Daring Me to Break Custom
"—apa ini?" Jeda "Maksudku—untuk apa?"
"Ini—ini topi. Jangan bilang kekalahan membuatmu berubah jadi idiot dalam sekejap mata, Charlotte. Ambil." (menepukkan kedua tangan) "Dan tak ada yang perlu dimaafkan."
"Kau mau menyogokku dengan topi?" tatapan curiga.
"Tidak,"
"Lalu?"
"Lalu—tangkaplah Snitch itu di pertandingan berikutnya, kau idiot."
"Berhenti menyebutku idiot, Dylan. Kau menyebalkan."
Kalau bukan karena 'wejangan' si brengsek itu untuk menangkap Snitch di pertandingan berikutnya sebelum menghilang selamanya dari hadapan, Charlotte pasti sedang bergelung manis di balik selimut beledunya yang hangat di Kamar Anak Perempuan Kelas 4 Slytherin di bawah tanah. Nyata-nyatanya, berlatih Quidditch di hari yang begitu berangin di musim gugur seperti sekarang ini bukan ide yang terlalu bagus. Panas tubuhnya jadi aneh dan tak rata—pipi, tengkuk, tangan dan kaki Charlotte kebas kedinginan sementara tubuhnya hangat terlindung berlapis-lapis jubah yang ia pakai. Ia menghentak-hentakkan kakinya kecil sambil meringis, berjalan meninggalkan Lapangan Quidditch menuju kastil; jubah hijau-Quidditch Slytherin masih terpasang menutupi vest dan kemeja sekolah yang melekat di tubuhnya dan Nimbus 1975 mengilat baru di genggaman tangannya yang hampir mati rasa.
Pertandingan Quidditch antara Slytherin dan Hufflepuff tanpa diduga-duga hanya tinggal menghitung hari, dan Charlotte sebagai Seeker asrama ular tak bisa ongkang-ongkang kaki begitu saja sementara harga dirinya dipertaruhkan. Selain karena Tequilla Sirius sudah dapat dipastikan akan memenggalnya jika si kenari-emas gagal ditangkap, kata-kata Zaelfiques tentang betapa Hufflepuff akan berjaya dua tahun lagi mau tak mau membuatnya sedikit 'terbakar' untuk membuktikan, bahwa kini merekalah yang di atas segalanya—setidaknya dari Hufflepuff.
Jadi ia mau saja ketika si Kapten Pirang menyeretnya untuk latihan, mengabaikan perasaannya yang sedang sangat kacau setelah kedatangan surat dari Gabriele kemarin malam, dengan hanya mengayun-ngayunkan tangan untuk meraih, terbang di ketinggian sekian meter di atas tanah sukses membuat seluruh tubuhnya hampir menggigil kedinginan. Mengelus-ngelus tengkuknya yang bebas dari helaian-helaian rambutnya yang dikuncir kuda, Charlotte baru saja memikirkan alternatif penghangatan diri ketika di kebun, ia melihat gulungan asap mengepul-ngepul.
...
Charlotte jelas tahu itu apa. Sebagai seorang perokok, ia tak mungkin menyalahartikan asap-asap itu sebagai anak-anak yang tanpa kerjaan sedang membakar daun-daun kering.
Lalu ada helaian hitam dari kepala yang menyembul-nyembul di balik gerumbulan perdu. Menyipitkan matanya memokuskan pandangan, langkah kaki gadis itu perlahan mendekat setelah dengan penuh kesadaran mengenali satu dari dua yang sedang duduk memproduksi asap. Sapu terbangnya ia panggul asal di bahu kanan, ujungnya yang hampir menyapu tanah terseret begitu saja menciptakan jalur tipis di belakangnya.
“Terus, jangan dihisap melalui gigi, buka sedikit mulutmu. Kalau tidak nanti giginya cepat hitam.”Bradley Crook—seperti yang telah ia duga sebelumnya, gundukan rambut gelap berantakkan itu—membelakanginya yang sedang menyandarkan bahu di batang pohon, menghisap-hisap rokok sambil mulutnya tak berhenti memberi semacam pengarahan pada seorang anak lain di hadapannya. Ah, bocah itu... sudah berapa lama ya Charlotte tak lihat dia setelah kecelakaan tiba-tiba di kompartemen awal tahun lalu? Ia akui beberapa hari setelahnya ia sedikit menjauhi Bradley, apalagi di Pesta Awal Tahun. Tapi menyadari entah untuk keberapa kali bahwa semua itu bukan salah Bradley, dan dengan Dylan Klebold mendadak mati sehingga tak ada seorang pun yang bisa ia recoki, Charlotte jadi sedikit... err...
kesepian. Tak ada lagi tempatnya mengeluh ketika tugas-tugas membuatnya stress sampai hampir gila, atau kelakuan Tequilla Sirius mengganggunya sampai hampir menangis. Tak ada Dylan Klebold...
Jadi pada siapa lagi ia bercerita kalau bukan pada bocah yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu? Berdoa saja Bradley masih mau mengenalnya, diusir mentah-mentah bukan hal yang begitu menyenangkan di saat perasaannya tak karuan seperti ini.
Dengan wajah cemberut ia kemudian mendekat, menyandarkan sapunya begitu saja di batang pohon. Ditendangnya pelan lutut Bradley yang terjulur, sebelum kemudian duduk di sebelah bocah itu. "Hey Bradly, sombong sekali kau tak pernah ajak-ajak aku lagi," Mengibas-ngibas udara untuk mengenyahkan asap, Charlotte dengan gesit menyambar kotak rokok milik Bradley, mencuri sebatang, menutupnya untuk melemparnya kembali ke pangkuan sang pemilik. Tersenyum sedikit masam, tanpa sadar matanya menjelajah wajah si bocah seiring kedua alisnya yang bertaut dan dahinya yang mengernyit. Mencari-cari perubahan—sebelum sadar ternyata ada poni yang menghilang—ia manggut-manggut. Mengalihkan pandangannya ke depan, ke matahari yang sebentar lagi akan menghilang.
"Nanti kuganti," ujarnya, melinting rokok yang baru saja ia 'curi' sambil menyandarkan kepalanya ke belakang. Tapi tak kunjung membakarnya dan merokok, yang dilakukannya tak lebih dari memainkan si batang ramping di sela-sela jari sementara pandangannya setengah melamun.
'Bradly, kau tahu—Dylan Klebold mati kemarin'. Ada banyak yang ingin ia ceritakan sebenarnya, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Perasaannya masih benar-benar berantakkan.