Sabtu, 30 Januari 2010 07.39
Chit Chat / IV
Ia tak begitu serius ketika berkata bahwa mungkin seseorang akan melamarnya sungguh-sungguh di umur dua lima. Seperti kata Paravell, kau takkan pernah tahu apa yang masa depan bisa bawa ke pangkuanmu—bisa lebih cepat atau bahkan tidak pernah sama sekali. Siapa yang tahu Charlotte takkan mati sebelum umur dua lima? Meski ia sedikit tak setuju tentang kemungkinan
orang itu ada di sini (karena sejauh ini hampir semua lelaki Hogwarts tak layak lirik, mereka menyebalkan) kata-kata Pavarell bukan untuk diabaikan.
Juga apa-apa yang keluar dari bibir Devindra dan Proust, sepertinya Charlotte harus banyak belajar dari tiga gadis di depannya. Betapa kecantikan mereka menguarkan aura-aura memikat; Proust dengan dominasinya, Pavarell dengan kecerdikannya, dan Devindra dengan feminismenya yang luar biasa. Mereka bertiga telah dengan luar biasa membuktikan daya tarik mereka sebagai wanita; sebagai bunga, bukan hanya kumbang atau kupu-kupu, tapi burung kolibri dengan senang hati menawarkan diri untuk menghisap madu. Bau mereka harum dan rupa mereka cantik. Aphrodite yang menjelma ke dalam sosok seorang gadis berseragam sekolah.
Kedua sudut bibir gadis itu melengkung kecil yang samar ketika Devindra dengan lembut mengusap puncak kepalanya, mengingatkannya akan Pesta Awal Tahun lalu ketika Proust melakukan hal yang sama. Alur pembicaraan mereka sudah mulai dapat ia ikuti meski yang bisa dilakukannya tak lebih dari menjadi seorang pendengar yang baik. Dialog-dialog mereka selanjutnya entah mengapa membuat Charlotte jadi sedikit sentimentil. Seingatnya dulu ia percaya-percaya saja ketika ayahnya bilang ia cantik, yang sekarang entah mengapa jadi sedikit meragukan. Tanpa sadar ia mengusapkan jemarinya ke rambutnya yang terurai, mendekatkannya ke hidung dan mencium harumnya yang mirip mawar. Ibu jarinya bergerak mengelus bibir, lalu dagu... ada tahi lalat kecil di garis wajahnya yang tak terlihat, namun dirasakannya tak ada yang salah dari itu semua.
Ia menghela nafas, mengerjap dan menolehkan kepalanya ketika sesuatu yang menyilaukan mampir di pandangan. Mendapati seorang gadis berpenampilan aneh masuk-masuk berkata frontal. Orateli Dior memang dikenal punya ketertarikan berlebih terhadap lelaki, namun baru Charlotte tahu omongannya secablak ini. Charlotte tersenyum masam menanggapi perkataan si gadis-pink tentang tinggal-serumah-tanpa-ikatan-akan-jauh-lebih-menyenangkan, mendelik-delik saja ketika gadis itu melanjutkan. Ia tak terlalu berminat dengan sarannya untuk menyingkap sedikit pakaian, ngomong-ngomong, dan pertanyaan tentang seberapa jauh... kelakuannya melonggar-longgarkan baju seperti itu benar-benar membuat kedua lengkung alisnya terangkat sempurna menahan heran.
Karena baginya cinta itu murni; cinta
nya bukan untuk main-main.
Dan juga untuk dipermainkan. Ia butuh kesetiaan, ia butuh pengorbanan. Ia menginginkan seseorang yang akan melakukan apapun untuknya—cukup satu—dan ia akan melakukan apapun untuk orang itu dalam batas-batas yang ia tentukan sendiri. Katakan ia egois, karena memang itulah dirinya. Kau mau protes, hm?
Bangau Tongtong, Elang Bondol, dan anak ayam membuatnya jengah. Mengabaikan saja ditambah karena ia memang tidak punya pacar. Kata-kata Proust lebih membuatnya respek. Bukan karena pemilihan katanya yang terdengar menyindir, tapi artinya... yang
mungkin saja ia pahami. Seulas senyum terkembang di bibirnya yang merah muda, lebih ke miris, sedikit simpul.
"Apa itu berarti kita tak boleh mencari sesuai yang kita inginkan? Bagaimana jika yang menurutmu cocok malah tak ada?"
Dan kau terlalu keras kepala untuk mencari seorang yang lain. Kepalanya masih tersandar di batang pohon, namun matanya tanpa cela ke arah Proust.