Selasa, 13 Juli 2010 00.53
Meja Ravenclaw / IV
Karena kau terlihat kaya, katanya. Karena
Charlotte terlihat kaya.
...
...tapi meski kenyataannya kekayaan keluarga Bontade masih lebih dari cukup untuk membeli seumur hidup sepuluh orang macam bocah di depannya, membeli 'budak' hanya untuk kesenangan semata bukan investasi tepat yang dianjurkan di keluarga mereka yang menjunjung tinggi bisnis dan profesionalitas. Selain karena bocah-bocah macam ini manja dan tak berguna, bukan Sisilia yang suka bekerja keras, dan mereka biasanya makan banyak sekali. Kau tahu, orang pun pilih-pilih kalau mau membeli budak. Dan apa yang bocah ini pikir sebagai kelebihannya sehingga ia mematok harga yang begitu besar bahkan hanya untuk mengembalikan seekor anjing yang tak sengaja berlari ke arahnya? Sementara Charlotte sebagai pemilik sahnya saja belum sempat mengelus bulu anjing itu barang setitik, mana sudi ia membayar untuk sesuatu yang bahkan jelas-jelas
miliknya.
Dia pikir wajahnya yang [sok] [di]ganteng[-gantengkan] menyelesaikan semua pekerjaan? Pikirnya dirinya mendatangkan uang?
Charlotte mendengus begitu kentara ketika si bocah menyodorkan kertas bertuliskan angka. Ia hampir terkikik kecil melihat jumlah yang tertera. Menumpangkan kakinya yang mulai pegal, mengacungkan tongkat dan mengayunkannya pelan, satu mantra verbal dengan sukses mengalihkan kotak kirimannya dari Meja Slytherin ke Ravenclaw. Bisa ia llihat dengan maniknya yang cokelat terang kardus cukup besar itu melayang rendah dan berdebam pelan di depannya. Bangkit untuk mengintip, baru Charlotte sadari tak hanya anjing, tapi sebuah kotak yang bungkusnya sudah berantakkan tergeletak muram di dasar kardus. Ada nada rendah yang sumbang ketika gadis itu bersenandung sangat-sangat pelan (hingga ia yakin tak ada seorang pun yang mendengarnya) mengepit kotak lebih kecil dengan ibu jari dan telunjuknya yang melentik. Meletakkannya di atas meja, berniat melihat apa itu yang dikirim sang sepupu selanjutnya.
"Kau tahu aku takkan menghamburkan uangku untuk membelimu, bocah." lalu ia berujar, melemparkan pandangan [semi] mencela ke arah si bocah berambut hitam. Charlotte kembali duduk, jemarinya begitu santai mengelupas selotip dan merobek-robek kertas pembungkus hadiah.
Srek srek srek khusyuk yang tanpa jeda, yang kemudian berhenti ketika si gadis terdiam dengan tatapan tak percaya....
...akan apa yang dikirim Gabriele dalam kotak kecil berbungkus kertas itu. Raut jijiknya kentara sekali terlihat. Menarik keluar sejumput rambut dari kotak kardus, Charlotte hampir melempar benda di tangannya andai ia tak ingat ini Aula Besar. Tak percaya akan maksud terselubung yang membuat Gabriele mengiriminya boneka barbie-sampah seperti ini, ia mendesis pelan. Meletakkan boneka itu begitu saja di atas meja lebih dekat ke si bocah, senyum miringnya terkembang samar... membentuk seringai... yang kau tahu sendiri artinya apa.
"Heh, bocah. Kau mau main?"
Artinya, Charlotte sedang bosan. Dan dia butuh mainan. Tapi bukan dia yang akan bermain barbie, siapapun itu, kau bisa tebak sendiri dalam hati.