Sabtu, 30 Januari 2010 07.25
Come and Play the Quidditch / I
Lagi. Lagi-lagi, siklusnya berulang.
Satu pagi yang lain di musim panas yang cukup cerah, Charlotte Demelza Ryan bangun dengan malas di kamar nomor sekian di Jury's Inn, London. Ia menyibak selimutnya asal, mengacak rambutnya yang sudah awut-awutan sebelum terduduk di atas kasur dan menguap. Ada lingkaran-lingkaran hitam samar di kedua pelupuk matanya yang membuat wajah gadis itu jadi mirip panda, hasil dari begadang sampai larut beberapa malam terakhir. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, melirik susupan sinar matahari yang membuat pandangannya kesilauan. Lalu bangun, menyambar handuk di gantungan, dan berpikir mungkin jalan-jalan di Diagon Alley dan Leaky Cauldron bisa membuat otaknya waras.
Merutuki berapa beberapa hari ini otaknya benar-benar kacau dan semua kegiatannya amat sangat berantakkan, ia kemudian masuk ke kamar mandi.
Beberapa waktu sebelum matahari sampai di puncak kepala tiap-tiap manusia yang berkeliaran di sekitar London, si gadis dengan terusan putihnya yang selutut telah tiba di depan pintu Leaky Cauldron. Menepi dari dua arus Muggle-Muggle yang berlalu-lalang di hadapannya, manik cokelat terang gadis itu menyisir sekitar sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk. Mencari, mungkin ada seseorang yang ia kenal. Melirik dengan sedikit minat seorang lelaki jangkung berambut gelap dengan jas dan pantofel—harap-harap itu Gabriele—juga seorang yang lebih muda dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans—siapa tahu Sebastian lewat—tapi setelah hampir selusin kali menilik dengan sia-sia, ia tahu tak seharusnya ia terus berdiri di depan pintu.
Jadi ia masuk, menghalau rambut di bahunya dengan jari ketika kedua kaki-kaki mungilnya melangkah melewati ruangan sempit Leaky Cauldron yang penuh kursi dan meja juga orang-orang. Lagi-lagi melirik ke segala arah siapa tahu ada orang yang dikenalnya—dalam hal ini ia hanya akan menghampiri beberapa orang yang sekiranya
pantas ia hampiri, bukan yang akan menyuruhnya atau menghinanya di depan banyak orang—dan setelah lagi-lagi nihil, tiga ketukan ke atas dan dua ke samping membawanya ke jalanan sesak Diagon Alley.
...
"Ouch, maaf.
I'm so sorry, Mrs."
Kling.
Beberapa langkah tergesa, segelintir decakan kesal, beberapa kelitan menghindari kerumunan, lalu satu dorongan di pintu akhirnya menyelamatkan sang gadis dari kerumunan. Ia buru-buru menutup pintu yang memisahkan dirinya dari arus orang-orang di jalanan, melepas selendang tipis yang menutupi lehernya sebelum kemudian mengipas kecil.
'Toko Peralatan Quidditch' milik Jo Spencer tidak seramai dan sesesak toko-toko lain di sepanjang jalan, dengan hanya satu pegawai muda dan satu pengunjung, membuat Charlotte Demelza Ryan yakin ini satu-satunya tempat yang aman dari andaman terinjak-injak. Lagipula sepertinya dia punya sedikit urusan di toko ini. Kekalahan mutlak karena ketololannya sebagai Seeker di pertandingan terakhir melawan Ravenclaw membuat gadis itu berpikir ulang untuk membeli beberapa properti penujang.
Seperti sapu terbang baru, misalnya. Terbang menggunakan sapu terbang bobrok milik sekolah baru ia sadari merupakan ide yang amat sangat buruk.
Melihat-lihat sebentar, mendekati konter penjaga, baru ia sadari kalau seseorang di balik meja merupakan sosok yang ia kenal.
Salisverre Gilchrist—satu tingkat di atas, seasrama, Chaser di tim Quidditch
nya—kiranya keterlaluan jika ia tak mengenali dan menganggap si pemuda sebatas pelayan toko. Ohoho, Charlotte punya kode etik yang ia junjung di atas pundak: seseorang yang dikenal, sangat penting untuk menjaga sikapmu di depan mereka. Lalu di kedua sudut bibir gadis itu tersungging sebuah senyum, tipis, bersamaan ketika satu tangannya menyentuh permukaan meja konter yang berdebu. Ia mengangguk singkat sebagai sapaan yang tersirat, menelengkan pandangannya ke arah lain beberapa detik, si gadis Italia kembali menatap Gilchrist di hadapan. Menunggu giliran.
"Aku ingin sebuah sapu baru. Yang paling bagus. Untuk pertandingan
kita selanjutnya," ujarnya lalu tersenyum simpul. Gilchrist pasti mengerti, bahwa gadis itu benar-benar
harus mendapat sapu yang terbaik.