Sabtu, 30 Januari 2010 07.28
Bunga Segar untuk Mereka Yang Bayar / II
Kita lihat seberapa manjur.
Satu... dua... tiga...
“Loud and clear, darling. Loud and clear,” (senyum)
Puji Merlin, baru ia tahu kalau memanggil seorang Dimitrov Eamnnon bisa dengan cara semudah ini. (evilsmirk)
Charlotte lalu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, mengubah layar pandang matanya dari berpot-pot anggrek dalam lemari kaca menjadi sesosok tubuh tegap orang dewasa—Dimitrov Eamnnon. Menyesali kenyataan betapa tinggi tubuh mereka terpaut jauh, ia menengadahkan kepalanya kecil sebelum tersenyum penuh arti, sedikit masam. Ada binar aneh di matanya yang kini sedikit menyipit, campuran antara kemenangan dan penasaran. Charlotte tentu tak datang ke tempat ini tanpa tujuan. Niat utamanya untuk mencari tahu perihal sang sepupu yang sulit dihubungi. Siapa tahu... Eamnnon tahu? Ya... ya...
Siapa tahu Eamnnon mau memberitahu Charlotte."Wah wah wah, cepat sekali Eamnnon. Padahal aku baru saja akan menyapa
anggrek-anggrekmu yang cantik," ujarnya sambil tersenyum (palsu), refleks menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan satu jari.
"Get away from my ladies, Ryan. They're not yours to touch. Untuk apa kau ke sini hari ini?""Itu sakit, Eamnnon," tukasnya sambil mengernyit, mengusap-ngusap dahi-bekas-disentilnya pelan. Charlotte cemberut kecil, melirik Ziegmowit yang sedang memangku ayam sekilas—ayam pemberian Eamnnon, ia lihat bayangan om-om itu ketika menyerahkan ayam dari pantulannya ke kaca lemari. "
O' really? So when will you send me your wedding invitation—with one of your ladies, huh? Kau playboy juga ternyata, pacarmu selemari," celanya asal. Melempar pandangan pada
anggrek-anggrek Eamnnon, Charlotte dengan sedikit acuh berjalan ke arah iris-iris yang dijual sebagai tema tahun ini.
Pembeli Fleur de Lys tanpa ia sadari bertambah banyak, membuat toko dengan dinding-dinding kaca ini bertambah sesak. Bunga-bunga mekar berserakan dari pot-pot mereka, menjulurkan sulur-sulur kehijauan yang membuat ruangan ini kelewat asri—sangat kontras dengan keadaan di jalanan Diagon Alley, di mana debu-debu beterbangan dari balik kaki-kaki manusia. Charlotte mendekati bunga iris terdekat, yang warnanya sedikit kalem dan mahkota-mahkotanya serapuh tisu, plang bertuliskan 'Karin von Hugo' tergeletak apik di depan vas berisi lebih dari selusin bunga. Ia mengambil satu, menilik dari atas ke bawah tanpa ada maksud apa-apa.
"Seingatku Gabriele bilang kalau kerjaanmu menghasilkan banyak uang, bukan beternak ayam," ia mengambil tiga batang lagi, menyatukannya dalam genggaman. "Aku heran bagaimana lelaki sepertimu bisa berbisnis bunga seperti ini. Kusarankan kau menikah dan mencari seseorang untuk memupuki tanaman, Eamnnon. Jadi kau bisa mengurus
pupuk lain yang menyuburkan anggrekmu yang berharga itu. Aku ke sini hanya untuk beli bunga kok." derap langkah gadis itu membawanya kembali menghampiri Eamnnon. "Dan menjengukmu," tersenyum lagi, "dan ternyata kau baik-baik saja kan, hm? Aku beli lima tangkai ini. Bungkuskan dong,"
Basa-basi, yang sejak tadi ia lakukan. Sekedar mengulur waktu, menunggu saat yang tepat untuk bertanya di mana sepupunya. Nanti. Saat pengunjung-pengunjung ini sudah selesai dengan urusan mereka.
Ia menyerahkan bunga di tangannya pada Eamnnon.