Sabtu, 30 Januari 2010 07.36
Pesta Awal Tahun / II
Meja GryffindorKau tahu, ia bahkan telah merelakan dirinya 'berkunjung' ke Meja Gryffindor demi bertanya pada Czechkinsky apa pemuda itu mendapat masalah atau tidak setelah 'perjalanan' mereka ke Prater liburan musim panas lalu, atas dasar rasa bersalah. Kalau tidak, mana sudi dia capek-capek datang ke meja penuh anak urakan seperti Gryffindor sementara ke mejanya sendiri dia malas?
“Tidak—hic—dear. Kau bukan Gryf—hic—findor ya? Syuh-syuh, pergi sana ke kandang—hic—mu sendiri.”Kau pikir dia senang? Kau pikir ini inginnya? Dawne menilai gadis itu terlalu rendah, sayangnya. Lelaki Gryffindor itu terlalu cepat menilainya sebagai pengganggu. Ia tersenyum masam pada seseorang yang menyebutnya 'master of ceremony', mengedarkan bola mata cokelat terangnya sekali lagi. Berharap tak usah berurusan dengan Dawne atau siapapun di meja ini selain orang yang benar-benar ia cari. Namun sayang, batang hidung Czechkinsky bahkan tak terlihat mengintip dari celah manapun sejauh yang bisa ia lihat.
Ia muak, tahu tidak? Keberanian Gryffindor ternyata terhadap hal-hal memalukan seperti ini. Merusuh di meja—heh, mereka kira guru-guru di meja staff sebelah sana terlalu buta untuk melihat? Atau mereka
memang mencari sensasi dengan cara menyedihkan seperti ini agar semua murid bisa mendengar? Dawne bahkan sedang mabuk ketika serapahan kasar meluncur dari bibirnya yang tak berfilter, seolah itu bisa menambah keagungannya di depan anak-anak beremblem merah-emas yang sedang menyorakinya seolah ia Nabi pembawa wahyu.
Menyedihkan."Czechkinsky. Miloslav Czechkinsky." ujarnya dengan nada pelan, tak berhasil menyembunyikan tatapan tersinggungnya akibat 'teguran-Dawne'. Bahkan ketika Bentz datang, mengatakan pada gadis itu bahwa Czechkinsky mungkin masih di asrama dan akan datang sebentar lagi. Ia mengangguk kecil, mengucapkan 'trims' pelan pada gadis berambut cepak di depannya sebelum tanpa banyak bacot berbalik dalam satu gerakan luwes. Czechkinsky datang, dan bertanya apa ia mencarinya, namun Charlotte sudah terlalu malas. "Kutemui lagi kau nanti," ujarnya diiringi satu lambaian tangan. Anak-anak rambut ikal cokelat gelapnya yang tergerai bergoyang kecil ketika sang pemilik, dengan langkah cepat bertolak kembali ke meja dengan panji hijau-perak di atasnya.
Meja SlytherinSetidaknya di sini mungkin lebih baik. Meski lidah mereka licin, ular-ular Slytherin ia tahu tak cukup barbar untuk berteriak-teriak norak mengatai petinggi asrama lain hanya karena mereka mabuk. Di sini setidaknya ia mendapatkan ketenangan dan sedikit privasi, melahap satu atau dia potong cake sebagai pengganjal perut tanpa takut mejamu berguncang karena seseorang menaikinya. Di sini ia bebas menyapa dan mengabaikan siapapun yang diinginkannya, di sini, di meja ini, dengan orang-orang dengan pola pikir tak jauh-jauh dari kriteria seorang Slytherin, ia merdeka tanpa takut seseorang mengusirnya.
Mungkin tak seharusnya ia menghampiri Meja Gryffindor tadi. Duduk di salah satu tempat kosong di meja asramanya, Charlotte Demelza Ryan menekuk kedua tangannya sebelum kemudian mengambil sepotong cheese cake dan meletakkannya di atas meja. Sudut matanya memperhatikan dengan tak suka ketika Tequilla Sirius datang dengan bangga, mengerjap singkat, ada binar yang tiba-tiba muncul di manik cokelat terang gadis itu ketika Dawne didetensi karena kekurangajarannya dan sikap urakan yang ia umbar di depan publik.
Hoo... semua mulai terlihat menarik setelah Sirius kembali ke meja, yang diikuti dengan Dawne dengan permohonan maafnya yang membuatnya terlihat makin menyedihkan—pada adegan ini Charlotte benar-benar tak bisa menyembunyikan cengiran di wajahnya yang nampak antusias—lalu Bloomberg datang, disusul McGonagall, 250 poin dikurangi dari Gryffindor atas ulah dua Prefek mereka, dan si gadis Charlotte benar-benar tak bisa menyembunyikan cengirannya yang tampak sangat kentara. Sementara tangannya sekali-kali menyendok dan menyuap cheese cake, batinnya bersorak. Ini lebih menyenangkan dari menonton Opera-Opera Buffa yang membosankan, terlebih lagi—semua ini nyata.
Ha!
"PROTEGO!" serunya tiba-tiba, dalam satu gerakan luwes mengarahkan tongkatnya tepat ke arah Sirius. Satu loyang pie yang mengarah ke kepala pirang sang Ketua Murid membentur pertahanan sihir yang ia ciptakan, isinya tercecer mengotori lantai dan loyangnya berkelontang jatuh ke lantai. Menggulirkan bola matanya ringan ke segala arah, mengantisipasi loyang-loyang yang kemudian datang mengarah ke meja mereka. Ia bukannya tak lagi membenci Sirius, namun membiarkan Ketua Murid mereka dipermalukan bukanlah pertanda baik bagi asrama. Setidaknya untuk saat ini Sirius bisa menganggapnya
teman. Tapi tentu, semua ini bukannya tanpa imbalan—kau pikir di dunia ini ada yang gratis, hm?
"Kau berhutang padaku Sirius. Potong satu atau dua dari jatah 'itu' yang tiga belas, dan loyang-loyang itu kujamin takkan mendekati kepalamu." senyumnya melebar.
"PROTEGO!"
KLANG.
(Memprotego loyang pie dari Rexsilva Zaelfiques dan Miloslav Czechkisnky juga. Pm kalo ada yang salah, tepar rekap 14 halaman @_@)