Sabtu, 30 Januari 2010 07.32
Gerbong #02: Kompartemen #01 / II
Permohonannya sederhana saja, sebenarnya; sebagai seorang gadis yang kelelahan setelah menempuh perjalanan dengan mobil selama berjam-jam, yang diinginkannya hanyalah duduk tenang tanpa keributan untuk jam-jam berikutnya yang akan ia habiskan di kereta. Satu permintaan simpel,
klise—dari tiap-tiap orang dengan stamina rendah dan daya tahan tubuh serapuh kapas seperti Charlotte Demelza Ryan. Punggungnya sudah pegal menempel hampir sepanjang hari di jok mobil yang—meski mahal—tak memberinya lebih banyak kesempatan untuk bergerak. Gabriele tanpa henti menanyainya macam-macam yang membuatnya sedikit risih, memaksanya memfokuskan pandangan ke satu titik dan menggerakkan leher sedikit saja. Ia hanya ingin sedikitt istirahat, sayang. Perlukah ia memohon pada Tuhan hanya agar
teman-teman yang masuk kompartemennya nanti punya cukup otak untuk menutup mulut dan duduk manis sepanjang perjalanan?
Membiarkannya tidur dengan damai sampai Hogwarts Express tiba di Hogsmeade adalah satu-satunya opsi yang bisa ia tawarkan di kompartemen ini, sekarang, jika orang-orang itu juga ingin berbagi tempat dengan nyaman bersama si gadis Italia. Satu-satunya, sayang, tak ada opsi b, c, d, apalagi e—mengerti?
Lalu ia menghempaskan tubuhnya yang seringan kapas begitu saja di atas kursi kompartemen 1, busanya yang sudah tua menghamburkan debu ke udara. Sejenak manik cokelat terangnya bergulir malas ke arah jendela, memfokuskan pandangan pada seorang gadis kecil berambut merah dengan puffskeinnya. Bosan, ia benar-benar berharap matanya bisa terpejam sesegera mungkin, namun hawa panas dan kereta yang tak kunjung bergerak menghambat niatnya untuk terlelap. O, andai ia bisa terbang ke Hogwarts naik sapu, mungkin semuanya akan lebih baik—dan lebih cepat. Sistem Hogwarts memang tak selalu memuaskan, hal yang kurang disukainya.
Bulu matanya yang lentik bergerak cepat ketika ia mengerjap beberapa kali, ada geliat samar yang tercipta ketika gadis itu menoleh untuk melihat siapa orang
beruntung pertama yang mampir.
"Permisi, apakah kompartemen ini kosong?"Hoo... seorang anak baru dengan wajah hati dan rambut pirang. Sontak Charlotte mengangkat kedua alisnya—pertama untuk hari ini—menggulirkan bola mata sekedarnya tanda tak minat, sebelum dengan jelas mengerling kursi di hadapan. Kosong, bisa ia lihat bahkan dengan sebelah mata, yang berarti kompartemen ini bebas dimasuki siapa saja. Ia tak terlalu nyaman, sebenarnya, dengan sapaan-sapaan basa-basi yang memuakkan itu. Tahu mereka sama lelahnya, dan senyum yang terulas di wajah mereka yang bagai boneka tak lebih dari sebuah kepalsuan belaka. Jangan pernah berpura-pura di depan Charlotte, tuan, ia takkan senang.
“—bebas diisi.”Beruntung seorang gadis kecil berambut hitam datang, menggantikan perannya sebagai resepsionis. Orang
beruntung kedua di kompartemen nomor 1, yang lagi-lagi hanya ia tatap sekedarnya. Tunggu, sampai mereka berulah baru ia akan turun tangan. Untuk sekarang lebih baik terlihat tak peduli—gesture yang ia keluarkan bahkan hanya memindahkan kedua tangan ke pangkuan. Melirik sekali-sekali ke arah pintu, mendapati gadis itu masih berdua, lalu tiba-tiba seorang pirang jangkung mendekat—ia mengerjap—dan sebuah sapaan mampir di telinganya yang tak fokus.
Yo, Demelza, katanya, dilanjutkan sebuah pertanyaan retoris tentang 'itu' yang masih 13.
...
Dan Demi Tuhan, andai kata-kata barusan bukan keluar dari bibir seorang Tequilla Sirius, yang akan dilakukannya hanya tak peduli. Mengerling malas seperti sebelumnya dan memilih untuk memperhatikan seorang random di luar sana. Tapi itu... Tequilla Sirius
asli, sedang berdiri dengan senyum timpang brengseknya dan rambut pirangnya yang menyebalkan, mengungkit-ngungkit tentang 'itu'—kau tak perlu tahu apa yang dimaksud dengan 'itu'—yang mengerikannya
memang masih 13.
"Ah ya hai, Sirius.
Hai," balasnya dengan nada ramah dibuat-buat, seulas senyum masam menghiasi bibirnya yang merah muda. Dahinya berkerut sebal, tatapan tak sukanya begitu kentara. Jangan salahkan kalau balasannya tadi begitu tak menyenangkan, kolaborasi dari
sedih atas kedatangan Sirius dan keharusan untuk bersikap 'manis'. "Hng ya... yayaya... masih 13." lanjutnya dengan tak suka. Sangat sulit mempertahankan sikap 'manis' di depan si Prefek Pirang sementara lelaki itu bersikap seolah minta dicekik. Jadinya kelewat janggal, ekspresinya seperti orang menahan sakit.
Pun ketika Frontsmith datang, dengan cerianya menyapa semua orang di kompartemen—Charlotte mengangguk, tak sanggup memberikan balasan lebih dari itu. Seorang gadis asia berambut hitam dan bermata segaris tiba-tiba masuk lalu menyapa anak berambut hitam lain yang sudah datang pertama tadi, bertanya teman—Charlotte tak peduli. Fokusnyalah kini Tequilla Sirius, sudut matanya memicing curiga yang berlebihan. Sudah sepantasnya, mengingat lelaki di depanlah sumber bencananya dua tahun ke belakang, kedatangannya berarti malapetaka.
Demi Tuhan. Dan ia melihat Bradley Crook...perangainya yang riang khas anak kecil membuat bocah itu datang dengan tergesa, sebelum tiba-tiba saja tubuhnya limbung.
(?)
Bola mata Charlotte membesar tak mengerti ketika tubuh Bradley mengarah padanya tanpa kendali, kedua tangan bocah itu menggapai-gapai tanpa pegangan. Anak lelaki itu akan jatuh, tentu, dan menurutmu apa yang seharusnya ia lakukan? Menahan tubuhnya? Memperingatkan dia untuk jatuh di tempat yang tepat? Berteriak agar orang-orang menolongnya? Bergeser agar Bradley punya tempat untuk jatuh? Atau—
...
"Aa... I... U... E... O...?" ...
—hei hei, ia tidak menyebut 'ciuman' sebagai sebuah alternatif penyelamatan-Bradley; tapi apa namanya ketika ada bibir yang bertemu kalau bukan kau-tahu-apa? Charlotte yang kaget buru-buru berdiri untuk menghindar, kepalanya membentur wajah Bradley yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Mungkin Bradley akan jatuh (lagi), atau mungkin tidak, yang pasti...
ia kaget. Rona merah menjalari wajahnya yang putih pucat sampai ke leher, ekpresinya benar-benar tak percaya. Mengerjap sekali, manik cokelat terangnya menyorot Bradley dengan tatapan minta maaf, dilanjutkan dengan penyisiran ke sekitar:
Si bocah Asia keluar begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang menurutnya menjijikkan; ada yang mengiintip sebatas pintu, yang kemudian ia sadari sebagai Bledin; anak baru berambut pirang mengintip dari sela-sela jari; satu anak berambut hitam lagi pergi; lalu Christabel. Christabel Vittore muncul begitu saja. Christabel yang itu...
Dalam sekejap kompartemen yang semula akan ia gunakan untuk tempat peristirahatan berubah jadi pasar malam—ramainya lebih dari yang ia perkirakan. Lagi-lagi ada jalaran merah yang muncul di kedua belah pipinya yang kembali memucat; marah, kesal, malu... (di poin ini entah mengapa ia benar-benar menyesali keberadaan Tequilla Sirius di dekat pintu, mencoba mengenyahkannya dengan tatapan tajam) Satu tangannya ia sentuhkan ke dinding, sementara satu lagi pasrah begitu saja di samping tubuh. Ia, Charlotte Demelza Ryan benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Katakanlah, ini kalinya yang pertama dan dengan orang-orang sebanyak ini, meski hanya kecelakaan, tetap saja memalukan!
...hei, tak bisakah orang-orang membiarkannya tenang barang sekali?
Hush hush.