Sabtu, 30 Januari 2010 07.37
Chit Chat / I
Iya, manusia itu berubah—semua orang juga tahu. Sebagai efek dari sosialisasi; hasil dari interaksi; hal-hal yang yang diakibatkan ketika kau bersinggungan dengan sesuatu atau seseorang yang membuat sedikit atau sebagian dari dirimu berubah, yang biasanya senada dengan hal-hal atau orang-orang yang kau singgung itu. Biasanya perubahan itu tak tersadari, terjadi begitu saja tanpa kau tahu muncul dan merasuknya kapan. Tahu-tahu kau sudah melakukan banyak hal dan pribadi masa kecilmu hilang sedikit demi sedikit, tergantikan oleh pribadi lain—dalam kasus ini khas gadis-gadis remaja yang mulai mempermasalahkan banyak hal yang sebenarnya tak penting, macam apa bulu matamu cukup lentik untuk mengedip atau si anu memperhatikanmu balik atau tidak.
Pertanyaannya, sejak kapan Charlotte punya waktu luang untuk berkumpul bersama—katakanlah—
teman-temannya, tapi kini lihat apa yang sedang ia lakukan di halaman bersama gadis-gadis yang notabene satu sampai tiga tahun di atasnya.
Girl's talk.
Menutup mulut memperhatikan di antara Proust, Devindra dan Pavarell di bawah rindang salah satu Beech di halaman, Charlotte Demelza Ryan merasakan ada rona yang menjalari pipinya yang sewarna pucat. Ia tak berani berkomentar. Sadar ia yang paling muda di sini dan apa-apa yang mereka bicarakan sejak tadi begitu di luar nalar gadis remajanya—kau pikir apa yang bisa ia katakan agar tak terdengar sebagai si-nona-yang-sok-tahu?
Satu 'tips' dari Devindra lalu beberapa alasan dan kisah dari Proust dan Pavarell. Charlotte sedikit tersentak ketika Devindra menyisipkan namanya di depan pertanyaan.
“Well, Ryan... why do you wanna have a boyfriend while you can play around, by the way?”Ehem, bukannya ia takut. Jangan bilang ia sok suci dengan diamnya yang malu-malu. Hanya saja... baru kali ini hal-hal pribadi macam kehidupan romansanya disentil-sentil—dan
ouch, itu 'mengena' langsung ke hati, tahu?
Aku hanya ingin punya seseorang untuk berbagi, salahkah? "Aku tak begitu ingin punya pacar kok," Dusta?
Mungkin. "Lagipula semua laki-laki menyebalkan. Tak ada yang menarik," lanjutnya, senyumnya terkulum kecil.