Sabtu, 30 Januari 2010 07.34
Pesta Awal Tahun / I
[Meja Gryffindor]Niatnya untuk bersenang-senang di hari pertama kedatangannya di Hogwarts kandas sudah.
Terima kasih.
Satu kesialan baru di awal tahun yang ia harap baik dan menyenangkan; seharusnya ia tahu kalau harapannya sia-sia. Awal yang tak bagus yang seharusnya diteruskan, begitu ilmunya, semua berawal dari bibit. Biji yang busuk tak pernah menumbuhkan pohon yang subur, sapi yang mandul takkan pernah bisa membuat anak. Satu tahun yang diawali dengan serentetan kecil insiden dan Tequilla Sirius bisa kau simpulkan dengan pertanda buruk, alih-alih hanya dijadikan mc atau mengurusi event-event kecil yang diadakan sekolah, jatuhnya nanti pasti lebih buruk. Sesuatu yang mengerikan mungkin akan terjadi pada kehidupan Charlotte dalam kurun waktu setahun. Oho, bilang ia berlebihan, keterlaluan, atau apapun yang sanggup kau katakan tentangnya; tapi firasatnya memang sudah jelek sejak awal, dan pengalamannya mencatat kalau dengan awal tahun yang normal saja hari-harinya kemudian sudah tak menyenangkan, apalagi dengan awal tahun seperti ini?
Padahal dia sudah senang, tuan. Liburannya tak buruk-buruk amat seperti tahun-tahun belakangan, meski itu tanpa sedikit pun campur tangan dari keluarganya. Tapi ia akui Prater membuat otaknya waras selama beberapa waktu, dan dengan adanya Dimitrov Eamnnon di Fleur de Lys, 'kunjungan-Diagon-Alley'nya jadi tak begitu basi. Ia juga kini punya sapu—benda yang ia harapkan bisa jadi pelampiasannya di saat-saat tak menyenangkan—dan (lagi-lagi) berharap pertandingan-pertandingan Quidditch selanjutnya bisa ia lalui dengan gemilang. Tapi kejadian di koridor menguapkan harapan-harapannya dengan cepat. Kini perasaannya sehancur batu yang dibombarda—
—
DUARR!Meninggalkan kepingan-kepingan asanya yang ia sendiri tak tahu di mana. Tercecer begitu saja.
Berjalan cepat-cepat meninggalkan kereta dan menaiki kereta Thestral pertama menuju kastil, gadis dengan rambut cokelat gelap itu menghela nafas lega begitu kedua kakinya menjejak lantai pualam Sekolah Sihir Hogwarts. Ia berjengit kecil sembari mengeratkan jubahnya dalam-dalam. Satu tangannya mengusap tengkuk pucatnya perlahan, sementara satu tangan lagi entah sejak kapan menggenggam bibir sebuah topi baseball warna hitam. Langkahnya tak berhenti, menciptakan gema-gema yang terdengar sepanjang koridor juga Aula Depan. Ia menimang pemberian (atau penitipan?) Dylan Klebold di kedua tangannya yang bebas, bertanya-tanya di mana si pemuda untuk dimintai maafnya.
Nyala seribu lilin Aula Besar sempat membuat kedua kakinya terpaku sedetik. Mengerjapkan kedua kelopak yang menaungi iris cokelat terangnya, Charlotte Demelza Ryan melanjutkan langkah dengan sedikit enggan. Ia sempat berpikir untuk langsung ke kamar saja, membungkus diri dengan selimut. Tapi pengumuman-pengumuman dari Profesor Dumbledore terlalu riskan untuk diabaikan. Dan lagi, ia tak punya ide sama sekali untuk bertanya pada siapapun
temannya di Slytherin.
Bola matanya melirik meja staff di mana Profesor Dumbledore dan jajaran guru berceloteh dengan asyik, Profesor McGonagall berdiri diekori para murid, kemudian ke topi seleksi yang sedang asik menguyah. Kerjapan kecil mengiringi pandangannya yang tertumbuk ke kandang para singa. Berpikir sejenak, ia tiba-tiba ingat punya urusan dengan salah satu yang dengan kurang ajarnya telah ia perlakukan tak manusiawi liburan kemarin. Hoho... ini lebih baik daripada harus memulai percakapan di sarang ular sebelah sana—
"Hei, kau lihat Czechkinsky?" tanyanya pada seorang di paling ujung, menyipitkan pandangan menyusuri meja berlambang singa. Langkahnya membawa ia mendekat.
—lagipula, ia sedikit enggan bertemu Bradley Crook saat ini. Tanya kenapa.
Siapapun yang mau disapa charlotte :"> *shotshot* =))