Sabtu, 30 Januari 2010 07.28
Bunga Segar untuk Mereka Yang Bayar / I
Percayalah, kalau Charlotte punya hal lain yang bisa dia kerjakan di jalanan kumuh penuh sesak oleh penyihir ini, atau tempat lain manapun di luar Diagon Alley, gadis itu pasti tak akan dengan sengaja menyambangi toko bunga hanya untuk mencari seorang om-om bernama Dimitrov Eamnnon. Sayangnya, ia tak punya pilihan lain—sepertinya—ataupun hal lain yang bisa ia kerjakan untuk menunggu malam menjelang hingga ia bisa kembali berjalan di sepanjang jalanan London untuk sampai ke kamarnya di Jury's Inn. Lalu Charlotte bisa tidur, mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan, dan mempersiapkan stamina untuk kembali berpetualang keesokan hari. Ia telah mengitari Diagon Alley untuk entah kali ke berapa, ia sendiri tak ingat. Berjalan lambat-lambat menjelajahi etalase demi etalase dengan harapan ada seseorang yang ia kenal menyapanya dari balik kaca. Dengan uang di kantong yang menipis drastis, dan keengganan memasuki toko-toko yang penuh sesak dan bau debu campur keringat, Charlotte Demelza Ryan bak anak hilang ber
window-shopping sampai ia sendiri merasa muak.
Ah, Flourish & Blotts—betapa rasanya ia sudah hapal buku-buku apa saja yang dipajang di etalase hari ini—dan Toko Peralatan Quidditch! Tadi ia mengosongkan kantong galleonnya di tempat itu, untuk sebuah sapu yang diantar ke rumah. Madam Malkin's, Ollivander, Gambol and Japes, Florean Fortescue's—sama sekali tak ada yang menarik minatnya sampai langkahnya terhenti di sebuah toko dengan dinding kaca dan sulur-sulur hijau.
...
Fleur de Lys—setelah melewatinya untuk kali ketiga, baru Charlotte sadar bahwa toko inilah tempat om-om bernama Dimitrov Eamnnon bersemayam dan menyembunyikan semua harta karunnya.
Fleur de Lys. Rasanya masih segar dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu Gabriele menolak ajakannya untuk ke Prater dan memilih mengurusi sebuah toko kumuh di Amerika sana, ternyata setelah itu dia menemui Eamnnon. Charlotte tahu, dari apa-apa yang dibicarakan sepupunya baik dalam obrolan langsung maupun telepon, bahwa si om penjual bunga ini sebenarnya menyimpan
bubuk dalam pot-potnya yang subur. Charlotte tak mau munafik, eh, dengan pura-pura tak tahu dan bilang bahwa ia tak pernah menguping. Karena siapa tahu dengan pengetahuannya ia bisa dapat sedikit diskon dari beberapa tangkai di dalam sana?
(smirk)
Tersenyum manis, kedua kaki gadis itu melangkah menyebrang kerumunan, mendekat untuk kemudian mendorong pintu kaca Fleur de Lys dan masuk. Bau tanah basah, kotoran, dan wangi bunga bercampur menjadi sebuah ramuan yang memabukkan, membuat dahi gadis itu berkerut sebentar. Bola mata cokelat terangnya menyisir mencari Eamnnon, namun tak ditemukannya di mana-mana. Hanya ada Ziegmowit, beberapa anak yang membeli bunga—beberapa dari mereka Charlotte kenal sebagai murid Hogwarts—lalu pot-pot, kuncup-kuncup dan mahkota—
tak ada.
Berjalan-jalan sebentar, sembari berpikir apakah sebaiknya dia bertanya pada Ziegmowit atau memecahkan sepot saja anggrek dalam lemari kaca di sebelah sana (yang ia tahu isinya tak mungkin humus dan kotoran), Charlotte akhirnya memutuskan untuk mendekati si kubus kaca berisi bunga. Menarik satu tangan yang tadinya tertaut di belakang, gadis itu kemudian mengetuk-ngetuk permukaan si kaca dengan jemarinya yang mungil.
"
Hello, Eamnnon. Can you hear me?" ujarnya pelan. Usil.