Sabtu, 30 Januari 2010 07.27
Come and Play the Quidditch / II
Ah ya, senyum tipis yang tersungging di bibir remaja gadis berambut cokelat itu, sejatinya formal saja, Tuan. Charlotte memang tak dilahirkan untuk menjadi seorang gadis yang senyum-secerah-mentari-nya dijual bebas bak kacang rebus. Maka jangan salahkan ia jika yang bisa diberikannya hanya beberapa yang simpul, yang masam, atau yang tipis sekedar bentuk kesopanan. Orang-orang telah terbiasa melihat dia dengan senyum tak tulusnya, setiap saat, dan biasanya mereka maklum meski di belakang, mereka membicarakan gadis itu dengan asyik sembari memunah waktu.
Katanya, gadis itu benar-benar kasihan. Kehidupan yang ia jalani memang tak mampu membuatnya jadi seorang gadis manis yang ceria. Keluarganya kriminal, ayahnya mati ketika dia kecil, dan kini ia terusir dari rumahnya sendiri oleh ibu dan si sepupu karena alasan keamanan. Yang dimilikinya hanyalah uang, Tuan, tanpa secuil pun kebahagiaan—dan itu sudah berlangsung sejak lama. Sejak... dua? Tiga? Atau lima tahun lalu? Ia sendiri tak tahu dengan pasti. Sinar di mata cokelat terangnya meredup sedikit demi sedikit, tak tertolong, apalagi di waktu-waktu tertentu ketika entitas bertajuk kesendirian menghimpitnya sampai sesak, mengangkatnya ke permukaan dan menjabarkan, satu demi satu, kenyataan yang berusaha mati-matian ia abaikan.
Seperti saat ini, misalnya, seperti musim panas-musim panas sebelumnya, gadis itu terpaksa harus mengungsi ke Jury's Inn dan menghindari rumah mereka di Waterloo. Menggelandang di sepanjang jalanan London, membunuh setiap detik yang ia miliki dengan melihat-lihat etalase toko, membeli beberapa cemilan dan bengong di toko buku. Benar-benar kegiatan yang merusak kesehatan jiwa. Dan lihat sedang apa ia sekarang? Dengan senyum palsunya yang jelas-jelas gagal sedang menyapa Gilchrist dan membeli sapu.
“Kuharap kau bisa memanfaatkan sapu barumu jika jadi membelinya.”Charlotte tersenyum masam sambil mengekor isyarat Gilchrist, memancangkan pandangan pada setangkai sapu berdebu yang lumayan keren—rantingnya masih lengkap dan gagangnya seperti baru saja dipelitur, sangat jauh kualitasnya dengan sapu-sapu sekolah yang tak lebih dari rongsokan hidangan rayap—sebelum kembali menoleh pada lelaki yang dulu memperkenalkan dirinya sebagai 'Sverre' itu. Oh, dia sedikit tersinggung, ngomong-ngomong, menyadari sepenuh hati ada penekanan di kalimat yang Gilchrist ucapkan. Tangannya bergerak merogoh tas dan mengeluarkan sekantong penuh yang bergemerincing ketika ia meletakkan benda itu di atas meja, perlahan membuka ikatannya sambil sesekali melirik Gilchrist sedikit tajam.
Charlotte beli kok, beli. Berhenti menatapnya seolah ia pengunjung lewat yang menyusahkan begitu, 'kay?
"Aku," ia mengeluarkan keping galleon pertama, meletakkannya di atas meja lalu mendorongnya ke depan Gilchrist dengan telunjuk. Keping itu membawa debu, yang kemudian menciptakan lajur di atas meja. 955 galleon, 15 sickle, 10 knut—haruskah dia menghitungnya keping demi keping? "
selalu memanfaatkan sapuku dengan baik kok," keping kedua, keping ketiga, "hanya saja sapu-sapu itu yang menolak untuk kumanfaatkan," Mengangkat bahu.
Keping ke dua puluh, dua puluh satu, entah mengapa Charlotte menikmati setiap waktu yang ia habiskan untuk mendorong koin-koin galleon itu ke hadapan Gilchrist. Meski seorang gadis berambut hitam memesan banyak barang, dan satu lagi berkomentar—
“Sapu yang bagus—kalau kau menggunakannya sepuluh tahun lalu,” —yang ia lakukan hanya menoleh, dengan dahi berkerut samar Charlotte lagi-lagi menatap Gilchrist. Tangannya masih mendorong galleon, kali ini yang ke lima puluh empat. "Kukira Gilchrist memberiku sapu paling baru,
don't you?"
Kali ini tatapannya minta penjelasan.