Sabtu, 30 Januari 2010 07.29
[FanFic] The Last
Disclaimer: Dunia Hogwarts JK. Rowling, of course. Dylan Klebold milik bleki dan sedikit Tequilla Sirius milik dika. Lagu Kisah Klasik milik Sheila on 7. FF ini hasil RC saya dan bleki
jadi maaf aja kalo kebanyakan dialog, maaf kalo jadinya aneh m(_ _)m.
Saya persembahkan karya saya ini untuk pm Dylan Klebold, juga pm Tequilla Sirius yang hari ini ulang tahun

maaf kalo cuma bisa ngasih sampah. Happy birthday, dear. *hug*
Irene, btw.
Hai.
Namaku Charlotte Demelza Ryan, seorang wanita dua puluh lima tahun dengan kulit sewarna susu. Bola mataku cokelat terang, begitu pula dengan surai-surai ikal yang menjadi mahkotaku, hanya saja yang ini sedikit lebih gelap. Mereka biasa memanggilku Charlotte, atau Mrs. Ryan, dan tak ada yang istimewa dariku kecuali keluarga kami pemilik satu-satunya pohon anggur cukup besar di halaman, di kota kecil yang cantik ini. Orang-orang mengetahuiku sebagai seorang ibu rumah tangga yang rajin menyapu teras, dengan seorang suami pengacara di kota besar, pindah hampir lima bulan lalu karena anak kami mengalami gangguan sesak nafas dan rajin ke gereja. Tak ada kecurigaan sedikit pun dari tetangga-tetangga tentang bagaimana masa lalu kami sebelumnya; betapa kotornya bisnis keluargaku di Italia dan kenyataan bahwa sebenarnya, kami berdua penyihir.
Iya, penyihir. Kau tahu, yang punya tongkat dan terbang dengan sapu. Juga mengaduk kuali. Pekerjaanku sehari-hari di rumah sebenarnya melayang-layangkan perabot rumah tangga agar mereka bekerja sendiri. Sementara aku menjaga buah hati kecilku dengan pipi tembam dan rambut ikalnya yang seperti mie, menjaganya agar tetap hidup. Karena itulah mengapa jendela-jendela besar kami yang menghadap jalan selalu tertutup. Kami menyimpan semuanya dengan rapat, mengunci masa lalu kami jauh di dalam benak masing-masing dan berjanji untuk tak mengatakannya pada siapapun tetangga baik hati yang baru kami kenal. Ada lembaran-lembaran baru yang baru saja kami buka, yang ingin kami tulisi dengan tinta hitam tanpa dosa, jauh dari kehidupan kami, kehidupanku yang dulu begitu tak menyenangkan.
Sekarang, panggil aku Charlotte. Bukan Charlotta, bukan Bontade, bukan Demelza…
Tapi meski begitu, meski sekeras apapun usahaku untuk melahap masa laluku hanya untuk konsumsiku sendiri, entitas bertajuk ‘kenangan’ itu selalu coba kumuntahkan. Pernah suatu hari, pemicunya adalah anakku sendiri. Dia yang pipi-tembam meronanya seperti buah persik dan staminanya seperti anak monyet, dengan mata berbinar mengaduk-ngaduk sebuah kotak yang kusimpan di sudut ruangan. ‘Mum! Mum!’ katanya setelah itu, dengan girang mencabut keluar beberapa barang yang sudah kutata dengan rapih sejak lama.
‘Come here, lemme show you something. I found this—KYAAA!’ dia menjerit, ada debam yang tercipta ketika kotak hampir seukuran pinggangku itu oleng dan jatuh, membenamkan peri kecilku terjebak di dalamnya, di antara serakan barang-barang yang berdebu. Ada syal, gantungan kecil-kecil, jaket, jubah, dasi, Golden Snitch, benda-benda kenanganku semasa sekolah. Ada alasan-asalan tertentu mengapa aku tak memusnahkan benda-benda itu, seperti barang-barangku yang lain, karena mereka istimewa…
Seperti yang satu itu, yang menutupi puncak kepala gadis kecilku, membenam wajahnya ketika dia dengan lincah merangkak keluar. Irene terduduk di lantai begitu tubuhnya bebas dari serakan barang, menunduk untuk kemudian melepas topi yang menutupi kepalanya.
“Aw, lihat Mum, topinya makan kepalaku!”
Topi itu… siapa sih yang bisa melupakannya? Terlebih si pemberi, yang meninggalkanku begitu saja saat umur kami masih empat belas. Ada bekas yang tak hilang meski bertahun-tahun setelah kepergiannya, bahkan sampai kini. Katakanlah, si pemberi ini temanku yang paling baik. Yang pertama tempat aku bisa bicara panjang lebar dengannya, yang duduk di hadapanku setiap sarapan pagi, mendengarkan apa-apa saja yang kukeluhkan. Tentang pelajaran, tentang Quidditch, tentang betapa menyebalkannya Tequilla Sirius…
Namanya? DK—Dylan Klebold.
Mungkin akan kuceritakan kau sesuatu, sebuah kisah tentang dua orang teman yang terikat dalam sebuah temali yang bersimpul tak biasa. Asal kau tak mengatakan detilnya pada para tetangga, kau bisa mendengarkan kisahku, seluruhnya.
Kamar Anak Laki-Laki Kelas 3 Slytherin.
Februari 1985.Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali.
Kita berbincang tentang memori di masa itu.“Seingatku kau pernah berjanji akan menonton pertandingan terakhirku,” Aku mendengus, menyandarkan tubuhku di pintu Kamar Anak Laki-Laki Kelas 3 Slytherin yang terbuka, melipat kedua tanganku di depan dada. Kamar itu kini sepi, seperti kamar-kamar lain di seluruh lantai kastil Sekolah Sihir Hogwarts, ketika sebagian besar murid lebih memilih bersorak di tribun penonton di Lapangan Quidditch yang berangin ketimbang bermalas-malasan di balik selimut beledu mereka yang nyaman. Hari ini memang pertandingan Slytherin dan Ravenclaw sebagai penentu siapa yang menempati urutan ketiga dan keempat, dan aku, sebagai salah satu pemain tim inti seharusnya sedang bertegang-ria di balik pintu kamar ganti pemain. “Mau diam di sana saja atau ikut ke lapangan?” Tapi tebak apa yang kulakukan? Menunggu seorang teman yang bahkan tak menolehkan kepalanya untuk melihatku, hanya untuk menagih janjinya seminggu lalu.
Dapat kulihat punggung tegap Dylan Klebold di seberang ruangan, membungkuk untuk membereskan entah apa di hadapannya. Gerakannya terhenti seketika begitu mendengar suaraku—kukira begitu—dan dengan raut tanpa dosa ia kemudian menoleh. “Kau tahu kan ini kamar anak laki-laki,” dan menjawab selarik pernyataan yang sama sekali tak ingin kudengar.
“Oh come on, seperti aku baru pertama ke sini saja. Please stop that useless thing, Dylan. Pesta Awal Tahun masih lama. Buat apa sih beres-beres sekarang?” Aku mendengus. Lagi, sadar lelaki di hadapanku sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel, bukan koper seperti yang biasa kami pakai.
Dylan menaikkan alisnya, berdecak kecil tak peduli. “Aku akan pergi, sederhana.” Topi hitamnya yang berjelujur merah berubah posisi seratus delapan puluh derajat. “Aku tidak tertarik pada Quidditch sebenarnya. Kau akan terlambat jika diam terus di situ. Prefek pirang itu tidak akan senang. Haha.”
“Justru itu.” aku menggulirkan pandanganku, melihat Dylan menutup resleting tasnya sampai habis benar-benar membuatku tersinggung. “Aku mau kau ikut. Dan kau jahat kalau membiarkanku terlambat, eh. Aku juga akan pergi. Kita berdua akan pergi akhir tahun ini, Dylan. Aku tak tahu kalau kau orang yang ingkar janji.”
“Kau membuang waktuku dan membuang waktumu sendiri dan kau tahu itu.” Dylan Klebold berbalik sepenuhnya, memberikanku mentah-mentah pemandangan punggungnya yang menggelap.
“But you’ve promised me. Don’t you remember?”
Ada jeda beberapa waktu dari diamnya Dylan yang membuat kedua alisku naik. “No. I don’t” sebelum si lelaki bertubuh jangkung mengangkat duffel bag-nya dan menyandangkannya di pundak—sesuatu yang benar-benar membuatku tak bisa percaya. Berbagai pikiran berkelebat di benakku yang kini kesal. Pikiran bahwa Dylan mempermainkanku membuatku marah lebih dari apapun. “Pergi. Bersenang-senanglah.”
Ditambah pengusiran, lalu senggolan di bahu, aku benar-benar tak habis pikir. “Oh! Ayolah, Dylan. Kutahu kau bukan anak kecil! Tequilla Sirius pasti memenggalku.” Kutarik tasnya, kuletakkan begitu saja di atas lantai. Dalam sekejap tanganku yang kelewat kecil sudah menyeret Dylan Klebold meninggalkan kamar anak laki-laki, mencengkram erat pergelangan tangannya yang sebesar batang pohon. Dylan Klebold menghentikan langkahnya, menatapku seolah-olah aku pengganggu paling menyebalkan di muka bumi (setidaknya itu menurutku), mencengkram tanganku keras-keras sebelum melepas tangannya sendiri dengan paksa.
“Yeah, si Prefek Pirang akan memenggalmu,” dia berbalik buru-buru.
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tiada bertemu lagi“Dylan, please? Pertama dan terakhir kali?”
Lalu menatapku, dan tersenyum timpang yang sangat tak kusukai. “Pergilah.”
“Te-terserah kau saja!” dan aku pun berbalik pergi, berlari sekian meter jauhnya demi mencapai Lapangan Quidditch. Usahaku sia-sia.
Tapi tanpa kusadari, dia berbalik. Satu kata penyemangatnya dalam volume rendah tak mampu kutangkap dengan gendang telingaku yang seolah tuli.
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang akan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang akan kita banggakan di hari tua“Goodluck.”
Di masa depan nanti, beberapa waktu setelah Dylan Klebold bilang akan pergi, aku akan tahu itu berarti salam perpisahan. Setelahnya tak kutemukan dia di mana-mana, bahkan di Pesta Akhir Tahun. Apalagi pesta-pesta setelahnya, pemuda itu bagai menyublim jadi udara. Membawa kenanganku bersamanya. Koran-koran muggle bilang dia mati menembak kepalanya sendiri dengan senjata, hal yang terlambat kusadari padahal berbulan-bulan lalu kami pernah membicarakan tentang benda itu—hal yang tabu untuk anak sebelas, dua belas tahun. Aku tak pernah tahu motif apa yang memicunya melakukan itu semua, dia tak pernah mengatakannya padaku. Tapi setelah itu ada satu hal yang kupelajari: siapapun yang membuat pepatah ‘Sesuatu akan terasa lebih berharga setelah kau kehilangannya’ benar-benar jenius dan berotak cemerlang.
Butuh waktu lama membiasakan diri tak melihat Dylan Klebold di meja makan di hadapanku beberapa tahun setelahnya, kau tahu aku orang yang tak bisa menerima begitu saja jika itu menyangkut kematian. Bahkan setelah ibuku wafat dan menambah kesedihanku akan kehilangan, dukaku karena kematiannya dan ayahku tak pernah bisa kulupakan.
Kejadian di kamar anak laki-laki itu perlu kautahu bukan pertemuanku yang terakhir dengannya. Ternyata di balik keengganannya yang menyinggungku, dia menonton pertandingan Quidditchku yang paling memalukan. Aku memang kalah dan menangis secara pengecut di pinggir lapangan setelahnya, tapi justru itulah yang membawa seorang Dylan Klebold ke hadapanku—
—untuk terakhir kali.
Quidditch Pitch.
Februari 1985.”Diaconu catch the Snitch! Ravenclaw win the match!”“Nice try,”
Suara Dylan Klebold yang tak pernah kuperhitungkan sebelumnya tiba-tiba saja terdengar dari arah belakang, membuatku yang sedang menunduk menghadap dinding-dinding tribun Lapangan Quidditch Hogwarts menegakkan kepala. Gerakan jemariku yang sedang meremas jubah dengan kesal seolah ingin merobeknya terhenti seketika, refleks seluruh konsentrasiku kupusatkan pada pendengaran. Aku tak mau menoleh, kusadari penampilanku sedang dalam keadaan terburuknya dan perasaanku sedang kacau. Harga diriku baru saja ditelanjangi dengan kalahnya Slytherin dari Ravenclaw, tak ada seorang pun yang ingin kutemui saat ini. Apalagi itu seorang Dylan Klebold, kekalahan dan kemarahanku yang belum mereda bergejolak membuatku hampir membencinya.
Pikiran-pikiranku padanya bahkan kini tak lagi sehat.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, nada bicaraku seolah aku memusuhinya. "Mau mengejekku, hm?"
"Tidak mengejek," Dylan berjalan mendekat, menyeringai tanpa kuketahui. "Hanya saja aku tidak pernah tahu kau bisa menangis."
Aku lalu berbalik, mengerjap-ngerjap mataku yang rasanya bengkak. "Tak jadi pergi, hm? Aku masih 13, tahu. Dan perempuan." Jadi wajar kalau aku menangis.
"...well. Aku akan pergi, tentu saja. Tapi si Prefek Pirang itu akan memenggalmu—tak boleh dilewatkan."
Kedua alisku terangkat. Tanpa sadar, kususut air mata yang meleleri pipiku dengan jari—kekalahan ini benar-benar menamparku dengan keras. Meski aku dan Dylan bisa dibilang 'teman', sejak dulu percakapan kami memang tak pernah baik-baik. Seharusnya aku tak semarah ini, tak ada yang berubah dari seorang Dylan Klebold kecuali kelakuan autisnya menenteng-nenteng ransel seolah Hogwarts Express akan menerobos kastil dan menjemput mereka sekarang juga. Hei, waktu masih banyak, Dylan. Mengapa setergesa itu?
"Kau kenapa sih? Bilang-bilang mau pergi dan membuatku kesal," tanyaku masih keheranan, setengah jengkel.
"Tidak kenapa-kenapa." tukasnya acuh, melepas topi baseball yang selalu melekat di kepalanya. Pemuda itu terkekeh pelan, membuatku lagi-lagi merengut kesal, merasa dipermainkan entah untuk keberapa kali hari ini. "Bukankah kita semua akan pergi di akhir tahun ajaran ini? Kau yang bilang." ada jeda sejenak, sebelum melanjutkan, "Tenang. Aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Yea..." dahiku mengernyit, "Tapi kelakuanmu seolah kau akan pergi selamanya. Dan ada apa dengan tas-tas itu, mengapa begitu cepat?"
"Bukan urusanmu," jawabnya sambil tertawa.
"Jangan menertawakanku," dengusku, mulai tak sabar. Jangan salahkan jika aku sedikit kurang ajar, aku sudah benar-benar tak tahan. "Dengar, Dylan. Aku memaafkanmu. Jadi ayo kembali dan simpan tas-tasmu untuk akhir tahun nanti. Aku lapar—" Lalu Dylan Klebold menyerahkan topi baseball hitamnya, membuat kerutan di dahiku semakin hebat. "—apa ini?" tanyaku bodoh, "Maksudku—untuk apa?"
"Ini—ini topi." jawab si pemuda sama retorisnya, "Jangan bilang kekalahan membuatmu berubah jadi idiot dalam sekejap mata, Charlotte. Ambil." dia menepukkan kedua telapak tangannya satu sama lain. "Dan tak ada yang perlu dimaafkan."
"Kau mau menyogokku dengan topi?" tatapku curiga.
"Tidak,"
"Lalu?"
"Lalu—tangkaplah Snitch itu di pertandingan berikutnya, kau idiot." nada bicaranya tenang, seolah tak sadar kalau aku mulai tersinggung lagi. Dia menunjukkan gesture hendak pergi.
"Berhenti menyebutku idiot, Dylan. Kau menyebalkan." aku mengerjap, "Heh." kemudian menyergah, yang menghentikan langkahnya.
Dylan Klebold dengan brengsek lagi-lagi terkekeh pelan, lagi-lagi tak jadi pergi. "Tenang. Tak akan ada yang menyebutmu idiot lagi sesudah ini,"
"Memangnya kau mau pergi ke mana sih? Kau aneh sekali," ulangku, lagi dan lagi. Dylan benar-benar membuatku bingung setengah mati hari ini, dengan sikapnya yang benar-benar menyebalkan berhasil membuat pikiranku sejenak teralihkan. Lapangan Quidditch tak lagi seramai tadi, hampir semua orang telah kembali ke balik lindungan dinding-dinding kastil. Beberapa anak bersyal hijau-perak menuruni tribun dengan lesu, beberapa mendelikku dengan tajam yang membuatku tersenyum masam. Tapi aku tak lagi peduli. Kini di depanku Dylan Klebold perlu dilucuti penjelasannya.
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang akan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang akan kita banggakan di hari tua"Sudah kubilang bukan urusanmu," senyumnya penuh arti, "Kau membuang waktuku. Jadi—yeah." langkah-langkahnya mundur perlahan. "See ya—goodbye."
Lagi-lagi kata-katanya membuat kedua alisku bertaut. Aku kebingungan. "Bagaimana mungkin aku tak ikut campur kalau kau membuatku bingung setengah mati. Kau boleh menyebutku idiot, asal jelaskan apa yang terjadi, 'kay?" cegahku (secara ajaib terdengar) putus asa. Ada yang mengganjal jauh di lubuk hati, yang datangnya begitu saja.
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte. Suara aneh berdengung di telingaku bagai sekumpulan lebah. Memangnya dia mau pergi ke mana? Aku mengulang pertanyaan itu terus dalam benakku, namun yang suara itu katakan hanyalah untuk mencegahnya pergi.
Tapi Dylan menyebalkan—toh nanti dia juga kembali, ya?
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte."Tidak,"
".... Oke, go away."
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte."I will."
"Aku tak peduli lagi padamu. Kau begitu tak peduli padaku,"
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte."Take care."
"Yayaya, i will. Awas kau Pesta Awal Tahun besok,"
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte."Bagus. Jangan pedulikan—urusi urusanmu sendiri."
"..."
Dylan Klebold berbalik—
"Awas kau,"
—dan menoleh. "Hmph." lalu pergi. Dapat kulihat punggungnya menjauh dari pandanganku, tubuhnya menciut jadi liliiput, sebelum bayangannya menghilang di balik ujung tribun dan sosoknya tak terlihat lagi. Aku mengerjap, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi ketika suara itu datang lagi.
Jangan biarkan dia pergi, Charlotte."Dylan?"
Tapi tak ada lagi yang menjawabku, atau sekedar mendengus menimpali keluhanku. Yang ada hanya angin, menerbangkan anak-anak ikalku yang cokelat tua juga jubah Quidditchku sedikit liar. Kuturunkan pandanganku pada topi baseball yang kugenggam, menimangnya sebentar sebelum melirik sekali lagi ke titik menghilangnya Dylan Klebold dari pandangan. Kuangkat bahuku tak mengerti sekali, bertanya-tanya dalam hati mungkin setelah ini aku harus minta maaf pada pemuda itu.
Aku keterlaluan, sepertinya.
Tapi tak kutemukan pemuda itu di mana-mana ketika kucari dia di kamar, di ruang rekreasi, bahkan mungkin setiap ruangan yang ada di Hogwarts. Dylan Klebold telah pergi, tanpa mengatakan padaku bahwa dia
memang akan pergi. Mungkin dia bilang, dan aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya. Kusampaikan maafku pada angin dan berharap dia dapat mendengarnya. Aku menyesal, kata terakhir yang kudengar dari bibirnya yang jarang tersenyum itu hanya sebuah dengusan. Bukan sebuah pengampunan, bukan pula selengkung senyum.
Hei, Dylan. Katakan kau memaafkanku, ya?
"Dan tak ada yang perlu dimaafkan."Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian.
"Mum! Topinya boleh buatku tidak?" gadis kecil itu, memutar-mutar si topi di jari telunjuknya yang mungil.
Aku hanya mampu tersenyum, meraup tubuh kecilnya ke pangkuanku. Menatap bola mata cokelat besarnya dengan sayang. "Tidak boleh, sayang. Nanti Mum belikan yang pinggirannya lebar untukmu, ya?"
"Dua?"
"Dua."