Sabtu, 30 Januari 2010 07.30
Gerbong #02: Kompartemen #01 / I
Ah ya...ini, satu lembaran baru lain dari sebundel kehidupannya yang monoton. Satu putaran jam pasir lain; satu kesempatan bermain lain di wahana
merry-go-round di taman bermain berlabel 'kehidupan'; satu judul fim baru di antara kisah-kisah tentang sang tokoh utama; satu garis lain yang memulai sketsa; satu tarikan lain yang memulai simpul...
The beginning.
Pada hakikatnya ia sudah menjalani fase ini selama beberapa kali, sejak kehidupan sekolahnya sebagai penyihir dimulai, siklus hidupnya selalu berulang dengan pola yang sama.
Selalu diawali dengan satu kompartemen umum yang harus dia bagi di perjalanan menuju Stasiun Hogsmeade dan diakhiri dengan secangkir Buttebeer hangat di Leaky Cauldron awal tahun berikutnya. Biasanya ia akan mengalami banyak hal yang sebagian besarnya tak menyenangkan di kastil, lalu menggelandang di pinggir-pinggir jalan London—terusir dari rumahnya sendiri di pinggir pantai sementara sang sepupu mengambil alih bisnis keluarga—sebelum kembali dengan putus asa ke pelukan dunia sihir—menghambur-hamburkan uang di Leaky Cauldron dan Diagon Alley sampai gerbong-gerbong kokoh kemerahan Hogwarts Express membawanya kembali ke kastil—dan menjalani kehidupan klise yang tak jauh beda dari sebelum dan sebelumnya.
Jarum panjang jam besar Stasiun King's Cross merujuk tepat ke angka dua belas ketika kedua kaki khas gadis remaja seorang Charlotte Demelza Ryan menjejak aspal jalanan London, bandul raksasanya yang khas menciptakan dentang empat kali yang terdengar hampir ke seluruh penjuru stasiun dan parkiran, bunyinya yang tepat seolah menyambut sang gadis dengan sapaan selamat datang. Ini hampir mirip seperti tahun lalu, ketika ia turun dari Cadillac yang sama di awal musim yang sama, dan tebak—tak ada orang lain selain Gabriele yang menyupiri mobilnya setiap awal tahun. Stasiun benar-benar ramai sejauh manik cokelat beningnya memandang. Tanpa banyak protes ia kemudian turun, dengan segera membanting pintu yang berdebam halus dan berjalan buru-buru menuju peron. Diikuti Gabriele Bontade di belakangnya; tanpa membeli tiket, tanpa menoleh kanan-kiri cari kenalan, dua sepupu yang baru beberapa detik sampai itu hilang ditelan kerumunan.
"Take care," suara rendah dan irit Gabriele Bontade tenggelam di antara hiruk-pikuk pengunjung Peron 9
3/
4 yang bagai di pasar, nadanya yang datar dan monoton membuatnya hampir tak terdengar.
Charlotte Demelza Ryan berdiri di hadapannya, setingkat lebih tinggi berdiri di pintu gerbong dengan jemari mencengkram erat pegangan baja, sebagian lagi di pegangan koper. Seulas senyum tersungging di wajahnya yang semula bosan, singkat saja pada sang sepupu yang baru akan ia temui di musim panas selanjutnya. Satu tahun lagi—lagi-lagi ia harus meninggalkan satu dari hanya segelintir keluarga yang ia miliki, padahal waktu yang dihabiskannya bersama mereka sama sekali tak lebih dari cukup, hanya untuk sebuah bangunan bertitel sekolah. Meski ia tahu yang baru saja meluncur dari bibir Gabriele tak lebih dari klise yang telah lama basi, tapi bagi Charlotte rumahnya di Waterloo sejuta kali jauh lebih baik dari Hogwarts. Meski ukurannya jauh lebih mini.
Ia bukannya benci Hogwarts, sayang. Tapi sebagai (katakanlah) anak kecil, siapa sih yang mau berpisah sekian lama dari sanak saudara?
"Hm...you too, Gabriele. Jangan sampai aku mendengar beritamu mati saat sedang sarapan," ujarnya, sebuah senyum simpul mengiringi.
"Tentu," si lelaki Bontade balas tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang berjajar rapih. "Berita kematianku akan sampai saat kau makan malam. Nah, pergi cari tempat duduk sebelum penuh, atau aku harus menyediakan kursi untukmu di koridor."
Tapi takdirnya telah digariskan, dan sekeras apapun usahanya untuk membelokkan garis meski hanya beberapa derajat memang takkan berhasil. Sepupunya bahkan menginginkan ia tinggal di Hogwarts lebih dari apa yang bisa ia jalani, keberadaannya bukan lagi prioritas sejak Don Stefano tak lagi menghembuskan nafas dan berjalan dengan dua kaki. Ayahnya kini hanya seonggok daging dan tulang yang sedang terurai bakteri jauh di dalam tanah, dan pikirmu, apa yang bisa ia lakukan?
Jadi ia hanya mengangguk, desah kecil mengiringi tubuhnya yang berbalik. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu kalau Gabriele tak ada lagi di belakangnya, sepupunya yang baik hati itu pasti sedang dengan tergesa meninggalkan stasiun untuk mengurusi apapun itu bisnisnya yang terkutuk. Beberapa langkah membawa sang gadis Italia ke satu kompartemen terdekat. Tak mau repot, ia langsung saja menggeser pintunya dan meletakkan kopernya asal di dalam sana—toh ruangan ini kini kompartemen
nya. Yang berarti ia bebas menentukan siapa-siapa saja yang boleh duduk di ruangan yang sama dengannya. Asal kau mengunci mulut dan tak berulah, sepertinya gadis itu tak keberatan.
Bukan apa-apa, Charlotte hanya sedang tak ingin diganggu.
...atau rasakan sendiri kemarahannya.
Maaf, boleh pesan satu tempat buat adikku Bradley? Aku tak sanggup kalo berpisah dengannya :| Thanks :| *shot*