Sabtu, 30 Januari 2010 07.36
Pesta Awal Tahun / III
Meja SlytherinSemuanya jadi tampak abstrak di mata Charlotte. Imajinasi liarnya membawa gadis itu ke pemberontakan Goblin 1612. Aula Besar semerta-merta melebur menjadi suasana Hogsmeade masa lalu, toko-toko dari kayu berdiri gersang di sepanjang jalan. Dapat ia lihat mata-mata rakus penghuni Gryffindor di meja sebrang menggelap seluruhnya, kelopak mereka menyipit penuh kesenangan yang menyebalkan. Kepala-kepala mereka mengeriput, tubuh-tubuh mereka meyusut, hidung mereka memanjang dan kulit mereka mengisut seolah mereka lahir dari jaman Adam. Perlahan-lahan kulit mereka memutih sewarna gading, jemari-jemari mereka yang panjang kurus mencengkram loyang-loyang pie dengan serakah—siap melempar amunisi ke para penyihir di barisan sebrang.
Sebagai komunitas penyihir yang mengandalkan tongkat juga otak, ular-ular Slytherin berusaha melindungi—katakanlah—pemimpin mereka yang dengan bodohnya kehilangan tongkat. Satu lambaian di sini, satu seruan mantra di sana sejauh ini berhasil membuat kepala pirang sang Ketua Murid tetap utuh. Ia—mereka berusaha semampunya atas nama harga diri dan pembuktian; pertanyaannya, mana boleh 'manusia' kalah oleh 'makhluk-makhluk' barbar tak berotak?
(smirks)"Protego yang bagus, Ryan. Kau hebat sekali,"Melinting tongkatnya dengan jemari. Senyum Charlotte terkembang simpul ketika Proust bertepuk tangan. Yang mampu ia lakukan selanjutnya tak lebih dari memejamkan mata singkat, merasakan tangan Proust mengusap puncak kepalanya dan kecupan singkat di dahinya. Ia menganggap itu sebagai sebuah penghargaan, juga maksud baik. Kedua kelopak mata dengan bulu mata lentiknya menyipit kecil sembari pandangannya beredar (masih) ke Meja Gryffindor, menatap lekat-lekat banyak wajah sebelum menyimpan replika wajah-wajah itu dalam sebuah gulungan film bertajuk kenangan lekat-lekat di benaknya. Itu sesuai 'petuah' yang Proust bisikkan ke telinganya kemudian;
Remember their face, sweetheart—she said—
We shall have our revenge later. Kepalanya mengangguk kecil.
Shall we?"Thanks. Of course i will." bisiknya, senyum di wajahnya lantas melebar.
Iya terutama ingin balas dendame pada Dawne, Prefek Gryffindor itu. Yang telah semena-mena mengusirnya atas niat baiknya, membuat moodnya amblas hingga rasanya tak ada lagi hal menarik yang bisa ia lakukan untuk membuat perasaannya sedikit lebih membaik. Na ah, jadi jangan salahkan ia kalau kini rasa tak mau kalahnya membuat gadis itu melakukan semua ini. Mengesampingkan semua kebenciannya pada Sirius, yang kini sedang dilakukannya semata-mata untuk melindungi kepala pirang tiran itu dari krim-krim cake yang lembut dan manis. Dengan hanya sedikit imbalan—kurang baik apa sih Charlotte pada Sirius?
Lalu anak Gryffindor mulai lagi. Mereka semakin mengganas dengan berencana melempar pie secara serentak, didalangi oleh Joongbo yang berteriak-teriak seolah ini hutan belantara, sebagian besar anak-anak Gryffindor membeo dengan sukacita. Bola mata Charlotte refleks mengerjap tak percaya, membayangkan lebih dari selusin loyang mengarah pada meja mereka benar-benar mimpi buruk di harinya yang melelahkan. Beruntung si Profesor baru bersikap normal, dengan otaknya yang masih berfungsi mengurangi poin pasrama tiap-tiap yang melempar loyang.
Thanks God—is anything over now?CEPLOK!Sigh.
Satu orang beruntung yang dengan brilian berhasil menemukan cara untuk memperbudak Prefek asramanya sendiri yang malang dan menyedihkan. Charlotte menyandarkan tubuhnya di pinggiran Meja Slytherin, masih berdiri, tak mengerti lagi apa yang harus dilakukan. Tangannya masih memilin tongkat malas, sesekali melirik Sirius dengan kepalanya yang belepotan krim. Mengeluarkan selembar sapu tangan marun dari dalam saku, satu tangannya bergerak menjatuhkan lembaran kain itu tepat di atas meja di depan Sirius. Pandangannya sok-sok prihatin, sedikit jijik melihat rambut Sirius yang kini lengket, Charlotte kembali mengarahkan pandangannya ke arah depan.
"Bersihkan kepalamu. Kau menjijikkan," ujarnya, menolehkan kepala. "PROTEGO!" satu loyang lagi jatuh. Sudut matanya mengekor Bledin yang ikut-ikutan rusuh menyemprot-nyemprotkan botol saus ke penghuni meja tetangga—tak suka.
Gadis bodoh. Mendengus kecil, menyadari bahwa kericuhan telah mereda meski belum sepenuhnya, dengan sedikit malas ia duduk, memutar tubuhnya menghadap meja. Meletakkan tongkatnya begitu saja di atas meja, ia lalu menarik sepiala emas jus labu dan menyesapnya. Dirasakannya tiba-tiba seluruh sendinya kembali menegang pegal, menggeliat kecil, Charlotte menopang dagunya sedikit terkantuk.
"Semangat darimu saja takkan melindungi meja kita dari lemparan pie, Guillory. Giliranmu halau pie-pie melayang itu. Keluarkan tongkatmu,"
Lalu menyapa Guillory. Rasanya kini ia tak peduli lagi bahkan jika sepiring kalkun menghancurkan meja mereka.
Ngantuk.
(Diizinkan pm Tequilla mendeskripsikan kepalanya ketemplok kue dari Gazelle)