Sabtu, 30 Januari 2010 07.40
Kelas 4 - Semua Asrama (Herbologi) / I
Satu-satunya alasan ia tak pernah setuju dengan Herbologi dan Ramuan sebagai pelajaran wajib bagi penyhir hanyalah karena mereka...
menjijikkan.
Demi Merlin, kau pikir sebelumnya mana pernah Charlotte pegang-pegang hati kodok yang menjijikkan itu kalau tidak di pelajaran Ramuan yang diajar Profesor Snape? Dan mengaduk kuali-kuali dengan bau menjijikkan itu... irisan-irisan ulat bulu yang membuatnya bergidik itu... dan Herbologi, ketika mereka
pernah memanen Puffapod yang langsung mekar jadi bunga setiap menyentuh permukaan tanah—ia telah sekuat tenaga mencoba menahan perasaan-perasaan mual yang untungnya hanya sampai tenggorokannya setiap kali ia harus melayani semua makhluk-makhluk menjijikkan itu. Meyakinkan diri bahwa beberapa jam tak cukup untuk membuatnya muntah dan hati kodok juga ulat bulu bukan hal terlalu penting untuk ditakuti. Ia telah berusaha... sepenuh hati demi memanen Puffapod-Puffapod lincah yang begitu mudahnya terpeleset hanya karena mereka terjangkit penyakit—
“Dan sekarang, teman-teman kalian bisa benar-benar lega. Bubotuber-Bubotuber ini,”—tapi TOLONG, jangan salahkan gadis itu jika pelajaran tahun ini begitu tak bisa ditoleransinya.
”—sudah siap untuk dipanen. Nah, tugas kalian jelas. Memanen nanah dari tanaman ini. Wadah kaca sudah kusiapkan di sebelah pot tanaman yang akan kalian tangani dengan berpasangan.”Hampir merosot di kursinya, bola mata cokelat terang Charlotte Demelza Ryan bergulir tajam ke arah sekumpulan pot tak bergerak di salah satu sudut ruangan. Ia tahu apa itu Bubotuber, Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib halaman empat ratus tujuh puluh sekian memberitahunya dengan gamblang seberapa menjijikkan tumbuhan yang baru saja disebutkan Profesor Sprout harus mereka panen jam pelajaran ini. Bentuknya yang penuh bisul dan pergerakannya yang berdenyut-denyut aneh—errgh, Charlotte tak begitu suka nanah yang harus mereka kumpulkan setelah memencet-mencet tanaman aneh itu. Ia
benar-benar tak suka, kau tahu? Sebagai seorang gadis, nanah itu mimpi buruk. Meski kegunaannya untuk menghilangkan jerawat, memangnya tak ada obat lain yang lebih normal namun sama ampuh?
Membayangkan cairan kekuningan itu membaluri wajahnya saja sudah membuat perutnya bergolak. Apalagi harus mengeluarkannya langsung...
"Hrrgh..." Charlotte mendesah kecil, membalikkan tubuhnya karena tak tahan. Rautnya menahan mual ketika jemari gadis itu membolak-balik buku. Menghela nafas sekali, merasa tak ada pilihan, ia menghentikan kegiatan jemarinya dan mengangkat wajah. Menatap sedikit memelas pada siapapun yang menjadi partner kelasnya—OH, semoga saja dia lebih mampu memencet-mencet itu sendiri dan membiarkan Charlotte memegang wadahnya saja untuk menadah. Kalau tidak, mati saja dia!
"Err...
please?" ujarnya, kedua lengkung alisnya bersatu. "Biar aku yang ambil peralatan di meja sana." kemudian ia melanjutkan, dan melenggang meninggalkan meja menuju Profesor Sprout demi seperangkat baki, pinset, dan kapas. Bau bensin di udara tanpa sadar membuat langkahnya tak lagi mantap.
(partner, anyone?)