Sabtu, 30 Januari 2010 07.35
Ibu Suri Mencari Anak Baru [Tale of Macturian vers 2] / I
Nama: Galia
Umur: 16 tahun (setahun lebih tua dari Macturian vers. 1)
Status: (lagi-lagi) Putri kerajaan tetangga—KAGET. MIMPI INI LAGI?!
Pesan: Sudah tak nyasar lagi u_u tapi melanjutkan misi (:Penampilan Galia :">
Namanya mimpi; orang-orang menyebutnya bunga tidur. Sebagaimana bunga, kau tahu sendiri macamnya ada beragam: dari mulai yang mahkotanya mekar indah namun berbau tawar, mahkotanya sederhana tapi wanginya minta ampun, sampai-sampai yang mahkotanya aneh dan berbau busuk. Ada banyak ragam mimpi, selayaknya bunga, datang tiba-tiba tanpa bisa kau cegah dan kau pilih macam yang kau inginkan. Dari mulai yang absurd dan tak pantas diingat, yang menyenangkan sampai membuatmu terbuai, atau yang menyeramkan hingga membuatmu terbangun—segelintir dari banyak jenis mimpi dalam tidur-tidur manusia.
Adalah Charlotte Demelza Ryan, yang sekarang sedang terusik dalam tidurnya. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah di balik selimut dengan dahi berkerut hebat. Raut wajahnya cemas tiada tara, padahal kedua matanya terpejam dan tidurnya amat sangat lelap. Nafasnya tersengal, dan tubuhnya berkeringat padahal udara sangat dingin di bawah tanah. Hm... mungkin ia mimpi buruk, sesuatu yang membuatnya tak tenang meski dalam tidur. Tapi apa? Apa yang seorang Charlotte mimpikan sampai-sampai tidurnya gelisah seperti itu?
Mau intip?
Uh... ternyata mimpi ini
lagi.
Ia tahu ini di mana, dan siapa ia sebenarnya dalam mimpi. Ini Macturian, dan dia Galia, seorang putri nyasar dari negeri tetangga—Alderwood. Tak ada keraguan sedikit pun dari perkiraannya, apalagi melihat suasana dan pakaian yang ia kenakan. Seperti biasa Galia berjalan lambat-lambat, dengan anggunnya menyusuri koridor-koridor menuju balairung Kerajaan Macturian. Di tangannya (lagi-lagi) ada kotak, berisi kaos kaki sebagai upeti dari kerajaannya yang memang memproduksi kain pembungkus kaki itu sebagai komoditi utama yang diekspor sampai ke mancanegara.
Ceritanya Ibu Suri Macturian hendak memungut anak. Istilah kerennya,
mengadopsi. Membuat Galia tak habis pikir karena ia sendiri tahu berapa banyak putra-putri keluarga Macturian. Motif si Ibu Suri mengadopsi anak juga membuatnya bertanya-tanya, karena setahunya, tambah anak berarti tambah biaya. Dan banyak anak berarti banyak jatah warisan yang harus dibagi ketika beliau sendiri mati. Padahal ia tahu kebiasaan Ibu Suri yang menjadikan belanja sebagai makanan sehari-hari—tidakkah ia takut rugi?
Tersenyum pada pengawal-pengawal yang menjaga Kerajaan Macturian, Galia hampir mencapai balairung yang tampak ramai. Ia mafhum, semua orang pasti berduyun-duyun mendaftar dan berlomba-lomba untuk memenangkan apapun-kontes-untuk-menjadi-putri-kerajaan, karena siapa sih yang tak mau jadi keluarga istana? Dikelilingi oleh saudara-saudara yang (katanya) cantik-cantik dan tampan-tampan, Macturian seolah negeri impian. Ibu Suri loyal, negeri makmur—apa sih yang kurang dari kerajaan ini selain kenyataan bahwa anggota keluarga mereka yang berkelakuan aneh?
Tapi Galia datang ke sini bukan untuk melamar jadi putri, atau mengikuti apapun perhelatan yang diadakan di kerajaan ini. Meski kelihatannya begitu, misi gadis ini sebenarnya adalah untuk melanjutkan misinya yang sebelumnya. Oho, siapa yang tak tahu ambisi Galia untuk membuat kerajaannya lebih unggul dari Galia, dan seorang pengembara bilang padanya untuk menghancurkan negeri itu jika ingin negaranya maju. Setelah tahun lalu gagal, ia berusaha memanfaatkan momen ini untuk melaksanakan tujuannya. Berpura-pura menjadi putri keluarga Macturian tak buruk juga, siapa tahu ia bisa lebih leluasa mencari dan memegang kelemahan-kelemahan Macturian. Senyum sang putri tetangga semakin lebar ketika ia memasuki balairung dengan Ibu Suri duduk di singgasananya, keadaan yang mampir di penglihatannya membuat senyumnya masam sejenak.
Mati-matian meredam cibirannya, tanpa memedulikan keributan yang terjadi, ia berjalan lurus hingga ke depan Ibu Suri. Membungkuk dalam hingga rambut keritingnya hampir menutupi wajah, Galia dengan gerakan luwes yang anggun kembali mengangkat tubuh. Kedua tangannya tertekuk di depan perut, tak bergeming menggenggam kotak.
"Salam kesejahteraan kuhaturkan kepada Ibu Suri, semoga seribu tahun mengiringi dalam kesehatan," ujarnya dengan nada monoton, menyerahkan kotak upeti di tangannya. "Ibu Suri, kukira sekarang acara pencarian putri untuk Macturian, bukan penjagalan pencuri negara." lanjutnya lagi, melirik kerumunan di sebelah sana.
Jangan bilang, ia salah acara lagi.