Sabtu, 30 Januari 2010 07.36
Pesta Awal Tahun / IV
Meja SlytherinEntah memang kelaparan atau rasa jus labu Hogwarts mendadak nikmat, cairan kuning di piala yang sedang disesapnya menyusut dengan cepat dan mendadak habis dengan hanya menyisakan sedikit genangan di dasarnya. Meski ia tak pernah begitu suka labu (karena menurutnya rasanya hambar), seolah mati rasa lidahnya menerima begitu saja segala yang ia asupkan ke tubuhnya malam ini. Cheesecake Blueberry tak seperti cheesecake, Jus Labu tak jauh beda dengan air putih, dan spagetti yang sekarang sedang coba ia makan tak jauh beda dengan rasa-rasa sebelumnya. Masa bodoh, perutnya benar-benar lapar dan yang dibutuhkannya kini tak lebih dari pengganjal perut agar tidurnya nanti benar-benar nyenyak. Setelah perjalanan seharian yang melelahkan, di tambah waktu makan malam yang
amat sangat tak menyenangkan, ia bahkan tak peduli jika harus bangun dua hari kemudian.
Eugh.Memutar-mutar garpu di tumpukan spagetti, menopang kepalanya dengan satu tangan, Charlotte Demelza Ryan memulai ritual makannya tanpa mengindahkan kesopanan. Tersenyum-seyum simpul saja mendengar jawaban dari Guillory. Menyuap asal saja sementara bola mata cokelat terangnya bergulir malas ke arah seorang Hufflepuff yang sedang berteriak-teriak. Dalam hati mengasihani Dawne muda yang lengannya ditarik-tarik. Namun terlalu tak punya minat untuk sekedar melambaikan tongkat lebih banyak, ia bahkan membiarkan saja Sirius dengan pidatonya sebelum Ketua Murid pirang itu bergegas meninggalkan Aula. Tanpa memperhitungkan potongan 'itu' yang tigabelas—mari kita anggap Sirius punya ingatan kuat hingga bisa ditagihnya esok hari.
"Jadi, Edrina, apa rasa lipbalmmu malam ini?"Nah nah. Kita lihat apa yang terjadi—
selanjutnya.
...
Tapi Demi Merlin, bolehkah ia menendang Heart jauh-jauh dari hadapannya agar musang homo itu tak lagi berulah sebelum semua makin parah? Heh—DIA KIRA APA MAKSUDNYA MENCIUM-CIUM ORANG DI ATAS MEJA SEPERTI ITU?! Mau mencari sensasi juga, hm?
Eugh. Charlotte refleks memalingkan wajahnya tak suka, mendorong pelan piring spagetti yang kini tak lagi menarik minatnya untuk makan. Ia mual, tahu? Pemandangan yang baru saja mampir di iris matanya yang cokelat terang meruapkan nafsu makannya jauh mengawang. Perutnya kini bahkan bergolak hebat; meski berlebihan, ia tak pernah suka pemandangan seperti itu.
Melebarkan pandangan sebelum kemudian berangsur berdiri, gadis Italia berambut cokelat itu perlahan bangkit. Meraih tongkat sihirnya yang tergeletak begitu saja di atas meja, menyusupkannya ke dalam saku, langkah-langkah cepatnya membawa gadis itu meninggalkan Aula Besar. Tapi bukannya berbelok ke kiri, ke koridor menuju asramanya, ia malah berbelok ke arah sebaliknya. Menjilat bibirnya yang asam—ah, sepertinya ia butuh tempat.
Di luar.
Enough. She's too tired now.
(out, see ya
here *shot*)