Sabtu, 30 Januari 2010 07.38
Chit Chat / III
Tapi bukan berarti ia tak lagi suka lelaki. Meski ia tahu sikap malu-malu dan pura-pura-tersipu-nya tadi benar-benar menjijikkan, rasa-rasanya orientasi seksualnya masih belum melenceng terhadap makhluk-makhluk berkromosom XY. Memang, tak ada satupun lelaki yang sejauh ini disukainya secara personal; tapi
belum bukan berarti
tidak kan? Heh, Charlotte masih normal senormal yang bisa kau bayangkan, jangan menuduhnya menyukai sesama, dan dia juga bukan seorang frigid.
Tidak percaya?
Mengalihkan perhatian sejenak pada gumpalan-gumpalan altokumulus yang melata dengan lambat jauh di langit, matanya yang menyipit kecil mengerjap-ngerjap cepat kesilauan cahaya matahari. Setelah sedikit tentang Profesor Bloomberg naik sebagai topik pembicaraan, diskusi kecil mereka tanpa ia sadari menyempit jadi siapa-jodoh-yang-cocok-untuk-ia-jadikan-pacar. Omongan-omongan mereka jadi sedikit sensitif yang menyentil-nyentil, membicarakan banyak orang seolah orang-orang itu takkan datang begitu saja dan memergoki mereka sedang bergosip. Mereka membicarakan Czechkinsky, lalu Luitgard, Singh, Zeelweger, Thanatos, Walther, bahkan Bradley. Devindra sepertinya hampir menyerah akan kenaifannya yang menyebalkan, dan Proust bilang ia seperti mendekati adik sendiri.
Uh huh.
Mau tak mau ia manggut-manggut tanda setuju. Meski ia akui Bradley tak jelek-jelek amat untuk digandeng, membayangkan memacari seseorang yang sudah kau anggap adik sendiri bukanlah sesuatu yang cukup bermoral. Lagipula, siapa yang tak ingat kalau ia sudah beberapa kali mempermainkan bocah itu? Bradley Crook pasti diam-diam membencinya. Alih-alih orang seperti Charlotte, ia yakin Bradley lebih membutuhkan seorang gadis kecil lemah lembut yang bisa ia genggam tangannya dan lindungi ke mana-mana. Menonjolkan perannya sebagai seorang pelindung; seseorang yang bisa kau pakai untuk tempatmu bersandar. Bocah itu pasti senang merasa dibutuhkan.
Melengkungkan senyum kecil, Charlotte akui pembahasan tentang 'pacar' selamanya tak pernah bisa ia ikuti dengan baik. Mungkin ia masih kecil, atau tuntutannya yang terlampau banyak membuatnya sulit menjangkau seseorang. Ditambah kesannya yang buruk di mata orang-orang... kau pikir siapa sih yang ingin terlihat bersama Charlotte? Orang-orang memandangnya sebelah mata, Slytherin menganggapnya biang keladi kekalahan pertandingan Quidditch terakhir mereka, dan Tequilla Sirius memperlakukannya bagai seorang budak belian. Mungkin ia memang harus berhenti mencari? Seperti kata Proust... mungkin mereka akan datang jika waktunya tiba.
Manusia itu datang dan pergi, Charlotte... seperti hembusan angin, seperti rintik hujan...
Pfft..."Yeah..." ujarnya, menyandarkan kepala ke belakang dan meluruskan kedua kaki yang berselonjor. Ia memainkan jemarinya di pangkuan, "Mungkin di umur dualima, seseorang akan melamarku sungguh-sungguh?"
Dua puluh lima? Umur yang bagus, Charlotte.