Sabtu, 30 Januari 2010 07.33
Gerbong #02: Kompartemen #01 / III
Jangan pernah salahkan ia atas apapun yang terjadi di kompartemen ini, tuan, ia hanya
korban. Partisipasinya pasif. Niatnya ke tempat ini hanya untuk tak melakukan apapun selain duduk nyaman menitipkan tubuh, menuntut tak lebih dari pengertian orang-orang sampai kereta tiba di stasiun berikutnya. Bukan maunya mendatangkan Tequilla Sirius begitu saja, seolah dia turun dari langit untuk menghukum umat; atau membuat Bradley jatuh terantuk, lalu kau-tahu-sendiri-apa itu terjadi. Inginnya—bukan sudah ia katakan berulang-ulang sejak tadi? Kau tahu sendiri ia hanya seorang gadis tanpa kuasa pengendalian nasib, hampir semua yang telah ia rencanakan dijegal penghalang di tengah jalan.
Sigh.Bahkan untuk hal sesepele ini? Istirahat di dalam kereta?
...
Satu hela nafas dilanjutkan dengan tatapan yang bergulir ke arah jendela, lalu tubuh yang kembali terduduk di kursi. Ia linglung sejenak. Sadar bahwa ini semua sama sekali bukan kesalahan Bradley, Charlotte berusaha meredakan apapun-itu perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Ia sama sekali tak heran melihat hampir sebagian pengunjung kompartemen mengungsi keluar, anak-anak kecil itu, mungkin mereka pikir ini kompartemen mesum tempat melakukan perbuatan asusila. Apalagi ketika Tequilla Sirius dengan latah mencium Christabel mesra tanpa memedulikan tempat, tak sadar segerombol anak kelas satu dan beberapa yang lebih tua menyalangkan matanya ketika mereka menyisir koridor untuk mencari kompartemen kosong.
Charlotte tersenyum kecut, mengerling Bradley untuk menyuruhnya duduk. Ia kemudian bangkit dan berjalan dengan acuh melewati Tequilla Sirius dan Christabel Vittore. Keluar kompartemen untuk mencari troli penjual makanan, gadis itu kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Ia lalu kembali duduk di tempatnya di dekat jendela, membuka tutup botol dan menenggak isinya. Ah... aliran air di tenggorokan membuat pikirannya kembali menjernih, jari-jarinya yang kemudian menyisir rambut secara refleks memberikannya relaksasi tak langsung.
Nah nah nah, just calm, Charlotte. Kau ke sini mau istirahat kan?
"Kusarankan kalian sedikit masuk dan menutup pintu," ujarnya tenang, gerakan tangannya memutar tutup botol. "Atau Ketua Murid kita yang baru akan memberi contoh tak sopan pada murid-murid di bawah umur. Kalian bahkan tak melangkahi pintu."
Ada senyum tak kentara tersungging di bibirnya ketika ia meletakkan botol air mineral di samping tubuh. Menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, tangannya kemudian bergerak merogoh saku mengeluarkan sekotak putih yang sedikit terbuka. Frontsmith berusaha mencairkan suasana dengan bertanya soal liburan, Charlotte lagi-lagi tersenyum penuh arti, mengayunkan kedua kakinya ringan ke depan dan belakang. Membuka tutup, mengeluarkan sebatang kurus dari si kotak berlabel Davidoff, ia lalu membuka sedikit celah di jendela sebagai jalan masuk udara. Benaknya memutar ulang kenangan-kenangan semasa liburan sementara angin menerbangkan rambut ikal cokelat gelapnya dengan liar, dalam satu gerakan ia berhasil menjalarkan api di pemantik ke batang rokok yang kini terselip di bibirnya.
Asap muncul, terhembus kemudian terbawa angin. Si gadis Italia muda tak melakukan apa-apa lagi selain mencoba menjawab pertanyaan basa-basi Frontsmith.
"Liburanku..." Prater, London, Diagon Alley; dia jadi merasa tak puas tiba-tiba ingat belum mengerjai Dimitrov Eamnnon sepenuhnya. "Aku menculik Czechkinsky ke Wina liburan kemarin," tersenyum janggal, "lalu jalan-jalan, Leaky Cauldron dan Diagon Alley—standar."
Ia menghisap sekali lagi Davidoff di sela jarinya, tak peduli kalau satu lagi detensi menyambutnya sebagai ucapan selamat datang di Hogwarts nanti. Manik cokelat terangnya menyisir wajah anak-anak yang tersisa; baca itu sebagai satu pertanyaan balik tentang liburan, tuan.
Davidoffnya.