Sabtu, 30 Januari 2010 07.33
Harmonika Gisell
Cukuplah kalian anggap malam ini perasaan Charlotte terlalu buruk untuk pergi tidur, jadi kalian bisa simpan pertanyaan mengapa-gadis-itu-mangkir-dari-asramanya rapat-rapat dalam benak kalian yang terlalu ingin tahu. Ia bosan. Sekali lirik saja ia sudah tahu kalau kembali ke asrama adalah gagasan yang buruk, bertemu teman-teman sekolahnya ternyata tak membuat perasaannya lebih baik. Ia butuh sesuatu yang bisa menjernihkan otaknya. Dadanya sesak karena alasan yang ia sendiri tak tahu mengapa dan seolah tak mengerti, semua orang tak berusaha membantunya. Memang, tak sepatah katapun ia luncurkan perihal apa yang ia rasakan, tapi tak bisakah mereka terjemahkan dari raut wajahnya? Tingkah lakunya?
Ia kira di dahinya ada tulisan 'jangan ganggu aku', tapi ternyata ia salah.
Ia butuh seseorang untuk memuntahkan segala keluhannya, dan mungkin menasihatinya sedikit masukan yang masuk akal, tapi tak ia temukan Dylan Klebold di mana-mana. Bukan rahasia kalau si gadis bernama Charlotte Demelza Ryan itu tak punya cukup teman untuk mengobrol dan segelintir orang yang ia percaya untuk teman bicara hanya Dylan Klebold dan si bocah Bradley Crook.
Menyedihkan.
Mengencangkan syal hijau-perak yang melingkari leher pucatnya, Charlotte sedikit menunduk ketika kedua kakinya bergerak meninggalkan kastil. Kedua tangannya tersusup sempurna di dalam saku jubah, ujung jemari kakinya terlindung sepatu kulit hitam mengkilap sebatas mata kaki. Ia tak terlalu memperhatikan jalan, mengayunkan kakinya begitu saja tanpa alasan. Sudah ia bilang perasaannya sedang kacau, dan otaknya tak lebih baik untuk bisa mengomando. Satu-satunya opsi yang bisa ia pikirkan saat ini hanya rokok. Rokok rokok rokok—batang putih ramping itu memenuhi kepalanya bagai segerombolan rayap, padahal di kereta tadi ia sudah menghisap dua batang—dan di mana ia bisa menghisap beberapa batang benda itu tanpa gangguan.
Merokok selalu membuat otaknya punya kesempatan beristirahat, setidaknya, dan membuat tangan juga bibirnya punya kerjaan.
Charlotte membasahi bibirnya sebentar, berhenti di dekat sebuah pohon dekat ke danau. Bola mata beriris cokelat terangnya menatap lurus ke permukaan gelap air yang hampir tak terlihat, satu-satunya penanda hanya pantulan kuning bulan tepat di tengah. Otaknya
blank, dan gadis itu benar-benar tanpa tujuan. Merogoh saku, memeleteki beberapa dengan jari, gerakan menyisip ke bibirnya terhenti ketika telinganya mendengar beberapa alunan nada tak jauh dari tempatnya berdiri. Itu...
harmonika?Mendekat karena penasaran, sang gadis bersurai cokelat menyidekapkan kedua tangannya di depan dada. Dua jarinya yang tak tertekuk masih mengepit si batang putih yang mulai lembab, alisnya sedikit naik saat ia berhenti tepat di dekat sepasangan dengan harmonika. Bukan maksudnya tak sopan, bukan hati ingin mengganggu. Ia masih orang yang tahu diri, namun tak begitu paham cara menyampaikannya dengan benar—mengerti? Jadi maafkan ia, tuan, kalau ia sedikit lancang.
"Lumayan juga," celetuknya tanpa sadar, tatapannya sedikit tersinggung—sadar bahwa ia sama sekali tak bisa mengoperasikan alat musik manapun mendadak saja membuatnya sebal.